
Elvan menatap kepergian Helen dengan sendu. Tapi tak apa, ia pantas mendapat perlakuan seperti itu. Semua yang ia lakukan dulu lebih menyakitkan untuk Helen. Elvan masih bersyukur karena Helen masih mau tinggal bersamanya.
Elvan ikut keluar. Memperhatikan kemana Helen pergi. Mendapati istrinya pergi ke rumah lelaki lain membuat Elvan marah. Tangannya terkepal kuat dan rahangnya seketika mengeras. Dengan mata tajamnya yang menusuk, Elvan memperhatikan Helen dan Daniel yang menaiki mobil lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah.
“Aku gak akan biarin kamu dekat-dekat sama sih bren*sek itu.” Desis Elvan tajam.
Elvan memotong cabai dan bawang dengan santai. Pagi ini Helen tidak memasak sarapan membuat dirinya harus kelaparan dan memasak mie instan. Sudah jadi hal biasa Helen pergi meninggalkan rumah tanpa menyiapkan makanan seperti ini. Harum mie kuah menyeruak memenuhi penciuman Elvan. Ukuran seorang pria, Elvan cukup pandai dalam hal memasak. Bukan hanya memasak mie instan, ia juga bisa memasak beberapa menu lainnya. Khususnya masakan rumah, seperti sambal dan tumis. Dari dulu Elvan sudah biasa tidak tinggal bersama orang tuanya. Hal itu membuatnya harus pandai memasak jika sewaktu-waktu ia tidak berselera dengan makanan di luar.
Setelah menyajikan mie di dalam mangkok, Elvan langsung menyantapnya dengan sepiring nasi. Untuk yang kesekian kalinya, ia sarapan seorang diri, tanpa ada Helen yang menemani. Sembari menyantap sarapannya, elvan menerawang jauh. Mengingat kembali bagaimana sikap Helen yang tak ingin mereka makan bersama, seperti kejadian dua hari yang lalu.
“Ngapain kesini?” Tanpa mengangkat kepalanya, Helen berujar sambal menikmati sarapannya.
Elvan yang baru saja memasuki dapur langsung mengulum bibirnya yang semula menampakkan senyum manis. Ia pikir Helen akan mengajaknya sarapan bersama pagi itu.
“Sarapan lah, ngapain lagi?” jawab Elvan seenaknya. Dirinya sudah cukup senang melihat Helen mau makan di meja makan dan tidak pergi ke taman untuk menikmati makanannya.
Helen mengedikkan bahunya acuh menanggapi ucapan Elvan.
“Pagi ini kita sarapan apa?” tanya Elvan semangat.
“Kita? Gue aja kali, lo nggak. Gue cuma masak sarapan untuk gue sendiri.” Ujar Helen tanpa dosa.
Mendengar itu Elvan langsung terpelongo. Yang benar saja Helen hanya memasak sarapan satu porsi? Ck! Ternyata Helen masih marah dengannya.
__ADS_1
“Jadi aku makan apa?” Elvan berujar lemas. Jika dibiarkan begini bisa-bisa ia akan kurus kering. Alamat sudah tubuh kekarnya yang selalu didambakan para wanita. Terutama Helen, eit! Itu dulu.
“Di luar banyak rumput, makan aja.” Jawab Helen cuek.
“Masa iya aku ganteng-ganteng gini disuruh makan rumput. Kalo makan kamu sih aku mau.” Elvan berniat menggoda Helen dan ingin mencairkan suasana.namun, harapannya langsung putus karena Helen tidak menjawab apapun. Gadis itu malah asik dengan sarapannya yang sudah tinggal sedikit.
“Aku masak sendirian aja deh.” Akhirnya Elvan memasak sarapannya sendiri sambal sesekali menatap Helen yang mengacuhkannya.
“Kamu kenapa gak masakin aku?” Elvan yang berdiri di depan kompor memutar kepalanya demi melihat wajah Helen.
“Sengaja. Biar kamu gak makan disini sama aku.”
What the …
Elvan menggeleng-geleng tak percaya.
“Ogah! Kamu bukan siapa-siapa aku, jadi ngapain juga aku repot-repot masakin kamu.” Ucap Helen pedas.
“Aku suamimu kalau kamu lupa.” Tegas Elvan lalu meletakkan masakannya yang sudah jadi di atas meja.
“Kamu? Suami aku? Hahaha mimpi kali kamu! Aku gak bakalan sudi punya suami kayak kamu. Suami kok ngurusin perempuan lain, kan gak punya otak banget tuh.” Helen berdiri saat melihat Elvan menarik kursi makan di depannya.
“Terserah kamu mau bilang aku apa. Yang pasti aku gak akan nyerah sampai kamu mau maafin aku dan kita hidup bahagia.” Jelas Elvan menatap.
__ADS_1
“BAWEL!” ucap Helen lalu pergi meninggalkan Elvan yang menatapnya sendu.
Tanpa terasa mie instan yang tadinya berisi penuh di dalam mangkok, kini sudah kandas dan masuk ke dalam perut Elvan. Pikiran Elvan kembali tertarik dan langsung mengingat Helen yang kini sedang bersama Daniel.
Elvan dengan cepat memersihkan pring dan mangkok kotornya lalu bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian. Ia akan mencari Helen dan Daniel. Kalau perlu ia juga akan menguntit kemana pun dua orang itu pergi.
Helen dan Daniel sedang melintasi jalanan kota Jakarta. Mereka baru saja keluar dari kedai yang menyiadakan segala menu sarapan pagi.
Daniel mengumpat pelan sembari menatap jalanan di depannya. Beberapa saat yang lalu, Pak Bill menelepon dan menyuruhnya untuk datang ke kantor saat ini juga. Dan hal itu langsung menghancurkan suasana hati Daniel yang sedang berbahagia. Pria tua itu selalu saja mengusik kesenangannya.
“Kita ke kantor aku dulu gak apa-apa kan? Kayaknya disana lagi ada masalah.” Daniel melirik Helen yang duduk di sampingnya.
Helen mengulum senyum tipis lalu mengangguk. Melihat senyum itu, jantung Daniel rasanya ingin copot dari tempatnya. Senyum Helen saja mampu membalikkan suasana hatinya, apalagi orangnya.
Daniel kembali menatap ke depan lalu mencerna perkataan Pak Bill tadi.
“Jangan bawa Helen bersama mu. Daddy tidak ingin gadis itu kamu bawa kesini. Tinggalkan saja dia disana.”
Perkataan Pak Bill tadi membuat Daniel heran sendiri. Dari semua perkataan Daddynya tagi ada tiga hal yang ingin ia pertanyakan.
Mengapa pria tua itu tau jika ia sedang bersama Helen?
Lalu, mengapa pria itu meralarangnya membawa Helen?
__ADS_1
Daniel akan mencari tahu jawaban dari pertanyaan itu nanti. Saat ini ia hanya ingin bersenang-senang dan menghabiskan waktunya bersama gadis yang ia cintai.
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terima kasih