My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 15


__ADS_3

Selamat Membaca!!


Setelah mendengar penuturan Miranda, Helen langsung mengalihkan pandangannya dari Elvan.


"Iya deh Ma. Kalau mama dan tante maunya seperti itu Helen ngikut aja." Ujar Helen sambil tersenyum simpul melihat keduanya. Sandra dan Miranda ikut tersenyum mendengar persetujuan Helen.


Sandra merasa bersyukur putrinya sudah bisa menerima perjodohan ini. Batinnya terus berdoa semoga Helen bahagia dengan pernikahan tersebut.


"Jadi, Helen pilih yang mana?" Tanya Miranda.


"Yang ini aja tan." Jawab Helen sembari menyerahkan undangan yang berwarna gold. Miranda dan Sandra setuju dengan pilihan Helen.


Mereka membahas banyak hal mengenai pernikahan putra putri mereka yang akan berlangsung tidak lama lagi. Hingga akhirnya Bima datang menghampiri Miranda.


"Hon, pulang yuk." Suara Bima menghentikan percakapan tiga wanita yang sedang mengobrol.


"Oh ayo Dad." Angguk Miranda.


"Ya sudah San. Kami pulang dulu ya, gak terasa udah larut malam aja." Pamit Miranda pada Sandra.


"Tante pulang dulu ya cantik. Kamu jaga kesehatan, jangan sampai sakit di hari-H nanti." Ucap Miranda sambil mengelus rambut Helen.


Helen tersenyum.


"Iya, Tante." Jawabnya.


Setelah berpamitan, keluarga Bramantyo pergi meninggalkan lingkungan keluarga Ditya.


Helen melangkah menuju kamarnya. Ia ingat betul bagaimana tadi Elvan menatapnya sebelum keluar dari rumah. Tatapan datar dan dingin Elvan perlihatkan untuknya, hanya untuknya.


Jika didepan orang tua mereka maka Elvan akan bersikap baik tetapi jika tidak, Elvan seakan menganggap Helen bagaikan musuh bebuyutan.


Sesampainya di kamar, Helen langsung berbaring di ranjang nya. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar, sehingga tidak butuh waktu lama ia sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


*******


***


Di lain tempat,


Sesampainya di mansion, Elvan langsung melesat menuju kamarnya. Ia mengambil kunci mobil yang terletak diatas meja dan pergi lagi mengendarai mobilnya.


Elvan melangkahkan kakinya memasuki club malam. Seorang satpam penjaga pintu menyapanya dengan ramah. Menandakan kalau ia dikenal atau sering ke tempat itu. Elvan duduk di kursi sudut, menjauh dari keramaian orang-orang yang sedang meliukkan tubuh mereka tak beraturan.


Elvan meneguk segelas minuman yang baru saja dituangnya hingga kandas. Entah apa yang ia lakukan di tempat itu. Sedari tadi ia hanya memperhatikan orang-orang yang sudah tidak sadar dengan pandangan yang sulit diartikan. Malam kian larut, namun Elvan masih di posisinya semula. Matanya memerah, rambutnya yang tadi tertata rapi sekarang berantakan karena ulahnya. Sesekali kepalanya terhantuk ke depan dan sesekali pula ia tersenyum lalu menunjukkan ekspresi sedih. Pikirannya berkecamuk membuat kepalanya terasa sakit. Ia sedang memikirkan seseorang. Tidak, bukan Helen yang ada dipikirannya. Melainkan seorang wanita yang dulu selalu ada untuknya selama bertahun-tahun.


"Kapan?"


"Kapan kamu akan kembali?" Ucap Elvan tidak jelas. Ia seolah bertanya pada orang itu. Namun, hingga ratusan kali pun ia bertanya sebuah jawaban tidak akan pernah ia dapatkan.


Seorang pria menghampiri Elvan yang tidak lain adalah Virgo.


"Heh, Be*o!" Sergah Virgo pada Elvan.


Elvan mendongak.


Cahaya yang minim membuat Elvan mempertajam penglihatannya melihat seseorang yang berdiri di depannya.


"Ehh Virgo, hehe." Sapa Elvan sambil terkekeh saat melihat Virgo lah orangnya.


"Sini, duduk disamping gue." Ajak Elvan sambil menepuk-nepuk kursi kosong di kursinya. Matanya setengah terbuka menatap Virgo.


Virgo mengusap alisnya yang tidak gatal.


"Ya Tuhan, ini udah larut malam tapi kenapa engkau masih memberi hamba mu ini pekerjaan yang sulit." Lirih Virgo frustasi. Ia memutuskan untuk duduk di samping Elvan.


"Lo kenapa lagi sih?" Tanya Virgo muak. Ia sangat sering mendapati Elvan yang berakhir di meja bar seperti ini.

__ADS_1


"Rindu." Lirih Elvan.


"Lo rindu sama gue? Nih gue udah datang, rela-rela gue kurangin jam tidur buat lo doang." Virgo berujar sambil mengacak rambutnya.


Elvan menggeleng lemah.


"Gue rindu sama dia." Lirih Elvan.


"Dia lagi... dia lagi..." Ucap Virgo muak.


"Lo bodoh banget sih! Sampai mau mabuk-mabukan kayak gini hanya karena wanita itu!" Ucap Virgo.


"Lo udah gak waras El." Sambungnya.


"Gue cinta sama dia, Virgo." Ucap Elvan di sisa kesadarannya.


"Bok*ng lo tuh cinta. Gak ada cinta-cintaan sekarang. Lo itu harusnya sadar, dia udah berulang kali nyakitin perasaan lo dan sekarang dia hilang begitu aja bagaikan di telan bumi. Seharusnya lo senang, gak akan ada lagi yang ngelukai perasaan lo." Nasihat Virgo panjang lebar bercampur emosi.


Mungkin ini sudah nasihat Virgo untuk kesekian kalinya, tapi Elvan tidak pernah sekalipun menggubris perkataannya. Namun, Virgo tak akan berhenti. Ia akan tetap menyadarkan sahabatnya itu hingga benar-benar sadar walaupun ia sendiri tidak tau kapan hari itu akan tiba.


Huueekk...


Elvan memegang perutnya yang sakit sambil memuntahkan cairan di mulutnya.


"Aiiissh, jorok banget sih lo!" Virgo menepuk-nepuk kemejanya yang hampir terkena muntahan Elvan.


"Udah tau lo itu gak tahan minum-minuman kayak gini, tapi masih aja diminum. Lo udah bosan hidup? Mau mati muda, hah?" Omel Virgo.


Virgo menuntun Elvan yang sempoyongan menuju mobil. Ia mengantarkan Elvan hingga sampai ke kamar pria itu. Elvan yang kesadarannya semakin menipis hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Virgo padanya. Terakhir kali yang dilihatnya ialah Virgo yang berlalu meninggalkannya dan menghilang di balik pintu kamar nya.


~BERSAMBUNG~


Kira-kira siapa ya perempuan itu??? Jangan lupa ya di like, komen, dan beri vote ya teman-teman.

__ADS_1


Thank you


__ADS_2