My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 50


__ADS_3

Helen terperanjat saat Elvan menyentakkan tangannya dan mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas ranjang. Perlakuan kasar yang tiba-tiba membuat Helen merasa pusing. Ia meringis merasa sakit pada tubuhnya, namun hatinya jauh lebih sakit saat menerima perlakuan kasar Elvan.


"Apa lo bilang? Lo berani bilang dia wanita si*lan! Asal lo tau, dia lebih baik ketimbang diri lo yang belagak kuat ini!" Bentak Elvan lalu menaiki tubuh Helen dan bertumpu pada kedua sikunya yang berada disamping kepala Helen.


"Oh ya?" Tanya Helen menantang. Tangisannya kembali berhenti hanya menyisakan giliran air mata yang terus keluar walaupun sudah ia tahan sebisa mungkin.


"Siapa yang tau kalau dia wanita yang lebih baik dari gue? Elo? Cihh, yang kita sama-sama tau dia itu wanita yang beruntung dibandingin gue." Jeda Helen.


"Dia beruntung karna bisa lepas dari baj*ngan kayak lo! Baj*ngan yang gak bisa ngehargain wanita sedikit pun!" Bentak Helen tepat di depan wajah Elvan.


Emosi Elvan telah mencapai puncaknya. Jiwa iblis di dalam dirinya kembali keluar seperti setahun yang lalu.


Plakk...


Suara tamparan yang cukup keras memenuhi ruangan tersebut membuat seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu kamar itu terlonjak. Miranda membekap mulutnya menahan jeritan yang ingin keluar melihat perlakuan putranya.


Plakk..


Sekali lagi. Helen merasakan panas, perih dan sakit pada wajahnya. Kedua sisi pipinya telah menjadi santapan, telapak tangan Elvan.


"Hempphhh.." Helen tersentak saat Elvan tiba-tiba saja membekap mulutnya dengan bi*ir pria itu.


Elvan menc*umnya dengan kasar. Hatinya tergores mendapat perlakuan Elvan yang keji. Ia ingin menc*umnya, tapi bukan ci*man seperti ini yang ia inginkan. Ci*man ini sungguh menyakiti dirinya.


Elvan memekakkan telinganya saat mendengar Helen yang meringis di bawahnya. Ia tidak peduli jika gadis itu tersakiti karena perbuatannya. Yang jelas ia akan tetap menghukum bi*ir gadis itu karena telah mengatai dirinya baji*gan.


"Elvan!" Suara bentakan Miranda terdengar bersamaan dengan tubuh Elvan yang terjungkal ke belakang.


"Apa-apaan kamu!" Bentak Miranda pada Elvan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Mom-mommy." Lirih Helen saat sudah mendudukkan dirinya di atas ranjang.

__ADS_1


Plakk..


Miranda menampar pipi kiri Elvan. Tubuh Elvan tidak bergerak sedikit pun saat menerima tamparan itu.


Plakk..


Miranda menampar kuat pipi kanan Elvan.


"Tega kamu ya." Lirih Miranda bersamaan dengan air matanya yang mulai keluar.


"Mom, udah Mom." Helen berusaha menenangkan Miranda.


"Tega kamu ngelakuin ini semua sama istri kamu, tega kamu ngeliat dia nangis di hadapan kamu dan lebih parahnya lagi..." Miranda menarik nafas dalam.


"Kamu yang udah buat dia nangis kayak gini!" Bentak Miranda sambil menunjuk Helen yang sedang terisak.


"Mommy gak pernah mendidik kamu jadi orang yang kasar. Mommy selalu nasehati kamu untuk selalu menghargai wanita, tapi apa yang Mommy liat? Kamu sedikit pun tidak mengindahkan perkataan Mommy." Miranda menatap sedih menantunya yang terduduk lemas.


"Mommy tanya sama kamu, pernah kamu liat Daddy kamu ngelakuin hal sekasar ini sama Mommy?" Tanya Miranda dengan suara yang bergetar.


"Gimana perasaan kamu kalau seandainya Daddy kamu ngelakuin hal kaya gini sama Mommy? Sakit bukan!" Teriak Miranda.


Elvan diam, bahu kokohnya terlihat bergetar.


"Jawab, Mommy!" Bentak Miranda lagi.


Elvan menganggukan kepalanya cepat. Hatinya sakit saat melihat Mommynya menangis seperti ini, dan hal itu karena dirinya. Ia telah melukai perasaan Mommynya.


"Maaf Mom." Suara Elvan terdengar tercekat.


"Bodoh! Jangan minta maaf sama Mommy, tapi minta maaf sama istri kamu. Karna Mommy gak akan memaafkan kamu sebelum kamu menyesali perbuatan mu." Jeda Miranda.

__ADS_1


"Mommy kecewa sama kamu." Lirihnya lalu menaiki ranjang dan memeluk tubuh menantunya.


Elvan menatap sedih punggung Mommynya yang terisak bersama Helen dengan posisi saling berpelukan.


Gue salah, Elvan membatin.


"Maaf." Ujar Elvan pelan lalu beranjak meninggalkan kedua wanita yang tengah menangis terisak.


Saat itulah untuknya pertama kalinya Elvan melihat Helen menangis terisak di dalam kamar mereka. Dan hal itu, membuat Elvan menerima semburan amarah dari Mommynya sendiri.


Elvan yang saat itu menyaksikan Mommy dan istrinya menangis, hanya bisa bungkam karena telah menyakiti kedua wanita itu. Yang satu adalah wanita yang sangat ia sayangi dan selalu ia patuhi dan yang satu lagi adalah istri yang sangat ia benci. Elvan tidak mengerti dengan perasaannya, yang jelas ia hanya akan mengikuti waktu dan mengikuti permainan Tuhan.


Elvan membuka matanya dan memmperbaiki posisi duduknya.


"Lo ngerjain apa?" Tanya Elvan saat melihat Helen kembali memangku laptopnya.


"Hem? Oh ini, cuma beberapa tugas kantor." Jawab Helen sambil menatap Elvan sekilas.


"Kamu kok tumben pulangnya cepat?" Tanya Helen tanpa mengalihkan pandangannya.


"Mommy yang nyuruh." Elvan menatap Helen intens.


"Oh.." Suara Helen terdengar lesu.


"Kami gak mandi? Bau tau." Ujar Helen mengalihkan pembicaraan.


"Masa sih?" Elvan mencium lengan bajunya memastikan perkataan Helen.


"He'em." Dehem Helen.


"Lo juga." Dari sarkas Elvan lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Senyum manis terukir di bibir ranum Helen saat melihat punggung elvan yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Bersambung...


__ADS_2