
Tepat pukul 17:00 WIB, Elvan keluar dari ruangannya dan menghampiri Virgo yang sedang berkutat dengan komputer di depannya.
"Lo belum pulang?, gue duluan ya." Suara Elvan yang tiba-tiba membuat Virgo sedikit tersentak kaget.
"Huh, ngagetin aja lo. Ya udah sana pulang, tapi nanti malam jadikan?" Tanya Virgo.
"Yoi, jemput gua." Balas Elvan yang sudah mengerti maksud dari pertanyaan Virgo. Virgo mengacungkan kedua jempol nya sambil menampakkan deretan gigi putihnya menyetujui perkataan Elvan.
Elvan melangkahkan kakinya menuju basement dan mulai mengendarai mobilnya hendak pulang. Beberapa menit kemudian Elvan sudah sampai di mansion keluarganya.
"Assalamu'alaikum." Salam Elvan.
"Wa'alaikumsalam." Suara mama Elvan, Miranda. Terdengar dari dalam. Miranda menyambut Elvan dengan senyum manisnya. Putra kesayangannya yang baru pulang terlihat sangat berantakan. Kancing baju paling atas yang sudah terbuka, dasi sudah longgar dan lengan bajunya yang sudah ditarik hingga ke siku. Namun, hal itu tidak mengurangi ketampanan Elvan.
"Kamu di kantor ngapain aja sih? Latihan gulat? Kusut begitu bajumu." Ucap Miranda.
Elvan mengedikkan bahunya asal. Lalu Miranda menyerahkan segelas teh hijau.
"Ini minum dulu." Ujar Miranda lembut.
"Sudah berapa kali Mommy bilang, kamu itu gak perlu bekerja sekeras ini. Atur waktu mu dengan baik, jangan gila-gilaan sama kerjaan mulu." Ucap Miranda menasehati putranya.
__ADS_1
"Jangan jadikan pekerjaan sebagai pelampiasan amarahmu." Sambungnya.
Elvan meneguk teh yang di buatkan Mommynya dengan santai. Perkataan Miranda membuatnya tidak dapat berkata-kata. Miranda sudah berulang kali menasehati Elvan agar dapat mengatur waktunya dengan baik.
"Mommy mau ngomongin apa? Kenapa tadi pagi sampai suruh Elvan pulang?" Ucap Elvan yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Elvan, kamu udah pulang Nak?" Ucap Daddy nya Elvan, Bima.
"Sudah Dad." Jawab Elvan singkat.
Bima menghampiri mereka yang duduk di sofa empuk lalu ia duduk di samping istrinya itu.
"Dad, mungkin sudah saatnya kita memberitahu Elvan." Ujar Miranda menatap suaminya. Bima mengangguk.
"Mommy akan menikahkan kamu dengan gadis pilihan Mommy." Ucap Miranda sambil menatap putranya serius.
Elvan terdiam sejenak.
"Enggak Mom, Elvan gak bisa." Tolak Elvan.
Miranda menatap suaminya. Seakan mengerti maksud istrinya, Bima memberi penjelasan kepada putra mereka.
__ADS_1
"Harus Elvan. Kami tidak bertanya kamu setuju atau tidak. Mommy dan Daddy sudah membuat keputusan yang tepat untuk hidupmu. Gadis yang akan kami nikah kan denganmu akan membuatmu sadar betapa berharganya waktu, bahkan satu detik pun. Kami tidak mau lagi melihat kehidupanmu yang berantakan seperti ini." Ucap Bima dengan serius.
"Maksudnya apa sih Dad? Elvan gak bisa menerima pernikahan ini begitu saja." Ucap Elvan menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Kamu akan bahagia dengan gadis pilihan Mommy, sebenarnya rencana ini sudah lama kami rencanakan, sangat lama, bahkan sebelum kamu ada di dunia ini, wanita yang akan dijodohkan denganmu adalah anak dari sahabat kami saat kuliah. Mommy harap kamu siap dengan semua ini. Besok kita akan pergi ke rumah sahabat Mommy itu untuk mengenalkan kamu dengan putrinya.” Tegas Miranda.
“Terserah kalian saja.” Kesal Elvan.
“Nanti malam Elvan pergi sama Virgo ke acara ulang tahun temannya.” Elvan bingung harus berkata apa. Keputusan yang baru saja didengarnya tidak dapat dicerna dengan baik. Bagaimana bisa ia menikah sekarang, sementara dia sedang menunggu kehadiran seseorang.
"Ya sudah, tapi pulangnya jangan sampai larut malam.” Tepukan Bima di pundak Elvan menyadarkan kembali kesadarannya yang sempat terenggut beberapa detik lalu.
“Iya Dad.” Elvan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang telihat bahagia.
“Hidupku akan jadi berantakan.” Lirihnya sambil membuka pintu kamar.
Aroma maskulin langsung tercium saat ia memasuki kamar itu. Paduan warna hitam dan putih dapat menyatakan kalau pemilik kamar itu adalah seorang pria.
Elvan mengambil gitar yang terletak di sudut kamar dan membawanya ke balkon. Suara petikan gitar terdengar indah mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Bermain gitar dan bernyanyi selalu ia lakukan jika sedang banyak pikiran yang membuatnya menjadi penat. Elvan sudah menyanyikan empat lagu dan itu sudah mampu mengurangi rasa penat di kepalanya.
Malam harinya, Elvan dan Virgo pergi menuju birthday party teman Virgo. Saat perjalanan, Elvan lebih banyak melamun. Pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal yang terjadi di hidupnya secara tiba-tiba. Mungkin benar kata Virgo saat menjemput Elvan tadi. Party ini mungkin akan bisa menghilangkan rasa penat yang mereka rasakan. Kerjaan yang menumpuk seakan tak ada hentinya membuat dua orang itu sejoli tidak dapat refreshing untuk menjernihkan pikiran mereka di akhir pekan.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~