My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 85


__ADS_3

Dengan perasaan jengkel yang amat besar, Elvan meraih sup buatannya itu dengan tidak ikhlas.


Helen tersenyum geli melihat wajah ditekuk suaminya itu.


"Aaaa.." Helen membuka mulutnya lebar meminta Elvan agar segera memberinya suapan pertama.


"Enak. Kamu pinter masak juga ya, belajar sama siapa? Mommy?".


Elvan mematung sesaat. Pertanyaan itu membuatnya sensitif. Sedetik kemudian ia menggeleng kaku sambil menerawang jauh.


"Kalau bukan Mommy, jadi siapa? Kamu ikut kursus masak?" Tanya Helen pelan.


"Nggak."


"Jadi?" Tanya Helen penasaran. Kali ini sedikit mendesak.


"Belajar sama Alexa." Jawabnya singkat. Namun mampu mencubit perasaan Helen. Seketika raut wajahnya berubah sendu. Nama itu, Helen sangat tau siapa pemilik nama itu bagi Elvan.


Tidak. Ia tidak boleh kalah dengan wanita bernama Alexa itu, ia harus bisa menyingkirkan peran Alexa bagi hidup Elvan. Semenit kemudian, Helen kembali menampilkan wajah senyum dan cerianya di balik rasa perih yang ia rasakan. Sampai kapan ia harus seperti ini? Berpura-pura tegar namun nyatanya lemah.


"Hubby, kamu duduk di sini dong, di samping aku." Ucap Helen sembari menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

__ADS_1


Elvan menghembuskan nafas pelan berusaha menahan dirinya agar tidak mengeluarkan sumpah serapah yang akan lebih menyakiti perasaan gadis di depannya itu. Permintaan gadis itu terlalu banyak.


"Iya." Elvan berpindah ke atas ranjang dan duduk di samping istrinya itu.


Helen tersenyum lebar karena permintaannya kembali dituruti.


"Gitu dong. Kalau nyenengin istri itu pahala loh." Ujarnya sambil mendekatkan diri kepada Elvan.


“Menyenangkan suami juga dapat pahala.” Ketus Elvan karena kini istrinya itu sudah memeluk lengannya dengan erat.


“Itu aku juga tau. Kamu mau aku buat seneng? Oke, kamu mau apa? Mau aku peluk? Cium? Atau yang lain? Aku sesekali juga mau buat kamu seneng.” Ucap Helen dengan sumringah.


Cup


Elvan terkesikap saat tiba-tiba gadis itu mencium bibirnya. Sementara Helen, ekspresi wajahnya bercampur antara kesal dan senang.


“Jangan pakai lo-gue lagi. Harus berapa kali aku ingetin jangan pakai bahasa itu lagi, Sayang?”


Elvan bungkam seribu bahasa. Dirinya masih kaku jika bersentuhan dengan Helen. Tapi ia mulai ketagihan dengan benda lembut itu. Ck!


“Makan.” Ujarnya singkat lalu kembali memberikan suapan demi suapan hingga sup itu habis tak bersisa.

__ADS_1


Helen menyenderkan tubuhnya pada badan tegap Helen. Tangan Elvan yang sedari tadi berada dalam pelukannya sesekali ia usap lembut. Dan hal itu sukses membuat Elvan menahan nafasnya beberapa kali. Namanya juga laki-laki normal.


Bukannya tidak menyadari bagaimana ketegangan yang ada dalam diri Elvan, hanya saja Helen ingin menguji ketahanan suaminya itu. Sampai kapan ia akan bertahan dengan godaan yang selalu ia berikan. Helen semakin melanjutkan aksinya dengan menyandarkan tubuhnya di depan dada Elvan. Kini ia dapat merasakan nafas Elvan yang mengenai rambutnya.


Elvan merutuki dirinya yang tidak bisa beranjak dari tempatnya. Sebentar lagi mungkin pertahanannya akan runtuh jika ia tidak cepat-cepat pergi dari hadapan gadis itu.


“Ap aini bisa buat kamu seneng?” tanya Helen sambal mendongak menatap wajah Elvan yang berada di belakangnya.


Kau membuatku semakin tersiksa, Elvan hanya merutuk dalam hati. Mana mungkin ia mengaku jika dirinya sudah mulai kalah dari gadis dipangkuannya ini.


“Minggir, gue mau balikin mangkuk ini ke dapur.” Tekannya sambal menyingkirkan Helen dari atas pangkuannya lalu dengan cepat pergi dari kamar itu.


“HAHAHA..”


Seperginya Elvan, Helen tertawa keras walaupun tidak sekeras biasanya. Mungkin karena kondisinya yang masih belum pulih.


“Kita lihat saja, sampai kapan kamu akan bertahan suamiku? Aku gak akan biarin kamu terus-terusan ingat dengan kekasih sialanmu itu.” Tekan Helen dengan percaya diri.


Bersambung..


Jangan lupa di like dan komen ya guys.. Terima kasih💖

__ADS_1


__ADS_2