
Mobil sport yang dikemudi oleh Daniel tampak melaju membelah kepadatan kota Jakarta. Gedung-gedung pencakar tak luput dari perjalanan mereka. Para pengguna jalan dari bermacam generasi menjadi point penting untuk kepadatan kota itu. Daniel bersenandung kecil mengikuti irama musik yang berasal dari radio sambil sesekali ia mengetuk-ngetuk stir mobil. Tidak berapa lama kemudian, mobil itu tampak melambat dan berbelok memasuki salah satu gedung pencakar langit lalu berhenti di basement.
Daniel dan Helen turun dari mobil. Helen yang baru pertama kali datang ke perusahaan itu melihat-lihat menatap keseluruhan interior. Semuanya tampak cantik dan mewah. Mereka memasuki lobby dan tanpa bertanya kepada resepsionis, Daniel menarik Helen memasuki lift yang Helen yakin lift itu dikhususkan hanya untuk pemegang saham terbesar. Keluar dari lift, Daniel kembali menggandeng tangan Helen lalu membawanya memasuki sebuah ruangan yang bertulis CEO.
Di dalam sana sudah ada seorang pria paruh baya yang sedari tadi menunggu kedatangan putranya. Helen berhenti berjalan membuat Helen juga ikut berhenti dan berdiri di samping pria itu.
“Ehem.” Daniel berdehem, berusaha menarik perhatian daddynya yang sepertinya sedang melamun. Berhasil! Pria paruh baya itu langsung berbalik menghadap mereka. Dengan seksama Daniel dan Helen memperhatikan Daddynya. Pria itu tampak kaget melihat kehadiran Helen di dalam sana.
“Kenapa?” Daniel bertanya sambil melihat wajah daddynya.
Pak Bill berdehem pelan guna membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Kehadiran Helen cukup mengganggunya.
“Kita ada rapat 10 menit lagi. Kamu harus bersiap-siap.” Suara bass daddynya memenuhi ruangan.
“What? Bagaimana bisa? Kenapa baru memberitahuku sekarang.” Daniel sangat kesal kepada daddynya pasalnya pria itu memberi tahu hal yang Daniel tidak sukai di waktu yang tidak tepat. Walaupun begitu, bukan berarti Daniel akan mengabaikannya. Sebagai pemegang perusahaan baru, Daniel masih harus belajar banyak dari seniornya, siapa lagi kalau bukan Pak Bill, daddynya. Daddynya yang sangat ia benci karena sebuah alasan.
“Kamu yang dari tadi mengabaikan telpon daddy.” jawab Pak Bill.
Daniel mendengus mendengar penuturan tersebut.
Pak Bill melirik Helen yang berdir di samping putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Helen yang ditatap seperti itu pun merasa risih, hingga ia menundukkan kepalanya takut. Seingatnya, ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun dengan pria yang ia ketahui merupakan daddy Daniel itu. Mereka saja baru bertemu hari ini, tapi mengapa tatapan Pak Bill seakan menyiratkan sesuatu? Seperti kebencian, mungkin.
Helen merengkuh saat Daniel merengkuh bahunya. Sekilas, ia melirik Pak Bill yang sudah duduk di bangku kebesarannya sambil memandangnya lekat.
“Helen, gak papakan kalau kamu nunggu di ruangan ku dulu? Aku ada meeting untuk beberapa menit ke depan, selesai itu kita langsung jalan. Aku janji deh.” Helen tersenyum singkat sembari menyingkirkan tangan Daniel dari atas bahunya. Ia sedikit risih dengan itu.
“Iya, gak papa kok.” Daniel tersenyum bahagia.
__ADS_1
Melihat dua orang dihadapanya, Pak Bill seperti terpukul jauh di dalam hati kecilnya ia merasa miris melihat bagaimana Daniel menatap Helen dengan penuh tatapan memuja.
Kenapa kalian bisa bertemu lagi? Sebenarnya apa rencana Tuhan untuk kalian berdua? Pak Bill menundukkan pandangannya, mengingat kenangan masa lalu yang baru saja merasuki pikirannya.
“Kenapa Elvan membiarkan istrinya pergi dengan putraku?” tanyanya dari dalam hati.
Daniel dan Helen keluar dari ruangan itu beberapa menit yang lalu. Kini Helen sudah berada di ruangan Daniel. Pria itu pergi ke ruang rapat sekitar dua menit yang lalu dan ia harus rela menahan suntuk hingga Daniel kembali.
Helen mendudukan bokongnya di sofa yang ada di ruangan itu. Ruangan Daniel tampak rapi dengan beberapa lemari yang berisikan banyak buku. Helen mengedarkan pandanan ke setiap sudut ruanga. Tidak ada yang istimewa, ruangan Daniel sama saja dengan ruangan CEO lainnya. Ada lemari yang berisi banyak buku, meja kerja yang di atasnya terdapat tumpukan berkas-berkas penting, ada sofa dan dinding kaca besar yang memperlihatkan suasana luar.
15 menit
30 menit
1 jam
“Daniel lama banget sih.” Gerutu Helen sambil beranjak dari duduknya.
“Ini pintu apa ya?” Helen menatap sebuah pintu hitam yang berda di dalam ruangan itu. Karena rasa penasaran yang berlebihan, Helen mulai melangkah mendekati pintu tersebut.
“Gue buka gak apa-apa kan ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Tapi nanti kalo Daniel tiba-tiba datang gimana? Dikira gak sopan deh gue.”
"Ah gak papa deh. Kan gue cuma lihat aja gak ngapain-ngapain." Helen menekan handle pintu hingga pintu tersebut terbuka lebar. Helen langsung menganga melihat isi ruangan di depannya.
"Perpustakaan? Gue kira ruang rahasia, ternyata cuma perpustakaan mini." Helen langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Jadi Daniel suka baca ternyata." Helen mangut-mangut sambil membolak balik sebuah buku dan memperhatikan kiri kanannya.
Helen mengembalikan buku tersebut ke tempat semula.
Tak.
Helen yang tadinya ingin menarik satu buku tebal malah membuat buku di dekatnya jatuh. Melihat itu, ia lantas menunduk lalu memungut buku tersebut.
"Apaan nih? Buku diary?" Helen mengernyit menatap buku di tangannya.
"Ini punya Daniel? Kok warnanya biru?" Helen membolak balik sampul buku tersebut.
"Awal bertemu Daniel." Helen membuka lembaran pertama dan membaca judulnya. Isi tulisan tersebut habis memenuhi lembaran pertama. Helen tidak membaca isinya karena itu kan memakan waktu. Ia hanya membuka lembaran-lembaran berikutnya. Belum sampai di lembaran terakhir, Helen kembali membuka lembaran pertama. Jika diperhatikan, ia merasa tidak asing dengan tulisan tangan di buku itu.
"Ini pasti bukan punya Daniel." Helen menyimpulkan.
Helen kembali memperlihatkan tulisan tersebut. Dilihat dari judulnya, ia yakin jika ini diary seseorang yang dekat dengan Daniel. Tapi siapa?
Bersambung..
Hai semuanya.
Novel My Cold Husband is A CEO akan ku posting lagi tapi apakah kalian masih tertarik dengan novel ini karena juga mengingat novel My Cold Husband is A CEO sudah lama sekali tidak pernah di posting kan, takutnya kalian juga sudah lupa jalan ceritanya.
Maaf ya novel My Cold Husband is A CEO baru bisa di publish lagi karna Author juga baru selesai sidang skripsi.
Mohon pendapat nya ya teman-teman semua. Terima kasih🙏❤
__ADS_1