
Helen menyeka keringatnya yang jatuh melewati pelipis, begitu pun dengan Ella. Rambut keduanya sudah tampak berantakan. Tidak sedikit pasang mata melihat aneh ke arah mereka. Helen acuh akan hal itu, yang penting baginya sekarang ia harus mengaliri tenggorokannya yang terasa kering dengan air.
"****!" Umpat Ella saat melihat bajunya sudah basah oleh keringat. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kosongnya. Ella menatap tajam para lelaki yang mencoba menggodanya dengan tatapan yang menjijikkan.
Helen mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya yang terasa sangat asing. Ia berusaha menetralkan deru nafasnya dengan menarik lalu mengeluarkan nafas secara perlahan.
Tidak ada yang ia kenal. Saat ini, itulah kata yang pantas diucapkan saat ia melihat tidak satu pun dari penduduk di tempat itu yang ia kenal. Helen mendesah frustasi. Jika seperti ini, dimana ia dan Ella akan meminta bantuan? Apa nantinya mereka mau? Takutnya mereka malah di culik terus di jual ke pria kaya raya.
"Ahh, bodo amat lah, yang terpenting gue harus bisa minta tolong sama salah satu dari penduduk disini." Ujar Helen meyakinkan diri.
"Dasar laki-laki kampungan! Gak pernah liat cewek cantik lo?, kenapa mata kalian melotot gitu ngeliatin gue? Iih.. nyebelin banget sih!" Cerocos Ella merasa kesal pada pemuda-pemuda penduduk lokal.
Helen yang mendengar gerutuan Ella menatap bingung pada sahabatnya dan para pemuda di sekitar mereka bergantian.
"Gue udah ada yang punya kali!" Sembur Ella pada pria keriting berkulit hitam yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ayo Helen kita pergi dari sini, emosi liat muka mereka." Ajak Ella yang terlihat sangat kesal sambil menarik pergelangan tangan Helen.
"Eh.. eh.. eh.. kita mau kemana sih?" Tanya Helen bingung saat Ella tak kunjung berhenti menariknya.
__ADS_1
"Ini kita udah lumayan jauh dari cowok-cowok tadi." Ujar Helen saat Ella sudah melepaskan tangannya.
"Iya, iya." Jawab Ella yang masih tampak kesal.
"Lo kenapa sih? Ini tuh bukan saatnya buat kesel. Sekarang kita harus cari bantuan, ntar keburu malam, bisa bahaya kalau kita masih disini." Helen menatap Ella yang sedang berdiri dengan malas.
"Gini ya, lo bayangin aja, gimana gue gak kesel kalau mereka tadi colek-colek bahu gue.. terus bilang 'swit.. swit..' gitu ke gue. Kan gue gak suka. Kalau mereka ganteng mah lumayan, ini mah amit-amit." Ujar Ella menumpahkan rasa kesalnya.
"Kalau gue penduduk lokal sini, udah gue habisin tuh muka mereka." Tambahnya sembari mengacungkan kepalan tangan kanannya.
Helen terkekeh.
Mata Ella tampak berbinar.
"Wah.. Gue cantik banget ya?" Tanyanya dengan suara yang terdengar centil.
"Iya sih, lo bener. Bahkan Ariana Grande kalah sama gue." Tambahnya sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
Helen mendengus melihat kepedean Ella yang sedang kambuh.
__ADS_1
"Dasar labil. Tadi marah-marah sekarang kecentilan gak jelas. Nyesel gue muji lo." Gerutu Helen lalu menarik sedikit ujung rambut Ella. Setelah itu ia berjalan cepat menghindar dari amukan gadis itu.
"Hahaha.." Ella tertawa keras melihat punggung Helen yang semakin jauh meninggalkannya. Pasti sahabatnya itu mengira ia akan membalasnya .
"Kakak, adek syantik jangan ditinggal dong!" Teriak Ella sembari mengejar Helen.
"Malu-maluin." Helen terkekeh geli mendengar teriakan Ella yang sok imut.
Rasanya sudah cukup bagi Helen jika ia hanya berteman dengan Ella saja. Teman seperti Ella lah yang ia inginkan. Teman yang menunjukkan segala sisi dirinya pada temannya, bahkan tidak ada rasa gengsi diantara mereka, itu lah yang Helen suka.
"Hayo... dapet lo." Teriak Ella di samping Helen saat ia telah berhasil menyamakan langkah mereka.
"Emang siapa yang kabur?" Tanya Helen geli.
"Ya elo lah, siapa lagi?" Ella memeluk lengan kiri Helen dari samping.
Helen terkekeh namun tidak menggubris pertanyaan Ella.
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.
__ADS_1
Terima Kasih