
Happy Readingā¤
Dua puluh menit yang lalu, acara resepsi sudah selesai. Sekarang saatnya bagi Elvan membawa Helen ke apartementnya. Helen menangis di pelukan Mamanya. Ia belum siap berpisah dengan kedua orang tuanya. Sandra berusaha menenangkan Helen dengan kata-kata lembut dan penjelasannya.
"Sayang udah dong nangis nya, kalau Mama kamu jadi ikutan nangis gimana? Kan Papa juga yang nantinya repot." Frans membelai punggung Helen yang berada dalam pelukan istrinya.
"Hmm.. Papa jahat." Ucap Helen.
"Sayang, kamu kan sekarang sudah jadi seorang istri. Jadi, istri itu harus ikut sama suaminya. Mama juga dulu kayak gitu. Dulu Mama juga sedih saat pertama kali harus pisah dari kakek dan nenek mu. Tapi lama kelamaan Mama jadi terbiasa, bahkan sekarang Mama gak mau kalau harus jauh dari Papa kamu. Jangan sedih lagi ya, kapan-kapan kamu juga bisa datang ke tempat Mama atau Mama yang akan datang ke apartement kamu ya.. sana gih Elvan udah nungguin kamu." Sandra berusaha memberikan penjelasan kepada putri tunggalnya.
Sesungguhnya ia juga sama dengan Helen, hati kecilnya merasa sangat sedih saat putrinya sudah menjadi milik orang, putri kecilnya yang manja harus berjauhan dengannya. Namun, rasa sedih itu tidak ingin ia perlihatkan kepada Helen. Ia tidak ingin putrinya menjadi lebih sedih bila melihat ia menangis.
__ADS_1
Elvan bersama orang tuanya berdiri tidak jauh dari Helen. Miranda juga melakukan hal yang sama seperti Sandra. Memberi penjelasan pada menantunya agar mau pergi bersama Elvan membangun kehidupan mereka berdua. Elvan menatap datar Helen yang sedang menangis. Ia benar-benar ingin pergi secepatnya.
"Ma, Pa, Elvan sama Helen pergi dulu ya." Pamit Elvan pada orang tua dan mertuanya. Mulai tadi pagi Elvan sudah memanggil mertuanya dengan sebutan Mama dan Papa.
Keempat orang itu mengangguk mengiyakan dan Elvan segera menarik lembut pergelangan tangan Helen.
"Helen anak Papa, kamu udahan ya nangis nya. Kasihan suami kamu kalau malam pertama kalian, kamu malah nangis gini." Frans berujar saat Elvan ingin menarik tangan Helen.
Helen bungkam. Hanya suara isakan nya yang terdengar. Ditatapnya wajah Mama dan Papanya lekat sebelum ia memasuki mobil.
Beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi sepasang suami istri itu berhenti di basement apartemen. Helen turun dari mobil mengikuti Elvan yang sudah turun terlebih dulu. Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara hingga akhirnya mereka keluar dari lift.
__ADS_1
Helen menatap punggung Elvan yang berjalan di depannya. Gaun panjang yang dikenakannya membuat ia sedikit kesulitan saat berjalan. Ia tidak tau apakah Elvan memang tidak menyadari kesulitannya atau memang sengaja menyiksanya dengan ini. High heels yang tadi dikenakannya sudah ia lepas dari kakinya. Helen menatap sedih langkah kakinya karena ia merasa mungkin ini saatnya ia melepaskan kebahagiaan yang dulu dimilikinya.
Helen memasuki apartement dengan masih mengikuti Elvan hingga mereka sampai di kamar. Helen menghembuskan nafas lega saat sudah duduk bersila sembari memijat pelan kakinya yang terasa pegal. Elvan sudah memasuki kamar mandi. Apartement itu memiliki dua kamar yang lumayan besar. Helen berbaring di tepi ranjang membiarkan kakinya tergantung. Tubuhnya sangat lelah saat ini, apalagi kakinya yang seharian penuh mengenakan high heels membuat kakinya terasa pegal dan sakit. Beberapa menit kemudian, Helen sudah tertidur dengan pulas.
Elvan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Dilihatnya Helen yang sudah tertidur dengan tidak nyaman dipinggir ranjang. Elvan memasuki ruang ganti lalu mengenakan pakaiannya. Bukannya mengenakan piyama tidur, Elvan malah mengenakan kemeja dan celana jeans. Sepertinya pria itu tidak ingin tidur melainkan ingin pergi ke suatu tempat.
Elvan keluar dari ruang ganti dan masih mendapati Helen yang masih tertidur. Ia mendekati Helen dan berdiri selangkah dari wanita itu. Elvan meneliti tubuh Helen dari atas hingga bawah dengan tatapan benci. Rahangnya mengeras menandakan ia sedang marah saat ini. Ia tidak berniat sedikit pun untuk membangunkan Helen agar gadis itu mengganti gaunnya. Tanpa mengucapkan apapun, Elvan pergi keluar kamar dan meninggalkan apartement.
Helen terbangun saat merasa tidak nyaman pada tubuhnya. Ia duduk sesaat untuk mengembalikan kesadarannya. Helen mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut ruangan mencari keberadaan Elvan. Namun ia tidak merasakan kehadiran pria itu di kamar mereka. Helen turun dari ranjang dan memutuskan untuk mengganti gaunnya terlebih dahulu lalu mencari suaminya. Helen keluar kamar mencari Elvan saat ia sudah mengganti gaunnya dengan piyama tidur. Helen mencari Elvan ke semua ruangan tapi ia tidak menemukan pria itu dimana pun.
Helen kembali ke kamar dan melihat jam beker di atas meja. Pukul 02:00, Helen menghela nafas lelah. Ini malam pertama mereka menjadi pasangan suami istri yang dimana seharusnya ia bahagia. Namun, ia merasa sesak di dadanya saat tidak mendapati Elvan di apartement ini. Helen berbaring di ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin. Helen terisak pelan meratapi nasibnya yang jauh dari kata beruntung. Malam ini seharusnya ia habiskan bersama Elvan. Namun, Helen hanya sendirian melewati malam dengan tangisan pilu hingga akhirnya ia terlelap.
__ADS_1
BERSAMBUNG..
Jangan lupa di like dan komen ya guys dan terima kasih yang sudah memberikan like dan komen nya teman-temanš