My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 114


__ADS_3

Happy Readingđź’–


Plak!


Elvan tidak melanjutkan perkataannya saat Helen tiba-tiba melayangkan tamparan di wajahnya. Elvan menyapu pipinya yang terasa perih dan panas sambal menatap Helen. Gadis itu juga menatapnya. Namun, dengan tatapan tajam yang tidak pernah gadis itu tunjukkan sebelumnya.


Tatapan dingin dan tajam itu membungkam suara Elvan. Kini dirinya sadar bagaimana rasanya diperlakukan kasar oleh orang yang dicintai. Akhirnya ia sadar bagaimana perasaan Helen saat ia menampar dan melukai wanita itu. Rasanya sakit namun tidak berbentuk.


Kenapa kamu jadi banyak bicara?!


Sorot mata Helen menatap Elvan dengan tajam. Tangannya yang barusan melayangkan tamparan di pipi Elvan terasa perih. Menunjukkan seberapa kencangnya ia menampar suaminya itu. Bersalahkah ia karena melakukannya? Tentu. Tapi persetan dengan dosa. Biarkan itu dihitung saat waktunya tiba nanti. Yang penting saat ini Helen harus menyalurkan kemarahan juga kesedihan yang ada di hatinya.


Jika di tanya siapa yang telah membuatnya marah dan sedih, maka sudah pasti jawabannya 100% adalah Elvan. Suami tidak tau di untung itu telah memberikan banyak goresan di hatinya.


Melihat Elvan yang sedang mengusap pipinya membuat Helen mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak boleh merasa kasihan maupun bersalah, karena yang pantas merasakan itu adalah Elvan. Dirinya harus menerima balasan atas tindakannya dulu.


"Jangan menyentuh ku." Suara Helen terdengar sinis dan penuh penekanan. Matanya menatap Elvan dengan tajam.

__ADS_1


Setelah itu, ia langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Elvan yang masih menatapnya lurus dan sendu.


Perkataan Helen berhasil membuatnya tersadar kembali dari pemikiran bodohnya yang menyesali semua tindakannya. Elvan melihat punggung Helen yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu dengan perasaan yang berkecamuk.


Ia menyesal.


Menyesal karena telah menyia-nyiakan keberadaan istrinya selama ini.


Menyesal telah membuat Helen merasakan sakit karena perbuatannya.


Menyesal karena telah bertindak egois yang malahan membuat Helen semakin tersakiti.


Elvan menarik nafas dalam lalu menyandarkan dirinya di punggung bangku rotan tersebut. Ia tidak ingin mengejar Helen. Ia tau Helen pasti butuh waktu untuk menyendiri, begitu pun dengan dirinya. Elvan ingin kembali merenungi kesalahan-kesalahan fatal yang kerap kali ia lakukan.


Meong...


Meong...

__ADS_1


Elvan tersentak kaget. Sejak kapan ada kucing di rumah ini?, pikirnya.


"Bukannya ini kucing yang waktu itu?" Elvan bertanya pada dirinya sendiri. Sejujurnya ia sedikit tidak menyukai kucing. Hewan berbulu halus itu membuatnya merasa geli.


Sementara disisi lain, Helen pergi ke dapur yang berada di lantai bawah. Perutnya terasa lapar karena setelah memasak tadi ia belum sempat menyentuh makanannya. Apalagi karena tadi ia telah banyak menangis membuat rasa lapar itu semakin terasa hingga ia tidak dapat menahannya. Helen duduk di kursi makan, di depannya telah tersaji makanan rumahan. Porsinya tidak banyak, Helen sengaja memasak sedikit karena ia pikir Elvan tidak pulang hari ini.


Helen menikmati makanannya seorang diri tanpa memperdulikan orang yang di atas sana. Apakah suaminya itu sudah makan atau belum? Helen tidak ingin ambil pusing, juga tidak ingin peduli dengan Elvan. Pria arrogant itu pasti makan dengan sendirinya jika ia merasa lapar. Helen tidak lagi ingin repot-repot memaksa pria itu untuk makan bersamanya seperti sebelum-sebelumnya.


Saat makan siangnya tinggal setengah, Helen mendengar serap kaki yang semakin mendekat. Tanpa menoleh ke asal suara itu pun, Helen sudah tau siapa orang yang hendak memasuki dapur. Ia terus melanjutkan makannya saat mendengar suara kursi di depannya di tarik. Rasa laparnya yang tadi membuncang kini hilang saat Elvan berada di ruangan yang sama dengannya. Udara di ruangan itu seketika membuat Helen merasa sesak dan jengah.


"Kamu makan kok gak ngajak aku?" Elvan duduk lalu menautkan jemarinya di atas meja dengan siku yang menjadi tumpuan.


Helen diam tak bersuara. Ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang sangat tidak penting itu.


Elvan mengulum bibirnya. Melihat kebungkaman Helen membuatnya yakin gadis itu tidak akan mengambilkan makanan untuknya. Dengan sadar diri Elvan mengambil piring kaca yang di simpan di lemari dekat wastafel lalu mengambil makanannya sendiri. Ia melihat Helen yang sedang mengunyah makanan dengan ogah-ogahan lalu mulai menyuapi makanan di piringnya.


Tak!

__ADS_1


Baru lima suapan, Elvan dikejutkan dengan suara bantingan sendok. Ia lantas menatap Helen yang kini sedang menyesap minumannya. Dalam diam, Elvan memperhatikan gerak-gerik Helen. Melihat Helen menuruni kursinya, Elvan langsung menegakkan duduknya.


"Mau kemana?" Tanyanya lembut. Besar harapannya agar Helen mau menjawab pertanyaannya.


__ADS_2