
Helen keluar dari kamar dengan pakaian casualnya. Setelah menutup pintu ia melirik jam kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu memperbaiki sling bag yang ada di bahu kanannya. Gadis itu hendak pergi ke suatu tempat. Dan sudah pasti tanpa Elvan. Helen benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan beberapa hari lalu. Mengabaikan Elvan? Tidak! Bukan hanya mengabaikan tapi benar-benar tidak menganggap Elvan dan status mereka. Helen tidak pernah lagi mencoba untuk mengambil perhatian Elvan, tidak pernah lagi menantikan kepulangan Elvan dari kantor, tidak lagi menyiapkan segala keperluan Elvan bahkan sekali pun ia tidak pernah lagi menyiapkan makanan untuk pria itu.
Jangan tanya soal makan bersama seperti yang dulu sering mereka lakukan, sudah pasti Helen akan pergi dari dapur jika Elvan duduk di ruang makan untuk makan bersamanya, alhasil gadis itu akan menghabiskan makanannya di taman belakang rumah atau di ruang santai.
Elvan yang diperlakukan seperti itu sudah sangat frustasi. Andai dulu ia tau rasanya diabaikan akan sesakit ini, maka ia tidak akan pernah meminta dan mengutuk kehadiran Helen.
Setelah merasa semua sudah lengkap, Helen bergegas menuruni tangga.
"Mau kemana?" Helen menoleh ke kiri, melihat Elvan yang baru keluar dari dapur.
Melihat kehadiran Elvan, Helen langsung memutar bola matanya jengah lalu mengedikkan bahunya asal. Seolah tidak peduli dengan pertanyaan pria itu.
Mendapati tanggapan Helen yang acuh tak acuh membuat Elvan menarik nafas dalam. Selalu seperti ini. Istrinya itu benar-benar sangat berubah. Elvan merindukan Helen yang dulu. Mereka benar-benar sudah berganti posisi. Dulu Helen lah yang berada di sisi seperti ini, diabaikan dan tidak dianggap keberadaannya. Kini posisi itu berubah dan Elvan lah yang diperlukan seperti itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Elvan lagi sembari mencekal tangan Helen yang hendak kembali berjalan meninggalkannya.
Helen kembali menghembuskan nafas jengah. Tangannya ia biarkan berada dicekalan Elvan. Rasanya sangat susah hanya untuk menjawab pertanyaan pria itu.
"Kenapa?" Helen yang sangat malas berada di dekat Elvan langsung bertanya apa keinginan pria itu. Wajahnya tampak malas-malasan menghadapi Elvan yang menatapnya memohon.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Elvan menatap Helen lembut tanpa melepaskan cekalan tangannya.
"Bukan urusan kamu." Jawab Helen singkat tanpa menatap wajah Elvan. Dirinya asik meneliti kuku-kuku jarinya.
Elvan menatap Helen sendu.
__ADS_1
"Kamu istri ku, aku berhak tau kemana kamu mau pergi." Tegas Elvan.
"Oh yah? Kayaknya gak tuh. Aku bukan istri kamu. Aku gak pernah punya suami yang bejatnya kayak kamu." Jawab Helen santai.
"Helen, cukup. Jangan mengada-ngada." Elvan mencoba bersabar. Perkataan Helen yang seperti itu sudah biasa ia dengar akhir-akhir ini.
"Siapa yang mengada-ngada? Kamu aja kali. Udah ya, aku gak ada waktu buat bicara sama kamu. Aku muak dengar suara kamu." Ucap Helen.
"Kamu nggak pantas ngomong kayak gitu sama suamimu sendiri."
"Suami? Suami yang mana? Kamu maksudnya? Uluh uluh.. suami yang gak dianggap. Iya? Kasihan banget sih kamu." Helen semakin memanas-manasi.
"Jaga omongan kamu. Biar bagaimana pun aku ini tetap suami kamu!"
"Hahaha terserah deh terserah. Mau kamu suami aku, mau kamu musuh aku atau apapun itu, TERSERAH! Aku gak peduli selagi kamu gak ganggu hidup aku." Helen mendongakkan dagunya. Menantang Elvan dengan tatapan sinisnya.
Helen menatap sinis wajah Elvan yang tampak menyedihkan. Hal itu tidak akan mengganggu pikirannya karena itu lah yang ia inginkan, membuat Elvan sadar dan menyesali semua perbuatannya.
"Lepas." Helen menarik tangannya yang masih dicekal Elvan.
"Nggak, sebelum kamu jujur mau kemana." Elvan semakin menahan Helen.
"Kamu lupa apa yang aku bilang beberapa minggu lalu? Anggap aku ini bukan istri kamu atau aku sudah mati. Jadi, jangan peduliin apapun yang aku lakuin!" Helen berujar sedikit membentak.
"Aku gak bisa!" Teriak Elvan dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
Elvan sudah mencintai Helen. Lalu bagaimana bisa ia mengabaikan orang yang ia cintai? Persetan dengan perkataan Helen beberapa minggu lalu. Ia tidak akan peduli dan akan terus berusaha untuk menerima maaf dari istrinya itu.
"Aku gak bisa menuhi permintaan gila kamu itu. Aku gak mungkin biarin kamu pergi sendirian."
"Lho, kenapa? Selama ini kan aku selalu ngelakuin apapun sendirian. Makan siang sendirian, pergi kerja sendirian. Emang kamu pernah nganterin aku kerja? Nggak kan? Kamu juga selalu pergi dan ninggalin aku sendirian di apartemen. Kenapa sekarang gak bisa? Gak usah pura-pura deh, kamu pasti seneng kan kalo aku pergi pagi pulang malam biar kamu bisa bebas untuk jumpa sama cinta pertama kamu itu? Ngaku aja deh, aku gak marah kok. Malahan aku seneng kalo kamu balik sama Alexa lagi. Cinta kalian itu perlu diperjuangin, jangan sampai usaha kamu nunggu dia selama bertahun-tahun hancur sia-sia."
“Gak usah peduliin aku. Aku bisa milih jalan hidup aku sendiri.” Helen menarik nafas dalam sembari menatap Elvan datar.
Elvan bungkam. Perkataan Helen barusan telah melukai perasaannya. Bagaimana bisa Helen berkata seperti itu padahal ia tau jika Elvan sedang berusaha melupakan Alexa? Elvan merasa usahanya sama sekali tidak dihargai.
“Aku tau aku salah udah mengabaikan kamu, tapi apa gak bisa kamu maafin aku? Aku udah berulang kali minta maaf, kenapa kamu seakan mendukung hubungan aku sama Alexa? Emang kamu rela kalo aku sama dia?” bukan tanpa alasan Elvan bertanya seperti itu. Ia sangat ingin tahu apa isi hati Helen yang sebenarnya.
“Pikir aja sendiri.” Ketus Helen lalu memalingkan wajahnya. Mana rela ia jika Elvan kembali bersama sih Alexa ular itu. Tidak! Sampai mati pun Helen tidak akan rela.
Elvan tersenyum tipis. Tinggal satu atap dengan Helen selama hampir satu tahun membuatnya cukup mengenal hal kecil dari wanita itu. Melihat Helen yang kini cemberut membuat Elvan dapat menyimpulkan jika istrinya itu pasti tidak rela jika ia kembali dengan Alexa. Tanpa Helen jawab pun Elvan sudah tau apa jawabannya.
“Awas! Aku mau lewat!” Helen mendorong tubuh Elvan yang menghalangi jalannya.
Elvan kembali memasang tampang serius saat Helen kembali hendak keluar.
“Kamu gak boleh pergi.” Tegasnya.
“Awas ah. Kamu buat waktu aku habis sia-sia!” kesal Helen sambal menghentakkan kakinya.
“Istri itu gak bolah membantah apa kata suami. Itu kata agama.” Entah mengapa kumpulan kata itu keluar begitu saja dari mulut Elvan, hal itu langsung membuat tanduk di kepala Helen keluar. Elvan kembali memancing amarahnya.
__ADS_1
“Jangan sok bijak kamu! Cowok bren*sek kayak kamu gak pantes bicara kaya gitu! Kelakuan bejat kamu itu yang gak boleh di mata agama. Sekarang apa? Kenapa berhenti main sama perempuan? Sana gih, sekalian aja nikah sama pel*cur di luar sana! Nanggung kalo Cuma sama Alexa.” Setelah berujar demikian, Helen langsung melangkahkan kakinya keluar rumah dan pergi mendatangi rumah Daniel.