
Beberapa minggu yang lalu, Elvan berjanji akan mengikuti ataupun memenuhi permintaan Helen. Awalnya Elvan pikir, Helen akan minta dibelikan sesuatu yang mahal atau apapun itu. Tapi ternyata Helen memintanya untuk memakai wig panjang sambil mengenakan gaun pesta Helen dan berjalan-jalan di pelataran rumah. Saat mendengar itu, Elvan benar-benar terperangah dan tidak bisa berkata-kata. Ia juga hampir menjatuhkan pistol miliknya yang saat itu sedang ia pegang.
Tentu saja saat itu Elvan langsung menolak permintaan Helen. Andai waktu itu Helen minta dibelikan pesawat atau rumah mewah baru, Elvan pasti akan langsung membelikannya. Tetapi kalau ini… Elvan benar-benar frustasi saat itu. Karena ia tidak mau memenuhi permintaan Helen, akhirnya ia harus menduda tidur selama seminggu. Helen melarangnya tidur di kamar mereka. Dengan berat hati, Elvan akhirnya tidur di kamar tamu. Di hari pertama mereka tidak tidur bersama dan keesokan harinya, Elvan menemui Helen dan memohon kepada istrinya itu untuk mengganti permintaannya. Helen yang memang keras kepala dan sangat ingin melihat Elvan memakai gaun pesta dan wig miliknya menolak mentah-mentah keinginan Elvan. Beberapa jam kemudiannya lagi, Elvan kembali meminta Helen mengganti permintaan. Dengan tegas Helen kembali menolak. Hal itu berulang kali terjadi hingga tiga hari. Sampai di malam keempat, Elvan sudah tidak tahan dan tidak sanggup berpisah tidur dengan Helen. Akhirnya, ia kembali menemui Helen dan memenuhi permintaan wanita itu.
Keesokan paginya, Helen menyiapkan segala hal yang harus Elvan pakai ditubuhnya. Dengan rasa malu yang membuncang, Elvan hanya diam dan membiarkan Helen memakaikan apapun di tubuhnya. Elvan berjalan-jalan mengelilingi halaman rumah mereka. Helen yang melihat itu tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Beberapa bodyguard yang saat itu sedang berjaga di sekitar rumah juga tersenyum-senyum kecil melihat tuan mereka, yang dibalas Elvan dengan tatapan tajam, membuat para bodyguard itu langsung bungkam dan menunduk takut.
Helen yang memperhatikan Elvan dari teras rumah tidak berhenti tertawa. Hal itu membuat Elvan kesal. Wajahnya memerah menahan malu. Elvan kesal melihat Helen, istrinya itu seolah merendahkan harga dirinya. Setelah itu, Elvan mendiamkan Helen selama lebih dari 2 hari. Ia tidak mau berbicara kepada Helen. Helen sadar dirinya sudah keterlaluan, tapi ia seolah tidak peduli dan sangat puas karena Elvan memenuhi keinginannya. Helen sadar kalau Elvan sengaja mendiaminya. Rasa kesal jadi hinggap dihatinya. Kalau tidak ikhlas, kenapa Elvan mau menuruti perintahnya? Dengan seribu akalnya, Helen menghampiri Elvan dan langsung duduk dipangkuan suaminya itu. Saat itu, Elvan sedang menonton TV. Helen langdung menghujami suaminya itu dengan ciuman di wajahnya. Elvan yang tidak sempat protes hanya bisa pasrah dan membiarkan Helen menciumnya.
Kembali ke rumah sakit, Elvan menatap sendu pintu UGD. Dirinya sangat pantas disalahkan karena lalai menjaga Helen. Andai saja ia bangun lebih cepat dan lebih dulu mendapati kondisi istrinya yang sedang tidak baik, mungkin istrinya itu tidak akan pingsan di kamar mandi. Tapi apalah daya, semua sudah terlambat. Hanya penyesalan yang tertinggal, semuanya percuma.
Pintu di depannya terbuka. Elvan langsung menegakkan tubuhnya dan menghampiri dokter yang keluar dari sana.
“Dok, bagaimana kondisi istri saya?” Elvan bertanya penuh harap.
Pria yang kira-kira sudah berkepala empat itu tersenyum tipis melihat Elvan.
“Pasien kekurangan asupan gizi. Setelah kami periksa, tidak ada makanan yang dicerna di dalam tubuh pasien. Karena itu, tubuh pasien tidak memiliki tenaga yang cukup untuk tetap mempertahankan kesadarannya.” Elvan mendengarkan perkataan dokter di depannya dengan serius. Helen kekurangan gizi? Ia benar-benar telah lalai menjaga kesehatan istrinya.
“Karena itu juga maag pasien kambuh. Apalagi saat ini pasien sedang mengandung. Sebaiknya pola makan dijaga dengan baik.” Tambah sang dokter.
__ADS_1
"Mengandung? Maksud dokter, istri saya hamil?" Elvan lagi-lagi menatap sang dokter dengan penuh harap.
"Jadi, bapak belum tau?"
"Belum, dok." Jawab Elvan dengan gelengannya.
"Baiklah. Kalau begitu saat pasien sadar nanti, saya akan panggilkan dokter kandungan untuk memeriksa kandungannya." Elvan mengangguk lekas sambil berterima kasih. Dokter itu pergi meninggalkan Elvan sesaat setelah mereka bersalaman dan mengucapkan selamat kepada Elvan.
Elvan memasuki ruang perawatan saat Helen telah dipindahkan ke ruangan tersebut. Dengan rasa bahagia yang membucang Elvan menghampiri Helen yang sudah sadar hampir setengah jam yang lalu. Elvan baru saja kembali dari membeli makanan. Dokter kandungan sudah memeriksa kandungan Helen. Ternyata, istrinya itu benar-benar hamil dan kandungannya sudah berumur empat minggu.
Elvan meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja kecil di samping tempat tidur kemudian membantu Helen duduk. Senyum cerah tidak luntur dari bibir Helen sejak mendapat kabar gembira dari dokter tadi. Mereka sudah memberi tahu seluruh keluarga dan orang tua mereka sedang dalam perjalanan untuk menjenguk Helen.
"Nasi padang." Elvan mulai menyuapi Helen. Sesekali ia membersihkan bibir Helen yang terkena noda sambal.
Senyum manis tidak lepas dari bibir keduanya. Mereka berpandangan, seolah hanya dengan tatapan mata tersebut sudah mampu menyampaikan rasa cinta mereka.
Suapan terakhir telah selesai. Elvan membersihkan bibir Helen dengan tisu.
"Sebentar lagi aku bakalan jadi papa dan kamu jadi mama." Elvan menangkup wajah Helen dengan telapak tangannya yang lebar.
__ADS_1
Helen mengangguk antusias.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Aku tidak sabar menunggu anak kita lahir." Helen mengusap punggung tangan Elvan yang ada di wajahnya.
"Sayang, sehat selalu ya. Kami menunggu kehadiran kamu, nak." Elvan membelai perut Helen dengan penuh kasih sayang.
Elvan menegakkan tubuhnya, lalu menatap Helen dengan penuh cinta. Ia sangat bersyukur karena istri dan calon anaknya baik-baik saja saat ini. Bayi mereka akan hadir kurang lebih sembilan bulan lagi. Elvan tidak sabar menanti hari itu tiba.
Elvan membawa tubuh Helen ke dalam pelukannya, mereka berpelukan. Menyalurkan kehangatan dan kebahagiaan yang membuncang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari penantian yang menyenangkan ini. Elvan mengecupi puncak kepala Helen dengan sayang. Yang dibalas dengan pelukan erat oleh Helen.
Terima kasih ya Allah, telah mengirimkan malaikat tanpa sayap kepada hamba mu yang penuh dosa ini. Maaf, selama ini hamba selalu melupakan mu. Terima kasih, telah mempercayakan kami menjadi orang tua. Terima kasih, ya Allah. Elvan memperdalam pelukannya. Tiada yang lebih berharga dari keluarga. Syukurlah, ia sadar di waktu yang tepat dengan cintanya. Syukurlah, ia memilih cinta yang tepat. Begitu banyak kata syukur yang ingin Elvan ucapkan.
Air mata haru mengalir dari mata indah Helen. Perjuangannya berhasil, cintanya berhasil. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tuhan mendengarkan doa-doanya, Tuhan menjawab segala doanya, Tuhan tidak mengabaikannya.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dan lebih mendebarkan dari cinta mereka.
END...
...Kita akhiri My Cold Husband is a CEO disini. Terima kasih untuk teman-teman semua yang selama ini selalu mensupport karya ku ini. Jangan lupa juga ya baca karya Author yang Menikah Dengan Duda, gak kalah seru juga kok....
__ADS_1
...Terima kasih🙏🤗...