My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 20


__ADS_3

Elvan bergegas menuju pintu utama. Seorang pembantu yang berada di depan rumah membukakan pintu untuk Elvan.


"Assalam'ualaikum." Salam Elvan setelah pembantu itu pergi di hadapannya. Elvan melemparkan pandangannya ke setiap ruangan, menunggu sih tuan rumah menjawab salam nya.


"Wa'alaikumsalam." Suara Sandra terdengar dari salah satu ruangan. Sandra menghampiri Elvan sembari tersenyum manis menyambut kedatangan calon menantunya itu.


"Nak Elvan, kamu sendirian? Tante pikir kamu datang bersama Helen. Bukannya tadi Mommy kamu bilang kalian pulang bersama?" Tanya Sandra sembari menuntun Elvan untuk duduk di ruang tamu.


"Tadi saya tidak melihat Helen, Tan. Saya gak tau dia dimana, saya kira dia udah pulang duluan, jadi saya datang kemari sendirian. Ternyata, Helen belum pulang ya Tan?" Sandra mengangguk seraya tersenyum lembut menatap calon menantunya.


Elvan berusaha merelakskan tubuhnya. Bisa hancur imagenya jika sampai calon mertuanya tau ia sudah berbohong. Elvan sengaja tidak mengajak Helen untuk pulang bersamanya. Ia terlalu jengah jika harus berdekatan dengan gadis itu. Gadis yang sebentar lagi benar-benar akan menjadi istrinya, teman hidupnya walaupun ia sendiri tidak tau apakah hal itu akan bertahan lama, gadis yang beberapa hari ini selalu membuat telinganya sakit karena suara cempreng yang dimilikinya.


Elvan tersenyum canggung ke arah Sandra yang menyuruhnya menunggu Helen. Setelah itu, Sandra bergegas pergi ke dapur untuk membuat minuman.


"Karna Elvan udah balik, kita berdua balik juga ya atau lo mau kita anterin sekalian?" Virgo melemparkan tatapannya pada Helen.


"Gak usah, kalian duluan aja, kan gue juga bawa mobil. Gue juga udah mau balik kok." Helen mengutas senyum.


"Tapi bentar dulu deh, gue jadi kurang yakin kalau kalian bakalan balik ke kantor. Kayaknya gue lagi mencium aroma yang berbeda." Ujar Helen sambil mengendus-ngenduskan hidungnya. Dilihatnya Ella dan Virgo bergantian sembari menaik turunkan alisnya. Virgo dan Ella terkekeh melihat tingkah Helen.


"Tau aja lo, anak dukun ya?" Canda Ella.


"Bukan, gue anak mbah surip." Jawab Helen seenaknya.


"Gue bilangin Tante Sandra baru tau rasa lo. Emak sendiri gak dianggap." Ucap Ella.


"Mulut lo. Mama gue itu, Mama terbaik sedunia." Ucap Helen.


"Iya deh, iya. Kalau gitu kita berdua pergi dulu, ya. Jangan lupa nanti malam angkat telpon dari gue, jangan molor dulu." Ucap Ella sambil memasuki mobil disampingnya.


"Oke!" Balas Helen mantap sembari mengacungkan jempol nya.

__ADS_1


Virgo tersenyum melihatnya.


Setelah melihat kepergian Virgo dan Ella, Helen bergegas memasuki mobilnya lalu tancap gas membelah keramaian jalanan Jakarta.


Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di depan rumahnya.


"Siang, Mbok." Sapa Helen pada seorang wanita paruh baya yang sedang membersihkan taman kecil di sekitar pintu utama. Wanita berpakaian daster itu tersenyum ramah melihatnya. Helen berlalu meninggalkan wanita itu.


"Assalam'ualaikum. MAMA! HELEN PULANG!. MA..!" Teriak Helen saat memasuki ruang utama.


"Lo pikir ini hutan!" Sindir seseorang yang membuat perhatian Helen mengalihkan.


Helen membalikan badannya melihat pemilik suara tersebut. Matanya terbelak saat melihat Elvan yang duduk dengan santai di ruang tamu.


"Sayang, kamu udah pulang. Mama tadi lagi di dapur buat minuman." Sandra mengecup puncak kepala putrinya setelah ia menghidangkan minuman untuk Elvan.


"Ma, dia ngapain disini?" Helen berbisik kepada Mamanya.


"Mau jemput kamu. Hari ini kalian akan fitting gaun pengantin." Jawab Sandra sambil tersenyum manis melihat Helen dan Elvan bergantian.


"Kamu tadi dimana? Elvan tadi nyariin kamu loh, mau ngajakin kamu pulang bareng." Elvan menegang mendengar perkataan Sandra. Di tatapnya wajah Helen yang terlihat sedang kebingungan.


"Loh, bukannya.." Helen mandalik ke arah Elvan. Bisa-bisanya pria bermuka datar itu membohongi Mamanya. Elvan mengusap tengkuknya seraya berdoa dalam hati agar Helen tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Gak papa kok kalau kamu belum mau pulang sama Elvan, tapi mama harap di lain waktu kalau Elvan ngajak kamu pulang jangan menghindar kaya gini ya. Sekarang kamu mandi gih, tapi jangan lama-lama dandannya, nanti kalian pulangnya kesorean." Suruh Sandra sambil tersenyum lembut.


Helen melirik Elvan tajam sebelum berlalu dari hadapan Mamanya.


Tidak butuh waktu lama bagi Helen untuk membersihkan diri. Sekarang ia sudah siap untuk keluar kamar. Helen mengenakan dress selutut berwarna pink. Rambut coklatnya yang panjang ia biarkan tergerai indah. Helen menuruni anak tangga, disana ia melihat Elvan dan Mamanya yang sedang berbincang.


Elvan melihat kehadiran Helen dari ekor matanya. Sesaat, ia terpukau melihat Helen yang sudah berdiri di depannya beberapa Langkah.

__ADS_1


“Sayang, kamu udah siap?” Helen mengangguk mengiyakan.


“Kalau gitu kalian berangkat gih.” Suruh Sandra sesudah Helen menjawab pertanyaannya.


Helen melirik Elvan. Elvan yang tersadar dari keterpukauannya langsung berdiri lalu berpamitan pada Sandra.


“Kami pergi dulu Tante.” Sandra mengangguk sembari tersenyum lembut.


“Helen pergi dulu Ma.” Pamit Helen seraya menyalimi Mamanya.


Sandra mengantarkan kepergian Elvan dan Helen.


“Kalian hati-hati ya.” Ujar Sandra saat Helen dan Elvan hendak memasuki mobil. Helen tersenyum manis menatap Mamanya lalu masuk ke mobil, dimana Elvan sudah duduk di kursi pengemudi.


Mobil berwarna hitam yang dikemudi oleh Elvan pergi meninggalkan rumah tersebut. Hanya ada kesunyian di dalam mobil itu. Helen menatap luar jendela seraya memikirkan berbagai hal yang ada dibenaknya, sedangkan Elvan tampak focus mengemudi menatap jalan di depannya.


“Kenapa lo bohong sama nyokap gue?” tanya Helen membuka obrolan setelah berperang batin beberapa saat.


Elvan melirik Helen sekilas. Ia bungkam.


Melihat kebungkaman Elvan, Helen kembali berujar.


“Kapan lo nyari-nyari gue? Kalua tadi lo emang gak mau pulang bareng gue, bilang aja. Lo gak usah bohong, pake bilang ke Mama kalua lo gak ngeliat gue. Ternyata selain irit bicara, lo juga jago bohong ya.” Sindir Helen. Ia sengaja menyindir Elvan. Ia ingin tau sampai mana ketahanan pria itu untuk tidak menggubris ucapannya.


Elvan tau ia salah akan hal itu, tidak seharusnya ia berbohong kepada Sandra, tapi untuk pulang bersama Helen rasanya tidak mungkin, lagi pula saat itu ada Ella dan Virgo disana. Elvan membiarkan Helen yang terus mengoceh sembari mengeluarkan kata-kata sindiran. Ia memilih diam tanpa menggubris sindiran Helen dari pada menyahuti perkataan gadis itu yang akan memancing emosinya.


Gila, ngapai juga gue bicara sama tembok. Sampai mulut gue berbuih pun sih kulkas berjalan ini gak bakalan nyahutin gue. Aduhh.. Mama kayanya salah pilih orang deh buat dijodohin sama gue, batin Helen mengerutu.


Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka kendarai berhenti di depan sebuah butik berlantai dua. Helen menatap Elvan yang keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Helen mendengus lalu melepas seatbelt dari tubuhnya lalu menyusul Elvan yang berdiri di depan mobil dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.


~BERSAMBUNG~

__ADS_1


Jangan lupa di like dan komen ya teman-teman.


Terima kasih


__ADS_2