My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 79


__ADS_3

Elvan menghela nafas lega setelah membereskan berkas-berkas yang telah ia periksa dan beberapa telah ia tandatangani. Elvan beranjak dari duduknya lalu berdiri di depan kaca besar belakang kursinya yang menampakkan luasnya dan deretan gedung-gedung pencakar langit disana.


Di tempatnya berdiri, Elvan merengangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena berjam-jam hanya duduk di kursinya. Elvan juga melepas dua kancing teratas kemejanya lantaran merasa gerah, padahal di ruangannya ini terdapat AC yang menyala non stop.


Elvan menerawang jauh memikirkan masalahnya dengan Alexa yang tidak kunjung berakhir. Entah sampai kapan ia harus seperti ini, menunggu dan terus menunggu kepulangan Alexa dengan sendirinya. Kekasihnya itu tidak sedikit pun membiarkan Elvan bisa menjangkau dirinya kembali. Dan hal itu benar-benar membuat Elvan frustasi.


Elvan melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Sudah waktunya makan siang. Elvan lantas bergegas mengenakan kembali jas hitamnya yang tadi ia gantung kan di stand hanger.


"Bro, makan di luar yuk." Setelah mengenakan jasnya, Elvan segera meraih ponselnya yang berada di atas meja saat mendengar suara Virgo.


Di liriknya Virgo yang saat ini menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Apa?"


"Makan yuk." Ajak Virgo sambil berjalan ke arah sofa, tempat favoritnya.


Elvan melirik Virgo sekilas sebelum meraih sebotol air mineral yang berada di atas meja dekat sofa lalu meneguknya. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu. Namun, suara Virgo kembali menghentikan langkahnya.


"Heh, mau kemana lo?" Tanya Virgo heran saat Elvan mengabaikan dirinya dan hendak keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.


"Mau makan kan?" Tanya Elvan balik.


"Ya iyalah. Udah lapar nih."

__ADS_1


"Ya udah, ayo." Tekan Elvan lalu menekan handel pintu yang berada di depannya, kemudian pergi meninggalkan Virgo yang masih duduk di tempatnya.


"Lah gue di tinggal." Pekik Virgo dan segera berlari mengejar Elvan.


Beberapa menit kemudian, Elvan dan Virgo telah kembali dari restaurant jepang saat mereka akan menghadiri meeting bersama Jonathan cooperation.


"Pak, Tuan Jonathan sampai dan sekarang beliau telah memasuki ruang rapat." Seorang wanita berpakaian khusus yang ditetapkan oleh Bramantyo Company berujar kepada Elvan yang saat ini baru saja keluar dari lift lantai 4.


Elvan menatap karyawan wanita tersebut dengan ekspresi datarnya.


"Dimana manager Vito?" Tanya Elvan pada wanita tersebut tanpa menghentikan langkahnya.


Manager Vito adalah orang asli jakarta yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi manager di Bramantyo Company. Beliau lumayan dekat dengan Elvan.


Dengan langkah yang lumayan cepat, wanita bertag nama Gina itu berusaha menyamai langkah Elvan itu berusaha menyamai langkah Elvan dan Virgo.


Elvan mengangguk singkat.


“Semua sudah kau siapkan?” Elvan melirik Virgo yang ada di sampingnya.


“Sudah Pak.” Virgo mengangguk lalu melirik Wanita yang masih berjalan di belakangnya. Walaupun ia dan Elvan bersahabat, tetap saja saat sudah urusan kantor dan dihadapan orang lain mereka akan benar-benar seperti atasan dan bawahan, santun. Mereka bertiga pun memasuki ruang meeting yang di dalamnya telah dihadiri oleh Pak Jonathan.


Dua jam sudah Elvan beserta bawahannya dan antek-antek Pak Jonathan melakukan rapat. Dan Elvan sangat puas dengan prestasinya kali ini. Setelah bersalaman dengan Pak Jonathan dan kepergian beliau Bersama karyawannya, Elvan bergegas menuju basement untuk segera pergi ke sebuah perusahaan yang sudah sejak lama bekerja sama dengan perusahaannya.

__ADS_1


Seorang supir langsung membukakan pintu mobil saat melihat dirinya berjalan dengan cepat mendekati mobiltersebut. Beberapa detik kemudian, mobil yang dikemudi oleh supir pribadinya itu keluar dan menjauh dari kawasan perusahaan.


Elvan turun dari mobilnya lalu menatap dua orang yang menyambut kehadirannya. Pemilik dari Mahendra Company, Elvan mengenal seorang pria paruh baya yang kini tersenyum menyambut dirinya. Namun, tidak dengan seorang pria yang berada di samping pria bersetelan jas hitam itu, Elvan mengernyitkan dahinya, bingung.


Apa urusan sih bren*sek itu disini?, Elvan hanya membatin sembari melirik pria yang ia sebut bren*sek itu.


“Apa kabar Pak Rian?” Elvan menerima uluran tangan dari pria yang lebih tua darinya itu sembari tersenyum tipis.


“Seperti yang kau lihat, Nak. Kesehatan ku sudah mulai membaik dari sebelumnya.” Jawab Pak Rian dengan seutas senyum cerah.


“Kita sudah lama tidak bertemu, aku merasa rindu saja.” Pak Rian tergelak diakhir katanya.


“Saya pun begitu Pak Rian.” Elvan merasa sangat dekat dengan pria paruh baya ini. Dirinya yang arrogant dan keras entah mengapa bisa sangat akrab dengan pria tua yang mungkin seumuran dengan ayahnya. Ah.. Mengingat soal Ayah, Elvan jadi merindukan sosok pahlawan baginya itu.


“Kalau begitu mari kita sering bertemu untuk ke depannya, Nak.” Tawar Pak Rian.


“Kita memang sudah sering bertemu Pak Rian.” Tukas Elvan sejenak.


“Ya… ya… ya… kau selalu punya kata untuk membalas ucapan ku, Nak.” Elvan tergelak menanggapi perkataan pria itu.


“Tapi kau tetap saja kaku meskipun kit aini sangat dekat. Kau bahkan masih memanggil ku Pak Rian padahal aku sudah berulang kali memintamu untuk memanggil ku Rian saja.” Ucap pria berjas hitam itu dengan tampang yang dibuat sedih.


“Saya rasa itu kurang sopan, Pak Rian.” Balas Elvan singkat.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa di like dan koment nya ya teman-teman. Terima kasih.


__ADS_2