My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 21


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka kendarai berhenti di depan sebuah butik berlantai dua. Helen menatap Elvan yang keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Helen mendengus lalu melepas seatbelt dari tubuhnya lalu menyusul Elvan yang berdiri di depan mobil dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.


"Eheem..." Helen sengaja berdehem. Elvan memiringkan tubuhnya menghadap Helen yang sudah berdiri disampingnya. Tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Helen juga sudah malas untuk berbicara dengan Elvan yang terus mengabaikannya. Ia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Elvan, tidak ingin tatapannya bertemu dengan pria itu.


"Eh!" Helen tersentak saat Elvan menggenggam tangannya, tatapan mereka bertemu. Helen merasa tenggorokannya mengering. Ia tiba-tiba merasa kaku saat Elvan menautkan tangan mereka.


Kenapa Elvan genggam tangan gue? Apa dia udah mulai terima gue?, Helen membatin.


"Gak usah seneng dulu. Gue terpaksa ngelakuin ini." Putus sudah harapannya saat mendengar ucapan sindir Elvan. Helen mendelik saat Elvan tiba-tiba menariknya. Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang bergandengan layaknya pada pasangan pada umumnya.


Helen menatap kagum melihat butik yang baru saja ia masuki. Ia memperhatikan satu persatu gaun yang terpajang pada patung-patung disana. Helen membayangkan dirinya ketika memakai salah satu gaun itu di resepsi pernikahannya bersama orang yang dicintainya. Helen tersenyum tanpa sadar, namun senyumannya menjadi garis lurus saat sadar ia akan menikah bukan dengan pria yang dicintainya.

__ADS_1


"Elvan, kamu sudah datang." Seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka.


"Waah.. ini calon istri kamu. Kamu cantik sekali, sayang." Puji wanita itu saat melihat Helen.


Helen tersipu malu.


"Tidak secantik itu, tante.." gantung Helen.


"Tante Ita, panggil saja aku Tante Ita." Sambung wanita yang diketahui bernama Ita.


"Baiklah, calon mertuamu bilang kalau kalian kesini untuk fitting baju, bukan? Ayo, kalian pilih gaun dan jas mana yang akan kalian kenakan di hari pernikahan nanti." Ita menutun Helen yang berjalan disampingnya. Elvan hanya mendengarkan percakapan dua wanita yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini dulu ya, tante akan ambilkan gaun yang sudah tante siapkan khusus untukmu." Ita mempersilahkan Elvan dan Helen duduk di sofa sudut yang berada di ruangan itu. Helen mengangguk seraya duduk. Begitupun dengan Elvan, ia juga duduk di sofa yang sama dengan Helen. Mereka duduk bersampingan dengan jarak yang cukup dekat.


Gandengan tangan mereka sudah lepas beberapa saat yang lalu. Hidung Elvan mencium wangi tubuh Helen yang menyeruak disampingnya. Wangi itu, ia merasa suka dengan wangi dari tubuh gadis itu. Elvan menatap Helen yang tampak terkagum-kagum melihat gaun-gaun indah didepannya. Helen yang merasa dirinya diperhatikan langsung melirik ke arah Elvan. Pandangan mereka bertemu. Elvan menatap mata biru di samping dengan lekat. Ia merasa seperti pernah melihat bola mata biru seperti itu. Helen kikuk saat Elvan menatapnya intens.


"Ciee.. Yang lagi tatap-tatapan." Elvan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara tante Ita yang menggoda mereka. Wajah Helen memanas saat Ita menggodanya dengan senyuman jahil.


"Tante, langsung aja berikan gaunnya." Suruh Elvan. Ia gugup karena sudah ketahuan menatap Helen. Setelah itu, ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia menggerutu dalam hati menyesal telah memperhatikan gadis itu.


"Baiklah, sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin melihat calon istrimu mengenakan gaun pengantinnya." Ita terkekeh semakin menggoda Elvan.


"Ayo Helen, biar tante bantu mengenakan gaun ini." Ajak Ita lalu berjalan ke arah ruang ganti dengan Helen yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


...****...


~BERSAMBUNG~


__ADS_2