
Beberapa menit yang lalu, saat Helen baru selesai memasak makam siang, ia langsung bergegas ke pintu utama saat mendengar deru mobil. Awalnya, ia mengira itu suara mobil Virgo yang hendak bertamu sehingga Helen berniat untuk menyambut kedatangan temannya itu, tetapi saat melihat keberadaan sosok Elvan dari balik jendela membuat Helen mengurungkan niatnya. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengunci pintu agar Elvan tidak bisa masuk ke rumah ini.
Dari balik jendela, Helen memperhatikan Elvan yang berbincang dengan pak Sofyan. Entah apa yang sedang mereka bicara hingga akhirnya Helen mendapati sosok lain yang berdiri di samping kiri pria itu. Karena tertutup badan mobil, Helen tidak dapat melihat dengan jelas orang itu, tapi ia tau, jika orang itu seorang wanita karena melihat dari rambutnya yang panjangnya sebahu.
Helen terus memperhatikan mereka hingga akhirnya Elvan berbalik dan disusul oleh wanita itu. Dari tempatnya berdiri, Helen akhirnya dapat melihat wajah wanita itu. Wajah wanita itu sama seperti wajah wanita yang ada di foto waktu itu. Foto yang Helen temukan di atas lemari saat tinggal di apartemen. Mengingat itu, Helen merasa hatinya tergores pilu. Karena foto itu, dulu Elvan sampai menampar pipinya.
"A-Alexa? Dia Alexa." Bisik Helen dengan langkah yang seakan terdorong ke belakang hingga akhirnya ia berdiri kaku tepat di depan pintu dengan Daniel yang menopang tubuhnya yang hampir tumbang.
Di depannya, Elvan dan Alexa berdiri berdampingan layaknya pasangan baru. Dengan pandangan yang lurus menatap manik mata Elvan, Helen bungkam saat pria itu menyerukan namanya.
"Helen." Suara Elvan menerobos masuk ke gendang telinganya. Entah mengapa Helen merasa sedih bercampur senang saat mendengar suara itu lagi.
"Helen." Ujar Elvan lagi saat Elvan hanya diam sambil menatap matanya lekat.
Elvan hendak mendekati istrinya itu saat suara Helen menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Keluar." Helen menatap Elvan lekat.
"Helen, kamu kenapa?" Kamu? Hah! Mengapa di saat seperti ini Elvan baru bisa memanggilnya dengan benar dengan sebutan itu.
"AKU BILANG KELUAR!" Bentak Helen dengan nafas yang menderu. Melihat Elvan dan wanita itu berdiri di hadapannya membuat Helen tersulut emosi. Hatinya terluka melihat kehadiran Elvan dan wanita itu.
"Helen dengerin aku dulu." Elvan maju mendekati Helen. Namun, wanita itu mundur seolah menghindari darinya dengan Daniel yang masih memapahnya.
"Aku bilang keluar, hikss.." lirih Helen, isakannya mulai keluar begitu saja.
"Helen, kamu mau aku keluar kemana? Ini rumah aku, rumah kita. Aku tau kamu pasti marah sama aku dan aku bakalan jelasin semuanya, tapi izinin aku masuk dulu ya?" Lirih Elvan pelan.
"Helen, please, jangan kayak gini, aku bisa jelasin semuanya biar kamu ngerti. Kamu mau dengar penjelasan aku kan?" Elvan menatap Helen penuh harap.
Elvan tau posisinya salah saat ini. Dirinya sangat tau jika Helen pasti kecewa melihat dirinya membawa Alexa bersamanya. Elvan cukup peka saat merasakan aura yang berbeda dari Helen saat wanita itu menatapnya. Tatapan wanita itu menunjukkan kemarahan dan kepedihan yang mendalam, Elvan tau itu.
__ADS_1
Helen mengangguk pelan membalas pernyataan Elvan, isakan pelannya masih terdengar dan itu semakin menambah rasa bersalah di hati Elvan.
Di dekat mereka, Alexa berdiri diam dengan koper yang masih berada di tangannya. Wanita itu bertanya- tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi barusan. Siapa wanita yang di depannya kini? Mengapa wanita itu menyuruh mereka pergi? Apa ia pemilik lama rumah ini? Tapi, mengapa Elvan tampak berbeda dihadapan wanita itu? Mengapa ia merasa jika Elvan bereaksi seperti orang yang telah melakukan kesalahan? Alexa bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini. Dari pada bertanya langsung, Alexa memilih diam dan menyaksikan drama yang sudah membuatnya kebingungan. Toh, jika Elvan ada bersamanya maka semuanya akan aman terkendali, pikir Alexa.
"Aku masuk ya?"
Helen menggeleng kuat dengan isakan yang belum berhenti. Ia ingin mendengarkan penjelasan Elvan tapi hatinya seakan tidak rela jika Elvan dan wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
"Hikss.. hikss.. hikss.." isakan Helen semakin keras saat dirinya bingung harus bersikap seperti apa. Raganya ingin cepat-cepat menghambur ke dalam pelukan hangat Elvan, tapi hal itu bertolak belakang dengan pikirannya.
"Helen, please, jangan kaya gini. Iya, aku salah sama kamu. Tapi tolong jangan nangis, aku gak sanggup liat kamu kayak gini." Elvan menatap wajah memerah Helen dengan sendu.
Mendengar penuturan Elvan membuat Helen semakin merasa sedih dan isakan tangisnya semakin terdengar pilu. Melihat itu, Elvan lantas menarik dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Di dalam kukungan lengan kokohnya, Helen menangis terisak menumpahkan seluruh kesedihannya. Elvan lah orang yang telah berhasil menggoreskan luka yang amat dalam di lubuk hatinya, tapi pria itu juga lah yang mampu membuatnya merasa nyaman dan senang secara bersamaan.
Daniel dan Alexa terdiam di tempat mereka. Keduanya sama-sama terbakar api cemburu melihat pasangab yang saling berpelukan itu. Bahkan, ingin rasanya memisahkan pelukan kedua orang itu. Dari tempatnya, Daniel menatap Alexa dengan alis yang terangkat sebelah.
__ADS_1
Sepertinya sebentar lagi sebuah drama akan dimulai, batinnya ketika melihat tangan Alexa yang terkepal kuat hingga kuku-kuku tangannya memutih.
Bersambung...