My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 61


__ADS_3

Happy Reading!!


Helen membandingkan dirinya dengan Ella dan Virgo. Rasanya, akan sangat bahagia jika memiliki kekasih sehumoris Virgo. Dan itu terbukti dari Ella yang terus tertawa gembira saat sudah berduaan dengan Virgo. Salahkah jika seandainya Helen lebih memilih Virgo untuk menjadi suaminya? Salahkan jika ia juga ingin tertawa bersama dengan Elvan? Ia ingin melihat suaminya itu tertawa seperti Virgo. Ia juga ingin Elvan memperlakukan dirinya sebagai seorang istri pada umumnya. Memikirkan itu membuat mata Helen berkaca-kaca.


Dari tempat duduknya, Virgo dapat melihat raut wajah Helen yang tampak sedih. Ia sangat yakin, jika Helen sedang memikirkan hubungannya dengan Elvan. Tidak dapat dipungkiri jika Virgo juga merasa sakit saat melihat keadaan Helen yang seperti itu. Sebagai seorang sahabat, seharusnya ia bisa membantu Helen. Setidaknya membuat gadis itu tertawa untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya. Walaupun ia juga tidak tau betul bagaimana perasaan Helen terhadap Elvan.


Helen mengalihkan pandangannya dari sepasang kekasih itu lalu Kembali menatap Elvan. Entah apa yang sedang dipikirkan suaminya itu, karna yang Helen lihat suaminya it uterus bungkam dengan tatapan yang lurus ke depan.


“Ekheem…” Helen berdehem berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Helen berjongkok di samping Elvan.


“Bagi makanannya dong, gue juga mau kasih makan ikan.” Helen membuka percakapan.


Elvan menoleh sekilas lalu menyerahkan toples yang berisi makanan khusus untuk ikan itu.


Kembali diam. Helen membisu sambal memberi ikan di depannya. Sesekali ia melirik Elvan yang masih menatap ikan-ikan hias yang bergerak dengan lincah.


Ikan hias yang berada di dasar kolam itu terlihat jelas karena airnya yang bersih. Di samping kanan kolam tersebut terdapat dua pohon pinang yang tumbuh subur walaupun masih berukuran kecil. Sedangkan di sebelah kiri kolam ada sebuah tiang yang diatasnya terdapat lampu, yang Helen yakin lampu itu akan menjadi penerang kolam itu jika malam hari dan yang paling menarik bagi Helen adalah bebatuan yang tersusun rapi di pinggir kolam dengan jumlah yang banyak dan ukuran yang berbeda-beda.


“Disini gak ada aquarium raksasa ya?” tanya Helen sedikit terpaksa. Rasanya hanya akan ada kesunyian yang menyelimuti mereka jika ia tidak mengajak pria di sampingnya itu untuk mengobrol. Walaupun sebenarnya terdapat beberapa pengunjung lain yang juga ikut bersama mereka untuk memberi makan ikan. Tetapi, walaupun demikian Helen merasa terasingkan, terasa aneh jika dirinya hanya diam sendiri sementara pengunjung yang lain tampak bahagia, saling bercanda, bercengkrama hingga berfoto bersama dengan teman-teman atau keluarga dan kekasih mereka. Sungguh mirih dirinya saat ini.


“Nggak.” Jawab Elvan singkat tanpa mengalihkan pandangannya.


“Kita berdua pergi dulu ya. Kalian disini aja, nanti kita kemari lagi.” Virgo bersuara dari seberang kolam. Ia terlihat memeluk pinggang Ella posesif.


Elvan dan Helen menoleh.


"Oke! Lo berdua jangan lama-lama ya perginya. Gak tahan gue didiemin terus." Helen melihat Ella dan Virgo yang tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


Elvan hanya mengangguk mendengar penuturan Virgo. Namun, setelah itu ia mengernyitkan mendengar perkataan Helen.


Virgo dan Ella beranjak dari tempatnya setelah sebelumnya mereka mengacungkan jempol mengiyakan penuturan Helen.


"Semangat!" Ujar Virgo pada Helen tanpa suara sebelum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.


Seperginya Ella dan Virgo, Helen kembali melemparkan makan ikan yang langsung di lahap oleh ikan-ikan tersebut.


"Ini namanya ikan apa sih?" Helen menunjuk seekor ikan berwarna orange kemerahan.


Elvan yang tadinya berjongkok kini berdiri setelah mendengar pertanyaan Helen.


"Koi." Ujarnya sambil menatap Helen, intens.


Helen memanyunkan bibirnya sambil mengalihkan tatapannya saat Elvan terus menatapnya begitu intens.


Kok natap gue gitu banget. Berasa punya salah gue. Gini nih Kulkas Rusak, taunya cuma nakutin orang aja, mentang-mentang punya mata tajam. Gue colok juga ntar tuh mata, dalam hati Helen terkikik saat memikirkan kembali rencana jahatnya yang tidak masuk akal. Mana berani ia melakukan hal sekeji itu pada Elvan. Bisa-bisa ia yang di colok duluan.


“Beli es krim yuk?” ajak Helen lalu menyelipkan tangannya di antara lengan Elvan.


Elvan tersentak saat tiba-tiba Helen menggandeng tangannya. Helen menyadari hal itu, namun baginya saat ini tidak penting membahas keterjutan Elvan atas apa yang ia lakukan. Yang harus ia lakukan adalah menjauhkan suaminya dari para remaja itu. Entah sejak kapan rasa cemburu itu tumbuh di dalam dirinya. Biarlah, lagi pula ia sedang dalam misi belajar untuk mencintai suaminya, lalu apa salahnya? Tidak ada. Yang salah itu, membiarkan suami sendiri menjadi bahan gosipan indah remaja-remaja centil, itulah yang Helen pikirkan.


“Gak, kita belum sarapan.”


Tuh kan, suaminya itu kembali lagi pada mode cueknya. Sabar ya Allah sabar.


“Kalo gitu kita pergi dari sini aja.” Ajak Helen lagi. Tak ap ajika Elvan tidak ingin membelikannya es krim, lagi pula ia tidak benar-benar menginginkannya saat ini. Itu hanya alasannya saja agar mereka jauh dari pandangan gadis-gadis itu.


Wah... wah… ngelunjak nih bocah. Makin lama makin deket aja, Helen menatap tajam dua orang remaja yang tadi berbisik-bisik kini semakin mendekati Elvan.

__ADS_1


Elvan menghela nafas. Ia berusaha menjauhkan tangannya dari Helen namun ditahan kuat oleh gadis itu. Sebenarnya ada apa dengan istrinya? Itulah yang dipikirkan Elvan.


Elvan menatap sekelilingnya dan ia baru menyadari, ternya sudah banyak pengunjung disekitarnya. Elvan menatap heran para gadis yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya bertambah heran saat gadis-gadis itu memekik kegirangan saat tatapan mereka bertemu.


Helen mencubit lengan Elvan membuat pria itu meringis.


“Aaakkh…”


“Ayo pergi.” Rengek Helen lagi.


"Tunggu mereka dulu." Elvan menatap Helen dengan kesal. Mereka yang dimaksud Elvan adalah Virgo dan Ella yang tak kunjung kembali setelah pergi beberapa menit yang lalu.


"Iihh kemana sih mereka? Katanya cuman sebentar. Tapi apa? Dari tadi nggak muncul-muncul." Rutuk Helen dengan wajah kesalnya. Ia benar-benar akan menyalahkan Virgo dan Ella karena gara-gara mereka ia tidak bisa membawa Elvan pergi dari tempat itu.


"Dorrr!!" Helen dan Elvan terperanjat mendengar suara Ella yang memekikan telinga dari belakang mereka.


"Ihhh, lo apaan sih? Untung jantung gue gak kenapa-kenapa." Helen mengelus dada yang sempat mencelos.


"Kalian kemana aja sih? Lama bener. Kita bosen tau gak nunggu kalian dari tadi." Cerocos Helen menatap Virgo dan Ella tajam. Sedangkan yang ditatap hanya menampakkan deretan gigi putih mereka.


"Ya udah ayo, kita pergi cari sarapan dulu. Setelah itu kita telusuri pantai ini." Virgo memberi usulan.


"Ayo!" Seru Helen dan Ella dengan semangat.


"Eeiitt.. tunggu dulu!" Ella merentangkan tangannya menghalangi jalan ketiga temannya.


Ella memancarkan tatapan yang mengintimidasi menatap Helen dan Elvan bergantian.


"Sejak kapan kalian jadi sedekat ini?" Tanyanya sambil melirik tangan Helen yang bertengger di lengan kokoh Elvan.

__ADS_1


Helen meneguk salivanya kasar saat menyadari kebodohannya. Sedangkan Elvan dan Virgo, berdiri kaku di tempat mereka.


Bersambung..


__ADS_2