My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 75


__ADS_3

Sepeninggalan Helen, Daniel Kembali memasuki mobilnya dan keluar dari area apartement mewah tersebut. Daniel sesekali bersenandung kecil meresapi rasa bahagia di hatinya.


“Siapa lo sebenarnya?” tukas Daniel dengan pandangan lurus ke depan.


Di lain sisi, Helen menghembuskan nafas lega karena telah sampai di depan pintu apartementnya. Namun, sesaat kemudian kelegaan itu berubah menjadi kekesalan.


“Masih ingat pulang lo?”


Sambutan yang cukup baik dari seorang Elvan Xavier Bramantyo yang kini tengah berkacak pinggang di depan pintu.


“Belum juga gue masuk selangkah udah main nyerocos aja Mas! Bisa gak marah-marahnya di pending dulu. Gue capek.” Helen yang sebelumnya sudah dibuat kesal oleh makhluk bernama Daniel kini bertambah kesal saat melihat tampang datar Elvan yang membosankan.


“Masuk.” Tukas Elvan datar.


"Iya tau, ini juga mau masuk." Kesalnya. Namun, saat hendak membuka pintu lebih lebar lagi, sesuatu yang kuat terasa menahan pintu tersebut. Setelah dilihat ternyata Elvan yang dengan sengaja menyangkalkan kakinya di depan pintu. Terjadilah aksi dorong-dorongan beberapa saat.


"Minggir ihh! Kaki lo minggirin dulu! Lo ngehalangin jalan kalo berdiri disitu. Gue gak bisa lewat." Helen menatap Elvan dengan kesal.


"Maunya apasih sih Kulkas Rusak ini, kan badan gue jadi kecepit pintu." Kesal Helen.


"Masuk." Tukas Elvan lagi sesaat setelah ia menggeser tubuhnya beberapa langkah.


Helen yang tadinya berdiri diambang pintu hanya bisa mendengus kesal.


Gue harus sabar kalau mau dapat cintanya dia, batin Helen sambil melirik Elvan yang kini sudah duduk bersandar di sofa depan TV.


Beberapa menit kemudian, setelah mengganti dressnya dengan piyama tidur, Helen kembali menghampiri Elvan yang masih di tempatnya tadi. Entah apa yang sedang pria itu lakukan karena sedari tadi yang Helen lihat pria itu hanya menatap benda berlayar datar di tangannya.


"Kamu ngapain Mas?" Tanya Helen saat telah duduk di samping Elvan.


Elvan menggeleng.


"Ngapain sih? Gak jelas banget, jawab dong jangan cuma geleng-geleng. Pendiam sih boleh tapi jangan kaya bisu juga kali." Karena rasa penasaran yang membuncang, Helen dengan kesal langsung menyambar benda pipih tersebut. Matanya seketika menajam.

__ADS_1


"Emangnya waktu di kantor gak cukup untuk kerja sampai-sampai harus dibawa ke rumah?" Tanya Helen sok serius. Mana berani dia dengan monster pendiam di depannya itu. Ck!.


"Kalau udah di rumah itu seharusnya waktu suami tuh untuk istri. Dimanfaatin sebaik-baiknya. Mesra-mesraan kek? Cinta-cintaan kek? Siram-siraman gitu.. atau apalah, yang penting buat istri bahagia. Bukan malah kerja terus." Gerutu Helen. Namun yang anehnya, ia malah semakin mendekatkan duduknya Elvan sehingga kini bahu mereka saling bersentuhan.


"Mau modus?"


"Haha! Tau aja." Plak! Ujar Helen sembari memeriksa sedikit hadiah berupa tamparan pada lengan Elvan.


"Kok keras Mas?" Plak! Lagi. Helen bertanya lalu kembali menampar atau lebih tepatnya meninju lengan Elvan yang otot-ototnya tercetak dengan jelas di balik piyama suaminya tersebut.


"Iya, keras hehehe.." Kali ini bukan lagi tamparan. Tapi, Helen dengan beraninya memijat-mijat lengan Elvan.


"Apaan sih!?" Elvan menyentakkan tangan Helen dari lengannya.


"Biasa aja kali Mas, gak usah kasar-kasar." Ucap Helen sembari mengusap tangannya.


Mendengar itu, Elvan melirik Helen sesaat.


"Gue bukan Mas lo. Lo pikir gue apaan dipanggil Mas-mas begitu?" Tumben bicara lebih dari tiga kata.


Elvan melirik Helen sambil bersedekap dada. Beberapa waktu terakhir ini, sudah lebih dari puluhan kali ia mendengar Helen menyebutnya Mas saat berbicara. Contohnya saat ini, sudah lebih dari dua kali gadis Toa itu memanggilnya Mas.


"Terus Mas maunya apa? Mau dipanggil apa? Di panggil Mas gak mau. Jadi Mas mau dipanggil apa biar romantis? Sayang, Cinta, My Husband, Baby, atau Hubby? Lebih cocok yang mana?" Cerocos Helen sambil mengapit lengan Elvan.


"Gak ada yang cocok."


"Kok gitu sih? Gimana kalau manggil kamu aja, kan lebih enak didengar dari pada kita pakai lo-gue. Iya kan?" Helen menyengir senang saat mendengar ide cemerlang barusan.


"Iya deh. Kayanya kita lebih bagusan pakai aku-kamu aja deh. Biar kesannya lebih waw." Kali ini Helen ngapit lengan Elvan lebih kuat.


“Terserah.” Pasrah Elvan. Toh! Percuma saja jika ia melarang. Sih Kepala Batu itu tidak akan mendengarkannya. Bahkan sudah beberapa minggu ini Helen selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Kamu’.


“Yeyy!” pekik Helen kelewat senang, sampai-sampai ia memeluk tubuh Elvan dari samping.

__ADS_1


“Diem lo, Kepala Batu.” Tukas Elvan dengan tampang datarnya.


“Kemarin-kemarin Toa, sekarang Kepala Batu. Hobby banget sih ganti-ganti nama aku. Cuman kamu loh satu-satunya cowok yang ngasih aku nama yang aneh-aneh.”


“Terserah.”


“Ya udah gak papa, semerdeka kamu aja. Yang penting kamu baik sama aku.”


“Tidur yuk? Aku udah ngantuk banget. Gak keras udah hamper jam 12 aja.” Helen menatap wajah Elvan dari samping. Rambut Elvan yang sedikit acak-acakan tampak begitu seksi di matanya.


“Duluan.”


“Ya udah, tapi nanti kamu tidurnya di kamar kita ya? Jangan di kamar sebelah.” Ujar Helen penuh penekanan.


“Iya.” Jawab Elvan sembari mengangguk singkat.


“Oke, aku tidur dulu. Ingat mulai besok kamu gak boleh pakai Bahasa lo-gue lagi. Jangan sampai aku denger kamu masih pakai lo-gue, kalau sampai aku denger bakalan aku *****-***** kamu.” Ancam Helen dengan seringaiannya. Sesaat kemudia senyum cerah menghiasi bibir pink alaminya.


“Diem tanda setuju. Ok! Fix, mulai sekarang harus pakai aku-kamu. Udah ya ngobrolnya, aku tidur dulu.” Ujar Helen lalu berlari ke arah kamar. Namun sebelum itu…


Cup


“Heh, Toa!” pekik Elvan sesaat setelah Helen mengecup pipinya kilat.


Helen tertawa kegirangan.


“Haha.. gratis! Hadiah dari aku, Sayang. Good night.” Helen tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mencuri satu ciuman di pipi Elvan. Setelah itu ia Kembali melangkah dan menghilang di balik pintu kamar.


“Night too.” Ujar Elvan sembari tersenyum tipis.


Elvan tertegun beberapa saat. Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia membiarkan Helen terlalu dekat dengannya? Mengapa senyum gadis itu dapat menular kepadanya? Akkhh!! Elvan mendesah kesal merasa aneh dengan dirinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2