
Alexa yang mendengar dirinya dicibir oleh bebarapa karyawan langsung menundukkan kepalanya dalam. Memang benar jika dirinya yang dulu sangat glamor dengan segala aksesoris mahal melekat di tubuhnya, tapi kini berbeda. Dirinya yang dulu telah hilang saat ia bertemu dengan Harvey. Pria kejam itu telah mengubah dirinya menjadi lebih baik. Alexa tidak menyangkal ucapan para karyawan itu karena memang apa yang mereka bicarakan adalah benar, dirinya yang dulu sangat sombong dan tak terkendali.
Elvan yang mendengar cibiran tersebut langsung berbalik dan menatap tajam para karyawan wanitanya. Sedangkan para karyawan itu langsung bungkam dan langsung menunduk takut.
"Siapa yang bicara barusan?" Tanya Elvan dengan datar dan terdengar dingin.
Beberapa karyawan mengangkat tangan mereka dengan takut. Lebih baik mengaku sekarang dari pada membuat atasan mereka lebih marah lagi karena ketidakjujuran mereka.
"Maaf, Pak." Ujar mereka bersamaan.
"Kalian mau saya pecat?" Para karyawan itu langsung pucat sambil menggeleng kuat.
"Maaf, Pak. Kami tidak akan mengulanginya lagi." Ujar salah satu dari mereka.
"Bagus." Elvan lalu berbalik dan berjalan menuju basement.
Para karyawan itu menghembuskan nafas lega karena mereka dibebaskan begitu saja. Sesuatu yang langka.
"Dasar perempuan gak tau malu. Pak Elvan kok mau aja sih terima perempuan itu lagi?" Karyawan yang mengenakan kemeja putih menatap kepergian Elvan dan Alexa dengan tatapan bencinya.
"Di pelet kali." Sahut karyawan yang tadi meminta maaf pada Elvan. Dasar!
Alexa lagi-lagi berjalan cepat untuk menyamakan langkahnya dengan Elvan.
"Kita mau kemana?" Tanyanya setelah berhasil berjalan di samping Elvan.
"Mau istirahat kan?" Suara Elvan terdengar tajam.
Alexa mengangguk kaku dengan tatapan bingung, pasalnya Elvan sangat berubah dari sebelumnya.
Mungkin dia lagi kecapean kali ya, makanya mood dia buruk gini, batin Alexa tanpa mengeluarkan suaranya lagi.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan Alexa lagi, Elvan langsung memasuki mobilnya. Pikirannya dan hatinya sedang kacau saat ini. Benaknya sedang bertanya-tanya apakah Helen sedang ada di rumah atau di kantor. Elvan ingin cepat-cepat sampai di rumahnya dan bertemu dengan wanita itu. Sepertinya rasa asing yang selalu ia pendam itu semakin timbul kepermukaan. Rasa rindu yang sama sekali tidak ingin Elvan akui kini kembali muncul di benaknya. Dengan kecepatan di atas rata-rata Elvan melajukan mobilnya agar lekas sampai di rumah dan berharap bisa bertemu dengan Helen langsung.
Mengapa rasanya aku ingin memeluk Helen saat ini juga? Semoga dia ada di rumah, batin Elvan dengan tatapan penuh harap menatap jalan raya.
Elvan benar-benar sangat egois karena dirinya mengharapkan keberadaan Helen di rumah itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Helen saat melihat dirinya membawa wanita lain ke rumah mereka.
Sepanjang perjalanan Alexa hanya diam mengikuti kebungkaman Elvan. Karena rasa bosan yang membuncang, Alexa kembali berusaha menarik perhatian Elvan.
"Kita mau ke rumah kamu kan?" Tanyanya sambil menatap Elvan.
"Hmm."
"Kamu lapar? Apa kita makan dulu aja?" Tanya Alexa lagi.
Mendengar pertanyaan Alexa membuat Elvan semakin merindukan Helen. Ia rindu masakan istrinya itu.
Elvan mengangguk singkat, namun tetap melajukan kecepatan mobilnya.
"Kamu marah ya sama aku? Apa karena aku ikut kesini lagi?" Dengan tatapan sedih Alexa melihat wajah datar Elvan.
Elvan menggeleng singkat tanpa susah payah menatap wajah Alexa.
"Kalo kamu gak marah, kenapa dari tadi kamu diamain aku? Bilang aja kalo kamu marah, jangan buat aku bingung sendiri kaya gini!" Ujar Alexa tampak marah.
Elvan lantas menoleh dan menatap Alexa datar.
"Semua yang kamu pikirin itu gak ada yang bener! Jangan suka mikir yang enggak enggak! Aku cuma mau cepet pulang dan kita makan di rumah!" Elvan berucap dengan satu tarikan nafas.
Bukan tanpa alasan Elvan membentak Alexa. Pikirannya sedang kalut dan Alexa seakan menambah beban pikirannya. Keberadaan wanita itu saja sudah mulai mengusik pikiran Elvan, ditambah lagi perkataan wanita itu yang semakin membuatnya pusing.
"Maaf aku gak bermaksud ngebentak kamu." Ujarnya dengan rasa bersalah tanpa menatap Alexa.
__ADS_1
"Aku tau kamu lagi capek." Sahut Alexa dengan senyum tipis sambil menyentuh lengan kokoh Elvan yang sedang menyetir.
Mobil yang Elvan kemudi berbelok di sebuah rumah yang mewah. Seorang satpam berlari kecil membukakan pagar untuk mobilnya masuk.
"Loh, aku gak pernah tau kalo kamu punya rumah disini. Kok kamu gak cerita?" Alexa ikut keluar dari mobil menyusul Elvan.
"Baru aku beli." Jawabnya singkat.
Satpam tadi datang menghampiri Elvan saat pria itu memanggilnya dengan lambaian tangannya.
"Helen ada di dalam Pak?" Tanya Elvan.
"Ada, Tuan. Sekitar satu jam yang lalu baru pulang diantar sama tetangga sebelah dan sekarang mereka sedang di dalam." Ujar Pak Sofyan dengan sopan.
Alexa yang berdiri di samping Elvan hanya diam mendengarkan.
"Kenapa diantar sama tetangga Pak? Mobil dia kemana? Bapak kenal siapa yang ngantar?" Tanya Elvan beruntun. Tidak biasanya Helen pergi tanpa menggunakan mobilnya sendiri. Apalagi sampai diantarkan tetangga segala. Ck! Lelucon apa itu? Pikir Elvan.
"Saya kurang tau Tuan. Dari kemarin saya tidak melihat mobil non Helen terparkir di garasi dan dari kemarin juga non Helen pulang pergi bersama Daniel, tetangga sebelah." Jelas pak Sofyan dengan sedikit menunduk.
Elvan mengernyit bingung. Apa Daniel yang itu?
"Ya udah Pak, saya masuk dulu."
"Baik, Tuan." Pak Sofyan mengangguk singkat melihat Elvan yang berlalu dari hadapannya lalu kembali ke pos nya.
Alexa mengikuti langkah Elvan yang menuju pintu utama dengan sesekali mengedarkan pandangannya ke penjuru depan rumah. Decakan kagum keluar dari bibirnya saat melihat betapa megahnya rumah bertingkat itu. Pasti nyaman jika tinggal di rumah ini, pikir Alexa dengan hayalan yang tinggi.
Elvan berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat itu dengan mengulum bibirnya, sesekali ia juga membasahi bibir bawahnya demi mengurangi rasa gugup yang ia rasakan. Entah mengapa Elvan merasa bersalah sendiri karena telah meninggalkan Helen tanpa mengabari istrinya itu sama sekali, tapi pria bren*sek itu. Mereka sedang berduaan di dalam sana dan Elvan benci itu.
Elvan melirik Alexa yang tersenyum ke arahnya sebelum menekan handle pintu. Dengan perlahan pintu yang memiliki dua daun pintu itu terbuka hingga lebar, menampakkan sosok Helen yang berdiri tegak di depan sana bersama Daniel di sampingnya.
__ADS_1
Bersambung...