
Happy Readingā¤
Helen membuka pintu di depannya dan mendapati Mommy mertuanya yang berdiri dengan anggun sembari tersenyum kepadanya.
"Mommy." Ucap Helen sedikit kaget. Tidak menyangka kalau Mommy mertuanya akan berkunjung ke kediamannya dan Elvan.
"Boleh Mommy masuk?" Ujar Miranda lembut. Helen tersenyum malu menanggapi ucapan Miranda.
"Boleh Mom, boleh. Helen sampai lupa ngajak Mommy masuk." Ujar Helen merasa tak enak sambil mencium punggung tangan Miranda setelah kesadarannya kembali beberapa detik lalu. Ia terlalu syok dengan kedatangan Miranda.
"Kamu baru pulang ya?" Tanya Miranda saat sudah duduk di sofa dan melihat tas yang biasa Helen kenakan untuk bekerja terletak tak jauh darinya.
"Hehe.. iya Mom." Kekeh Helen, sedikit merasa canggung.
"Maaf ya Mom, Helen gak buat apa-apa buat nyambut Mommy." Ucap Helen.
"Gak papa, sayang. Lagi pula Mommy kan datangnya juga mendadak, kamu gak perlu khawatir." Ujar Miranda.
"Sekarang kamu mandi gih. Setelah itu nanti kita masak makan malam." Miranda menyapu pelan puncak kepala Helen. Meyakinkan menantunya kalau ia tidak perlu merasa tak enak.
"Helen buatin minuman dulu ya buat Mommy." Ucap Helen lalu beranjak dari duduknya.
"Gak usah sayang, nanti kalau Mommy mau Mommy bisa buat sendiri. Kamu mandi aja dulu." Tolak Miranda merasa tak ingin merepotkan menantunya.
"Ya udah. Kalau gitu Helen mandi dulu, Mom." Pamit Helen dan diangguki Miranda.
"Mama tunggu kamu di dapur ya!" Miranda menaikan oktaf suaranya agar menantunya yang sudah berada di kamar dapat mendengar suaranya.
"Iya Mom!" Jawab Helen yang tak kalah kuat dari pintu kamarnya.
__ADS_1
Miranda cukup tau kebiasaan buruk menantu kesayangannya itu. Namun, hal itu tidak menyurutkan kasih sayang Miranda pada menantunya.
Miranda beranjak dari duduknya dan mengambil beberapa bingkai foto dari kotak yang ia bawa tadi. Ia memajang foto tersebut di berbagai sisi ruangan. Foto itu akan menjadi kenangan pernikahan Elvan dan Helen.
Miranda mengusap foto dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Mommy harap kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia. Saling mencintai satu sama lain, saling menjaga perasaan pasangan serta menjaga keutuhan rumah tangga kalian." Ujar Miranda pelan mengutarakan harapannya untuk rumah tangga putra dan menantunya.
21:00 WIB
Ruangan khusus yang selalu ditempati oleh CEO muda di perusahaan itu terlihat sedikit berantakan. Tepatnya meja kekuasaan Elvan yang sekarang dipenuhi dengan banyaknya lembaran kertas.
Elvan duduk di belakang meja dengan kondisi pakaian yang sudah tidak serasi tadi pagi. Lengan bajunya sudah ia tarik hingga siku dan dua kancing baju teratasnya sudah ia lepas, juga rambutnya yang sudah berantakan.
Kedua tangannya bertumpu pada siku sambil memijit pelipisnya. Rasa penat selalu menghampirinya jika sudah seperti ini.
Elvan menyambar jas miliknya yang tadi ia letakkan asal di sofa lalu menentengnya. Bagian bawah jas itu ia biarkan terseret di lantai saat ia menyusuri lorong yang sudah sunyi senyap itu.
Elvan sampai di apartemen beberapa menit kemudian. Di tangannya sudah terdapat satu kantong plastik yang berisikan martabak yang ia beli saat di perjalanan pulang.
Elvan menenteng plastik martabak tersebut di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih menggenggam jasnya. Elvan masuk ke apartemen tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah ingin segera menikmati martabak keju kesukaannya itu.
Elvan berjalan menuju kamarnya. Namun, sesuatu yang berasal dari dapur menarik perhatiannya membuat Elvan mengubah arah langkah kakinya.
Elvan berdiri di tempatnya sambil mempertajam pendengarannya. Ia mendengar suara orang yang sedang berbicara dan sesekali tertawa.
"Apa dia udah gila sampai-sampai bicara dan ketawa sendiri?" Tanya Elvan pelan. Namun, sebuah suara yang sangat dikenalnya membuat ia sedikit bingung.
"Mommy." Panggil Elvan dari pintu dapur.
__ADS_1
Miranda dan Helen menoleh dan mendapati Elvan yang baru pulang berdiri diambang pintu.
"Elvan, akhirnya kamu pulang juga, Nak." Miranda menghampiri anaknya.
Elvan menyalimi dan mencium pipi Mommynya, begitu pun dengan Miranda yang balik mencium pipi putranya.
Helen yang berada tidak jauh dari mereka hanya menyaksikan interaksi ibu dan anak tersebut.
"Kamu bawa apa?" Tanya Miranda lalu mengambil kantong plastik yang dibawa Elvan.
"Martabak Mom." Jawab Elvan.
"Kamu perhatian banget sih, sampai bawa makanan segala buat istri mu. Mommy seneng deh." Ucap Miranda sambil mengintip martabak tersebut dari celah kantong plastik.
Itu untuk Elvan sendiri Mom, Elvan membatin sambil melirik Helen yang memperhatikan dirinya.
"Iya Mom." Ujar Elvan sambil tersenyum melihat Mommynya.
"Kamu mandi gih, bau banget." Ujar Miranda sambil menutup hidungnya seakan ia merasakan bau yang amat menyengat dari tubuh Elvan.
"Enggak kok." Elvan mengendus-ngendus bau tubuhnya.
"Kamu bau, Mommy serius loh." Ucap Miranda.
"Iiih, Mommy apaan sih, gak bau juga." Rajuk Elvan lalu meninggalkan kedua wanita itu.
Miranda tertawa kecil melihat tingkah Elvan yang seperti itu. Sedangkan Helen tersenyum geli melihat bagaimana ekspresi Elvan tadi. Ternyata, suaminya itu sangat berbeda jika sedang berhadapan dengan Mommynya.
bersambung..
__ADS_1