
Malam hari, Helen membantu mamanya menyiapkan makan malam. Walaupun anak tunggal, Helen sudah diajarkan untuk menjadi anak yang rajin dan patuh kepada orang tua. Apalagi mamanya selalu mengajarkannya memasak berbagai jenis makanan. Helen sangat ingat perkataan mamanya saat mereka memasak bersama pertama kali.
Perempuan itu harus pintar memasak, agar nanti bisa menyiapkan makanan untuk suami. Perkataan mamanya membuat Helen selalu bersemangat jika memasak. Helen berharap jika suatu saat nanti ia sudah bersuami, ia bisa memasakkan makanan untuk suaminya setiap hari dan melihat suaminya menyantap makanan yang dibuatnya dengan lahap. Membayangkan itu membuat hati Helen menghangat.
Saat ini Helen dan mamanya sedang menyiapkan makan malam.
"Mom, Helen aja ya yang masak sambalnya." Ucap Helen pada mamanya.
"Memangnya sudah bisa?" Tanya Sandra sambil memotong wortel di tangannya.
"Bisa dong Ma, ini kan gampang, masak rendang aja Helen tau apalagi sambal goreng." Jelas Helen pada mamanya. Sandra dan Helen akan memasak capcay, ayam goreng, dan cumi cabai hijau sebagai menu makan malam. Makanan rumahan memang selalu menjadi pilihan keluarga mereka. Helen memasak sambal ayam goreng dengan telaten. Saat makanan yang di masak nya sudah selesai, Helen langsung menghidangkan masakannya di meja makan. Setelah itu kembali lagi ke dapur menghampiri mamanya.
"Boleh Helen bantu Ma?" Tanya Helen yang berdiri di samping mamanya.
"Boleh. Kamu bersihin cuminya ya." Suruh Sandra.
"Oke chef." Ujar Helen sambil mengacungkan kedua jempol nya. Helen mulai melaksanakan perintah mamanya.
Beberapa menit kemudian, Helen sudah memindahkan cumi yang sudah di masak ke dalam piring.
"Yey... selesaiii!!" Ujar Helen heboh lalu menghirup aroma cumi cabai hijau yang menggugah selera.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak, kamu itu ya kebiasaan." Komentar Sandra pada putrinya yang sangat hobby berteriak.
"Hehehe mau gimana lagi Ma, namanya juga sudah kebiasaan, Helen refleks." Ucap Helen.
"Iya tapi nggak bagus, jadi perempuan itu yang calm, yang ayu." Nasihat Sandra.
Helen memang sangat suka berteriak. Itu sudah jadi kebahagiaan tersendiri baginya. Bahkan dulu saat ia masih bersekolah hingga ke perguruan tinggi, ia selalu mendapat berbagai macam julukan. Salah satunya sih "Toa". Diantara julukan lainnya itulah julukan yang paling Helen ingat sampai sekarang. Helen tidak pernah malu mendapat julukan seperti itu, baginya itu sebuah kebanggaan sehingga orang-orang lebih banyak mengenalnya.
Menurut Helen, menjadi wanita pendiam seperti yang diinginkan mamanya itu tidak menyenangkan, selalu diam, tidak banyak bicara, tidak banyak teman, hari-hari orang seperti itu pasti sangat membosankan menurutnya. Helen lebih suka menjadi dirinya sendiri, yang selalu ceria, heboh, suka berteriak, dan keras kepala, walaupun mamanya selalu mengatakan agar ia berusaha merubah kebiasaannya itu.
"Ma, jadi diri kita sendiri itu lebih baik." Ucap Helen pada mamanya.
"Iya deh iya, kamu memang selalu menang dari Mama." Sandra mengalah pada putrinya. Memang jika suka berdebat dengan Helen tidak akan ada habisnya, selalu saja ada balasan kalau kita tidak mengalah lebih dulu.
"Malam, Pa." Sapa Helen.
"Malam, sayang." Balas Frans lalu duduk di kursinya. Sandra yang sudah duduk lebih dulu, mengambilkan makanan untuk suaminya dan diterima oleh Frans dengan senang hati. Mereka melalui makan malam dengan obrolan ringan yang membuat suasana makan malam mereka terasa hangat.
Selesai makan Sandra kembali ke dapur untuk mencuci piring dengan Frans yang setia menunggunya di atas meja bar kecil sambil duduk. Sedangkan Helen, setelah selesai membereskan meja makan, ia langsung pergi ke ruang keluarga untuk menonton tv dengan channel kesukaannya.
"Sayang, kemarin Bima telpon ku." Ucap Frans membuka obrolan.
__ADS_1
"Tumben sekali dia telpon, ada urusan apa Pa?" Bagaimana kabarnya dan Miranda?" Balas Sandra sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Kabar mereka baik-baik saja dan dia mengungkit soal perjanjian kita dulu." Frans menatap punggung istrinya.
"Perjanjian?" Sandra tampak berpikir.
"Oh iya, mama ingat. Wah tidak di sangka ya Pa. Tidak lama lagi perjanjian itu kita akan menjadi kenyataan." Sandra berbalik badan menatap suaminya dengan semangat.
"Iya Ma, Bima ingin anaknya dan anak kita segera dipertemukan." Frans menghampiri istrinya.
"Iya, Mama setuju Pa." Balas Sandra sambil menatap suaminya.
"Kita harus membuat acara pertemuan untuk mengenalkan mereka. Ayo Pa, kita bicarakan ini dengan Helen." Sandra menarik lengan suaminya dengan semangat. Frans tersenyum melihat istrinya yang sangat bersemangat jika membahas soal pernikahan.
"Kenapa Ma, kok kelihatannya senang banget." Helen mengalihkan tatapannya dari layar TV.
"Tentu Mama sangat senang karena Mama dan Papa ingin membicarakan soal masa depan kamu." Balas Sandra lalu duduk di samping putrinya itu.
"Masa depan? Mama seperti peramal saja, ingin membicarakan masa depan." Helen mengerutkan alis melihat mamanya.
"Iya sayang, sekarang Mama tanya, Helen belum punya pacar kan?" Tanya Sandra dengan serius.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~