
Helen tidak dapat menahan rasa senangnya hingga perkataan Elvan pun tidak lagi masuk kependengarannya. Ia terlalu melayang dengan rasa senang yang membuncang.
"Aaaaa!" Tiba-tiba Helen memekik saat merasa sentuhan yang begitu kuat pada kakinya. Ia langsung memdelik menatap Elvan yang menampakkan tampang tak bersalahnya.
"Sorry,"
What the...? Ah! Dasar arrogant, enak banget bilang maaf. Gak tau apa nih kaki rasanya sakit banget?, gerutu Helen membatin. Baru juga ngerasain seneng-senengnya malah udah dibuat kesel kaya gini. Benar-benar pria beku ini. Ck!
"Pelan-pelan dong, udah tau kaki aku lagi sakit, kamu gitu banget nyentuhnya. Kamu gak ikhlas ya pijitin kaki aku? Kalau iya bilang aja." Helen menatap wajah Elvan dengan sendunya.
Elvan tersentak saat mendengar lirihan Helen. Baru juga digituin udah sedih. Elvan tidak suka melihat wajah murung Helen.
"Gue ikhlas kok, baperan banget. Muka lo, gue gak suka." Ujar Elvan setelah mengalihkan tatapannya dari Helen.
Seketika senyum
__ADS_1
"Kenapa?" Elvan mengernyit saat mendapati Helen yang tengah menatapnya lekat sambil tersenyum tidak jelas.
Helen menggeleng pelan, namun tidak mengalihkan tatapannya.
Aneh, batin Elvan.
"Makasih ya. Kamu udah baik sama aku walaupun gak baik-baik amat." Ujar Helen sembari tersenyum manis. Ia meremas jemarinya saat melihat Elvan yang menatapnya begitu lekat.
Elvan mendengus. Perkataan Helen yang terus terang mengatakan dirinya tidak terlalu baik membuatnya kesal.
"Hahaha.." tawa Helen pecah melihat ekspresi Elvan yang sangat jarang ia lihat. Ternyata, pria itu juga bisa menampilkan ekspresi wajah yang begitu imut, menurut Helen.
Elvan bungkam, ia memutar bola matanya malas sambil menatap Helen yang terkikik geli sambil melihatnya.
"HELEN..!" Pekikan Ella terdengar jelas membuat Helen menghentikan tawanya. Begitu pun dengan Elvan. Pria itu langsung menjauhkan kaki Helen dari pahanya. Pijitannya seketika berhenti membuat Helen merasa sedikit heran. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Elvan begitu tidak ingin hubungan mereka diketahui oleh Ella? Secepat mungkin Elvan turun dari ranjang seakan-akan ia tak berniat sedikit pun membantu Helen.
__ADS_1
Ella memasuki ruangan itu lalu disusul oleh Virgo yang berjalan di belakangnya sambil menenteng kresek hitam.
"Helen, lo kenapa? Elvan bilang kaki lo terkilir. Kok bisa kaya gini sih?, lo ngapain aja sampai bisa kayak?" Cecar Ella dengan raut yang jelas terlihat khawatir.
Helen tersenyum manis menatap Ella sambil membalas remasan jari Ella pada jemarinya.
"Gue nggak papa kok."
"Selalu aja. Udah jelas kaki lo terkilir kayak gini masih aja bilang nggak papa. Jadi yang apa-apa menurut lo itu gimana?" Ujar Ella tajam. Ella tau jika Helen adalah gadis yang kuat, tidak mudah mengeluh. Tapi, kali ini Ella benar-benar kesal saat mendengar perkataan Ella yang mengatakan jika ia tidak apa-apa.
Helen menyengir sambil mengusap pangkal hidungnya. Ia tau kalau Ella sedang khawatir kepadanya.
"Beneran gue gak papa. Lagian ini gak parah banget kok. Palingan kalau udah di kasih salep langsung baikan." Ujar Helen meyakinkan Ella.
Elvan dan Virgo hanya diam melihat mereka berdua tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun. Hal inilah yang membuat Elvan takut. Melihat bagaimana sayangnya Ella pada Helen membuat Elvan takut jika Ella mengetahui pernikahannya dengan Helen. Ia takut jika Ella tidak akan membantunya lagi jika mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Membantunya untuk mencari Alexa, wanita pujaan hatinya.
__ADS_1
TBC