My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 103


__ADS_3

Helikopter yang membawa Elvan dan Alexa telah mendarat di atas gedung perusahaan pria itu setelah tadi melakukan transit di bandara Soekarno-Hatta. Elvan keluar dari heli disusul oleh Alexa yang berjalan di belakangnya.


Dengan senyum cerah, Alexa menatap punggung Elvan yang tampak kokoh di tempatnya. Membiarkan Elvan berjalan di depannya, Alexa lantas menarik nafas dalam lalu menatap sekelilingnya. Dari bangunan tinggi itu, Alexa dapat dengan jelas melihat putihnya awan dan luasnya kota Jakarta. Alexa juga dapat melihat puncak-puncak bangunan yang tingginya tingkat kalah dari bangunan yang ia berpijak kini.


Alexa mengangguk-angguk pelan, akhirnya apa yang ia inginkan dapat kembali terwujud. Akhirnya ia lepas dari jangkauan Harvey, walaupun sebelumnya ia sudah putus asa untuk bisa lari dari genggaman mafia kejam itu.


"Lexa ayo turun." Suara Elvan menyadarkan Alexa dari rasa leganya yang amat membuncang. Wanita itu lantas langsung berlari kecil untuk menyusul Elvan yang sudah hendak memasuki lift. Sesaat hendak menghampiri Elvan, Alexa melihat orang-orang berpakaian hitam berjejer rapi sembari membungkukkan badan mereka saat ia melintas.


"Aku seneng banget bisa pulang ke Indonesia." Ucap Alexa dengan girang lalu menggandeng lengan Elvan.


Elvan hanya tersenyum tipis membalas pernyataan Alexa barusan sambil berusaha melepaskan lengannya dari jangkauan Alexa, tanpa menyinggung perasaan wanita itu. Setelah melepaskan lengannya dari tangan Alexa, Elvan lantas memasukkan tangannya ke dalam saku celana bahannya.


"Hmm, kamu mau langsung kerja atau gimana?" Alexa menatap Elvan yang berdiri sedikit jauh darinya, pria itu tampak memberi jarak dengannya. Bukannya tidak sadar, tidak, Alexa bahkan sangat peka jika sikap Elvan mulai berubah saat mereka bertemu. Perubahan itu tampak sangat jelas ia rasakan walaupun Elvan masih mau bersikap baik padanya. Alexa tidak akan meminta lebih, karena semua dimulai dari kesalahannya juga, walaupun campur tangan Elvan juga ikut membuatnya pergi dari kehidupan pria itu dulu. Tidak! Tidak seharusnya Alexa menyalahkan Elvan, karena faktanya semua itu termasuk rencana Harvey. Pria itu sangat terobsesi untuk mendapatkan Alexa.


"Kenapa?" Tanya Elvan singkat. Pikirannya kini mulai terpecah belah sedari mereka tiba di negara ini.

__ADS_1


"Aku-kalau bisa kita langsung pulang aja ya? Badan aku rasanya capek, aku mau istirahat di rumah." Terang Alexa lalu mengulum bibirnya.


Elvan yang tadi menatap datar pintu lift langsung menoleh ke arah Alexa yang berdiri di sampingnya, helaan nafas keluar dari mulutnya.


Ting!


Pintu lift terbuka menyadarkan Elvan dari keterdiamannya. Tanpa menjawab permintaan Alexa, Elvan langsung keluar meninggalkan lift. Melihat itu Alexa langsung saja mengejar Elvan dan mensejajarkan langkah mereka.


"Kamu mau langsung kerja ya?" Alexa menolehkan wajahnya ke samping guna menatap wajah Elvan yang tiba-tiba saja terlihat lebih datar dari sebelumnya.


Para karyawan yang berada di dekat mereka menatap dengan sorot mata yang tampak bingung juga penasaran.


"Loh itu kan Pak Elvan."


"Itu bukannya pacarnya yang hilang itu ya?"

__ADS_1


"Waduh ngapai tuh cewek centil ngejar-ngejar calon gua."


"Iya, itu sih Alexa itu kan? Kok penampilannya beda dari yang dulu ya? Kemana perginya gaya glamor dia itu?"


"Si*lan! Saingan gua balik lagi. Ngapain pulang lagi sih, hilang aja sono."


"Aduhh, Pak Elvan ganteng banget sih, kan aku jadi tambah cinta."


"Kok Mak Lampir itu bisa ada disini? Bukannya dia udah ninggalin pak Elvan ya?


"Kok dia balik lagi sih? Dasar gak tau malu!"


Suara cibiran juga ungkapan kagum masuk ke pendengaran Alexa maupun Elvan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2