
Dua minggu kemudian,
Malam telah berlalu, bintang telah menghilang, cahaya pun kian bersinar,bunga-bunga bermekaran. Semua telah berubah, tapi tidak untuk selamanya karena esok hari ataupun nanti, malam dan bintang akan kembali hadir. Cahaya akan kembali bersinar dan bunga akan kembali mekar. Andai saja hal itu berlaku untuk semuanya, maka Helen tidak perlu merasa kehilangan. Andai saja kematian bisa berubah menjadi kehidupan, maka Helen tidak akan sesedih ini kehilangan Daniel. Cerita mereka, percintaan mereka, mengapa harus serumit ini? Mereka tidak diizinkan untuk bersama. Dari awal seharusnya mereka tidak membuat cerita yang berakhir perpisahan. Tapi tidak demikian, Helen tidak menyesali hal tersebut. Daniel bagian dari cerita hidupnya, Daniel Sebagian dari hatinya, dulu. Daniel pria yang ia cintai, dulu. Daniel penyemangat hari-harinya, dulu. Walaupun demikian, Helen tetap ingin melihat wajah itu, setidaknya untuk yang terakhir kalinya. Tapi takdir berkata lain. Dengan tega takdir menyakitnya. Takdir tidak ingin ia melihat wajah itu. Takdir tidak ingin ia melihat Daniel yang terbujur kaku. Takdir tidak ingin ia mengantarkan Daniel ke pemakamannya.
Helen mengusap air matanya yang mengalir tanpa perintah. Ia kembali mengingat Daniel dan kisah mereka. Ia kembali mengingat bagaimana baiknya dan perhatiannya Daniel. Ia kembali mengingatkan pertemuan pertama mereka setelah kecelakaan itu. Helen terisak, bagaimana bisa ia tidak mengenali Daniel saat itu.
“Jangan menangis lagi.” Suara datar itu menginstruksi Helen.
Ia lantas mendongak, menatap Elvan yang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang berada di saku celana. Pria itu baru saja pulang kerja dan langsung disambut dengan isakan Helen yang sering ia dengar akhir-akhir ini.
"Jangan menangis. Daniel tidak akan kembali hidup kalau pun kamu memintanya dengan tulus." Ucap Elvan. Bukan tanpa sebab ia berkata demikian. Helen baru saja kembali dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, ia tidak ingin kondisi istrinya memburuk karena terlalu memikirkan Daniel.
Helen menggeleng lalu memeluk Elvan yang sudah berada di sampingnya.
"Aku hanya rindu." Jawabnya singkat.
"Apa kamu pernah menangis seperti ini karena merindukan ku?" Tanya Elvan lekat seraya menatap Helen lekat.
"Daniel pergi untuk selama-lamanya. Jika kamu pun begitu, aku juga akan menangis. Jadi wajarlah kalau aku menangis dan merindukannya. Dia tunangan ku." Jawab Helen tidak ingin kalah.
"Aku suamimu. Status mana yang lebih tinggi?" Kata-kata itu meluncur begitu saja. Tidak tersirat kemarahan di suaranya ketika ia berujar demikian. Elvan hanya ingin memperjelas agar Helen tidak semakin larut dalam kesedihannya.
Helen terdiam cukup lama membuat Elvan mengurai pelukan mereka. Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun.
"Elvan, dimana buku diary itu? Aku yakin kamu pasti sudah membaca dan menyimpannya." Helen menatap Elvan serius.
"Sudah aku buang." Elvan berujar asal.
Helen membelak kaget.
"Kamu gila ya? Kenapa membuang buku orang lain sembarangan?" Ucapnya marah. Ia bahkan langsung turun dari ranjang dan mendekati Elvan.
"Kamu buang kemana buku itu?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
Hanya buku itu yang tersisa dari Daniel. Hanya buku itu yang bisa ia lihat dan pegang untuk mengenang Daniel. Tapi apa yang baru ia dengar barusan langsung membuatnya ingin meledak. Bisa-bisanya Elvan membuang buku kesayangannya itu. Tidak tahukah Elvan kalau buku diary itu butuh waktu bertahun-tahun untuk menjadi barang berharga?.
Elvan tersenyum lembut, membuat Helen mengernyit bingung.
"Aku hanya bercanda sayang. Buku itu ku simpan di laci lemari pakaian." Bisiknya di telinga Helen.
Helen bergedik ngeri dibuatnya. Ia berdiri kaku di tempatnya saat Elvan menatap matanya lekat dengan jarak yang sangat dekat.
"Aku tidak mungkin membuang buku itu karena aku tau buku itu pasti sangat berarti untukmu. Aku juga tidak ingin kamu bersedih jika buku diary itu benar-benar hilang." Elvan seakan berbisik di telinganya membuat Helen susah payah menelan salivanya.
Elvan memberi jarak dan kembali tersenyum menatap Helen.
"Aku senang melihatmu yang seperti ini. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, pendiam dan banyak melamun." Elvan mengulurkan tangannya, mengusap pelan puncak kepala Helen dengan senyum yang tidak surut.
Hal itu membuat Helen berdebar, wajahnya bersemu. Ia sangat malu menatap Elvan, tidak seperti biasanya. Helen lantas bergerak cepat membalikkan tubuh Elvan lalu mendorongnya memasuki kamar mandi. Bisa-bisa jantungnya lari dari tempatnya jika ia masih berdiri di dekat Elvan. Setelah itu Helen langsung mencari buku diary tersebut di tempat yang dimaksud oleh Elvan lalu membawanya ke ranjang.
Tahun ini, bulan ini, hari ini, hidupku bagaikan roller coaster. Rasanya baru kemarin kita merajut kasih. Rasanya baru kemarin kita saling mengenal. Rasanya baru kemarin juga pertunangan kita dilakukan. Hatiku sangat hancur. Apa salahku? Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah sehingga daddy memisahkan kita? Apakah daddy Bill sudah tidak percaya kalau aku yang terbaik untukmu? Yang bisa membahagiakanmu?
Mengapa Daniel, mengapa daddy Bill membatalkan pertunangan ini? Apakah karena masalahnya dengan papa ku atau karena ia yang lebih memilih Meidi? Daniel, tidak pernah terbayangkan olehku kalau kita akan berakhir seperti ini. Aku tidak tau harus melakukan apa agar semuanya baik-baik saja. Aku sungguh bingung, rencana yang telah kita susun hancur berantakan. Saat ini aku belum bisa menangis di pelukanmu. Aku tidak bisa mengutarakan semua isu hati ku. Jarak telah memisahkan kita, membuat aku tidak bisa melakukannya.
Daniel, aku sangat mencintaimu. Kau laki-laki pertama yang menjadi cinta pertamaku setelah papa. Aku yakin, akan sangat sulit bagiku untuk melupakanmu jika daddy Bill tetap ingin memisahkan kita. Walaupun begitu, kita akan mencobanya. Kita akan memperbaiki keadaan yang salah. Kita akan mencari solusinya. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja jika perasaan kita tetap sama.
I love you, Danielku.
Kini Elvan dan Helen sedang dalam perjalanan menuju makam Daniel. Butuh waktu beberapa hari untuk Helen meyakinkan dirinya menziarahi pemakaman itu. Sesampainya disana, Helen meneteskan air matanya. Masih tidak menyangka Daniel pergi secepat ini. Helen mengusap batu nisan di depannya dengan lembut. Gundukan tanah yang masih basah itu menjadi tempat tinggal Daniel kini. Helen menutup mulutnya, menahan isakan yang hampir saja keluar. Ia membaca tulisan di batu nisan itu dalam hati seraya menggigigit bibirnya kuat. Hatinya sungguh hancur ketika melihat orang yang pernah ia cintai pergi meninggalkannya, pergi jauh darinya untuk selamanya.
Elvan mengelus bahu Helen, menenangkan istrinya.
“Daniel, tenanglah di alam sana, jangan hiraukan kami yang bersedih karena kepergianmu. Kami tidak menyesal, aku juga, jadi jangan bersedih jika kamu melihat air mata terus berjatuhan untuk beberapa waktu ini. Kamu pria yang hebat, kamu pria yang lembut dan baik hati. Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu, pernah mencintaimu, karena kamu memang pria yang pantas untuk dicintai. Maafkan aku jika selama ini aku terlalu menyakitimu. Maafkan aku karena tidak mengingat tentang kita waktu itu. Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk menjadi istrimu. Aku mencintaimu, pada waktunya.” Helen menyeka air matanya yang membasahi pipi. Sejujurnya, ia sangat ingin memeluk Daniel jika saja raga pria itu masih ada di hadapannya. Tapi keinginan itu mustahil untuk terpenuhi, Helen hanya bisa memeluk batu nisan di depannya dengan lembut, dengan perasaan sedih yang amat sangat. Ia bahkan tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata.
Setelah menabur bunga dan air di pusara Daniel, Helen dan Elvan kembali memasuki mobil mereka. Hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka untuk beberapa saat sebelum akhirnya suara Elvan menarik Helen dari lamunannya.
“Sayang, aku mau ngomomg sesuatu tapi kamu jangan marah ya?” Elvan menatap Helen sekilas.
__ADS_1
Helen menoleh, meneliti wajah Elvan yang selalu tampan.
“Ngomong aja.” Jawabnya singkat.
“Janji dulu.” Elvan mengulurkan kelingkingnya.
“Iya, janji.” Helen menautkan kelingking mereka.
“Cepetan cerita.” Desaknya karena Elvan belum juga menceritakan apapun.
Elvan terkekeh, ia sangat suka melihat wajah cemberut Helen.
“Sebenarnya di hari kecelakaan kamu waktu itu, sorenya aku ketemu sama Alexa. Maaf karna aku gak jujur sama kamu.” Elvan menarik tangan Helen, membawanya ke atas pangkuannya lalu menggenggamnya erat. Ia menatap Helen dengan lembut dan tulus.
Helen diam mendengarkan.
“Alexa sebenarnya mau ketemu sama kamu, tapi dia malu. Jadi, dia minta aku untuk menyampaikan permintaan maaf dia. Dia nyesel udah punya rencana jahat untuk menghancurkan rumah tangga kita. Sekarang Alexa udah kembali luar negeri bersama kekasihnya, Harvey. Kamu mau kan maafin dia?” Elvan menatap Helen sejenak lalu kembali fokus ke depan.
Helen memperhatikan wajah Elvan, mencari kebohongan disana. Tidak lama setelahnya ia mengangguk.
“Aku maafin dia. Sampaikan juga permintaan maaf ku karena pernah ngomong kasar sama dia.” Ujarnya kemudian.
“Pasti. Makasih, sayang.” Elvan kembali mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Helen dengan sayang. Mereka tersenyum, akhirnya masalah mereka selesai.
Bersambung...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....
...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...
...Terima kasih🙏...
Guys mengingat untuk My Cold Husband is A CEO sebentar lagi akan tamat. Author juga punya novel yang kedua nih sebagai penggantinya, yang berjudul "MENIKAH DENGAN DUDA" jangan lupa ya dibaca novel kedua ku juga, pokoknya gak kalah seru deh. Makasih🙏
__ADS_1