My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 23


__ADS_3

**Malam hari**


Sesudah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, Helen bergegas mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama Elvan. Beberapa saat yang lalu, Elvan sudah pulang bersama Mommynya.


"Gimana ya cara buat sih Kulkas berjalan itu biar gak irit bicara. Gue senyumin di cuekin, gue jelek-jelekin dia diam. Itu Kulkas kok beda banget ya sama orang tuanya?" Helen terheran-heran sendiri memikirkan Elvan sembari mengucir rambut panjangnya.


"Ah.. terserah deh, gak penting banget." Helen kesal sendiri saat tidak menemukan cara untuk bisa menarik perhatian Elvan.


Tidak berapa lama, suara Sandra terdengar memanggil namanya.


"Sayang, kamu sudah siap belum? Elvan sudah menunggu di depan." Suara Sandra terdengar begitu jelas di pendengarannya.


"Sudah Ma. Bentar lagi Helen turun kok." Jawab Helen dengan berteriak. Helen mengambil tas nya lalu ia sampingkan di bahu. Suara Sandra tidak lagi terdengar.


Helen menekan handle pintu lalu melangkah menuruni tangga. Dilihatnya Elvan yang sedang bercengkrama dengan Papanya di sofa empuk yang berada di ruangan keluarga.


"Night, Pa." Sapa Helen.


"Night, Sayang." Frans tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya.


Elvan memperhatikan dua orang di depannya dari tempat duduknya.


"Kalian mau berangkat sekarang?" Elvan mengangguk, mengiyakan pertanyaan Frans lalu berpamitan kepada calon mertuanya itu.


"Kami pergi dulu ya, Om." Pamit Elvan ramah sembari menyalimi Frans.


"Iya Nak. Kamu jaga baik-baik anak Om ini ya." Frans menepuk bahu Elvan pelan.

__ADS_1


"Helen pergi dulu ya Pa." Helen melakukan hal yang sama dengan Elvan.


Frans mengangguk.


"Pulangnya jangan terlalu malam." Frans memperingati.


"Iya Om." Jawab Elvan mantap. Setelah itu beranjak memasuki mobilnya.


Elvan melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang diterangi oleh lampu-lampu yang berjejer rapi dipinggir jalan.


"Lo udah makan." Tanya Elvan memecah kesunyian.


Helen menatap Elvan sekilas.


"Belum." Jawab Helen seadanya.


Elvan diam tak menanggapi, kembali fokus pada jalan di depannya.


Elvan melirik Helen sekilas. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat wajah Helen yang terlihat bete. Sepertinya sekarang ia punya hobby baru untuk membuat Helen kesal.


Elvan menghentikan mobilnya di basement apartement.


Helen menatap heran sekelilingnya.


"Loh kita ngapain kesini". Helen menatap Elvan bingung.


"Turun." Suruh Elvan dan mengabaikan pertanyaan Helen.

__ADS_1


Helen mendengus kesal lalu turun mengikuti Elvan yang sudah berjalan ke arah lobby.


"Tungguin gue, Kulkas!" Teriak Helen sambil berjalan cepat menyamai langkah Elvan.


"Kita ngapain sih kesini?" Helen memiringkan kepalanya menatap Elvan.


"Kalau lo gak jawab, gue pulang sekarang!" Ancam Helen lalu menghentikan langkahnya.


Elvan berdecak kesal. Ia benci orang yang banyak tanya.


"Lo bisa gak, gak usah banyak tanya?" Elvan terlihat marah lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Helen pasrah. Diikutinya langkah Elvan yang hendak memasuki lift. Saat di dalam lift, Elvan masih saja tidak menjawab pertanyaannya. Helen berdiri di sudut kanan, sedangkan Elvan tepat berdiri di tengah ruangan berbentuk kotak tersebut dengan kedua tangan yang berada di saku celana.


Ting!


Mereka sampai di lantai 8, Helen memperhatikan suasana di sekelilingnya. Melihat kesunyian disekitarnya membuat berbagai pemikiran buruk muncul di kepalanya.


Apa dia mau bunuh gue. Iya, dia pasti mau celakain gue. Kalau gak untuk apa dia bawa gue kemari. Gue harus cepat-cepat lari kalau gini ceritanya, batinnya.


Helen bersiap-siap hendak berbalik dan melarikan diri, namun suara Elvan menghentikan aksinya yang bahkan belum dimulai.


"Sini lo!" Suruh Elvan yang sudah berdiri di depan pintu dengan nomor 11A.


"Aaaa.. Mama, Papa tolong Helen." Teriak Helen sambil kabur dari apartement itu.


"Ehh.. Lo sini jangan kabur." Teriak Elvan ke Helen.

__ADS_1


Dasar cewek aneh, batinnya.


BERSAMBUNG..


__ADS_2