My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 53


__ADS_3

Happy Reading💖


Helen tergelak singkat. Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Helen asik memperhatikan Elvan dengan tatapan kagumnya. Rambut suaminya itu sudah tampak berantakan, sementara lengan kaos panjangnya sudah ia tarik hingga siku.


Kenapa pesonanya sangat luar biasa?, Helen membatin.


Ia tersenyum sambil terus memperhatikan gerak gerik Elvan, hingga Elvan yang merasa diperhatikan menoleh ke arahnya.


Mati gue, Helen buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Elvan menatap Helen dengan malas dari posisinya berdiri. Ia sadar jika akhir-akhir ini Helen selalu mencuri-curi pandang kepadanya. Elvan berjalan mendekati Helen yang masih memalingkan wajahnya dengan sesekali menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.


Aduh.. ngapain dia kemari, jangan-jangan dia tau lagi kalau gue dari tadi liatin dia terus, Helen membatin saat melihat Elvan dari ekor matanya yang berjalan mendekatinya.


Mama, anak mu malu, Helen memicingkan matanya agar wajahnya tidak merona.


"Helen, i-itu di rambut, di rambut lo ada ulat ijonya." Ujar Ella yang sudah geli sendiri melihat hewan itu.


Helen langsung membelakkan matanya saat mendengar ucapan Ella yang sedikit terbata.


"AAA..! ELVAN..!" Pekik Helen sambil menepis-nepis rambutnya cepat. Tangannya bergerak lincah mengibas-ngibaskan rambutnya agar hewan yang sangat tidak disukainya itu menyingkir dari atas rambutnya.


"ULAT.." teriak Helen lagi saat ulat berwarna hijau itu jatuh dan mendarat di punggung kakinya.


Helen refleks melompat dan langsung memeluk Elvan yang sudah berdiri di depannya.


"Elvan, ada ulat." Helen merengek lirih mengadu kepada Elvan.


Elvan yang mendapat pelukan dadakan sedikit terhuyung ke belakang.


Ella yang melihat Helen ketakutan melepaskan tawanya hingga matanya sedikit berair. Sementara Virgo, menggeleng-geleng tak habis pikir melihat tingkah kedua gadis itu.


Elvan membiarkan Helen memeluk tubuhnya. Tidak ada respon sedikit pun dari Elvan untuk mengusap punggung istrinya itu atau pun menenangkannya.


Helen menarik tubuhnya kembali saat merasa sedikit tenang. Ia menajamkan pendengaran serta tatapannya pada Ella yang terpingkal-terpingkal menertawakan dirinya.

__ADS_1


"Puas?" Tanya Helen kesal.


Helen mengangguk senang. Sedetik kemudian ia langsung menghentikan tawanya saat melihat Helen yang akan melayangkan sepatu biru miliknya kepadanya.


"Ok ok gue diem." Ella tampak menyerah sembari mengacungkan kedua tangannya.


"Ck!" Elvan berdecak.


"Apa kalian tidak bisa bersikap dewasa sedikit pun?" Tanyanya sambil menatap tajam Helen dan Ella.


Kedua gadis itu memilih bungkam dari pada menjawab. Toh, mereka juga yang akan salah dan kekanakan di mata Elvan sih pria sok dewasa itu.


"Kalian harus mencari bantuan selama kami masih disini untuk menangani kerusakan mobil itu." Ujar Elvan to the point.


"Tapi disini gak ada siapa pun." Helen menatap Elvan tak habis pikir. Bagaimana bisa mereka akan meminta bantuan jika tidak ada seorang pun yang tampak tinggal di daerah itu.


"Kalian berdua harus berjalan ke arah yang kita lewati tadi. Di perempatan jalan sekitar dua kilometer dari sini tadi gue ngeliat keramaian." Jelas Elvan sambil bersedekap dada.


"Hmm." Ella berdiri dan menepuk-nepuk celananya untuk menghilangkan debu yang menempel pada celananya.


"Tapi gue gak liat ada keramaian dari tadi." Helen masih berdiri di depan Elvan dan menatap heran suaminya itu.


Skakmat. Helen memanyunkan bibirnya merasa tersindir.


"Helen, mendingan kita pergi sekarang." Ella yang sudah jengah melihat perdebatan dua orang di dekatnya menarik Helen untuk menjauh dari Elvan.


"Dasar KULKAS RUSAK!" Teriak Helen sambil menoleh ke belakang melihat Elvan.


Ck! Elvan berdecak kesal melihat Helen yang tidak pernah mau langsung mengikuti perkataannya. Gadis itu selalu saja mengajaknya berdebat terlebih dulu.


Helen menghentakkan kakinya kesal mengikuti Ella yang masih menggandeng tangannya.


"Apa kita lagi kencan, dari tadi gandengan mulu?" Tanya Helen kesal.


Ella terkekeh.

__ADS_1


"Kenapa? Lo mau kita beneran kencan?" Tanyanya balik bermaksud menggoda Helen.


"Amit-amit." Helen bergedik ngeri sambil menarik tangannya.


Mereka berjalan beriringan menempuh jalan bebatuan yang berdebu. Helen dan Ella ngos-ngosan sambil menunduk merasa lelah menempuh jalanan yang tak kunjung habis.


Ella melirik Helen yang tidak jauh darinya.


"Ini masih jauh ya?" Tanyanya terengah-engah.


"Mana gue tau." Jawab Helen yang sudah terduduk di atas rumput pendek.


"Sial banget sih, tau gini mending gue pergi ke Bali aja, bisa liat bule yang hot, kan lebih enak." Gerutu Ella.


"Ini juga karna pacar lo yang kasih ide. Katanya enak, tapi apa? Dari tadi gue gak ngerasain enak sedikit pun." Helen menambahi.


Ella mengangguk.


"Ah gue haus, malah disini gak ada yang jualan lagi." Ella mengedarkan pandangannya.


"He'em gue juga." Balas Helen sambil menyeka keringat.


Terik matahari yang cukup cerah menambah penderitaan mereka. Saat ini mereka seperti gadis yang sedang tersesat. Yang benar saja! Dua gadis cantik, Francine Chatarina Helen dan Rellah Baneska yang terkenal kepopulerannya bak artis ternama tersesat di jalan tanah bebatuan dengan kondisi tubuh yang sudah sangat basah karena keringat berada di tempat seperti itu, hal itu benar-benar akan menjadi hot news jika para wartawan ada yang menyadari kehadiran mereka di tempat itu.


"Gimana kalau kita lomba lari aja? Biar nanti sampainya gak kerasa." Ajak Ella lalu berdiri.


Helen tampak berpikir lalu tersenyum sumringah.


"Ayo!" Helen berdiri dari duduknya lalu berdiri satu setengah meter dari Ella.


Mereka bersiap-siap mengambil posisi untuk berlari dan Helen mulai menghitung.


"Satu, dua, tiga, mulai..!" Instruksi Helen dan mereka langsung berlari cepat membuat jalan bekas tampak kaki mereka mengeluarkan debu dan kerikil yang juga ikut terpental.


bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.


Terima kasih🙏💖


__ADS_2