My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 3


__ADS_3

“Iya sayang. Sekarang Mama tanya, Helen belum punya pacar kan?” tanya Sandra serius.


“Belum, tapi Mama gak perlu khawatir, anak Mama yang cantik ini pasti akan memiliki pacar yang tampan, baik, perhatian, kaya, dannn…” pukulan Sandra dilengan Helen menyadarkan kembali hayalan Helen yang sudah melambung tinggi.


“Ihh Mama, kebiasaan deh.” Cemberut Helen melihat Mamanya.


“Sayang jangan main tangan. Lihat, tangan anak kita jadi merah begitu.” Frans memperingati istrinya yang sudah membuat Helen cemberut. Sandra memang sangat suka melayangkan pukulan kepada mereka berdua. Itu sudah seperti makanan bagi mereka setiap harinya, walaupun Sandra tidak benar-benar memukul mereka, tetapi tetap saja pukulannya terasa perih.


“Sudahlah, Mama selalu salah dimata kalian. Sekarang, kamu dengarkan perkataan Mama. Mama dan Papa punya sahabat sewaktu kuliah. Waktu itu, kami sudah membuat perjanjian jika nanti kami mempunyai anak yang berbeda kelamin maka kami akan menjodohkan anak kami. Dan sekarang, Mama sudah punya Helen, jadi Mama akan menjodohkan kamu dengan anak sahabat Mama itu.” Sandra menjelaskan kepada Helen niat utamanya yang ingin disampaikan pada putrinya.


Sekarang reaksi Helen benar-benar tak terbaca. Alis yang mengerut, bibir yang terbuka, dan matanya yang melotot melihat mama dan papanya secara bergantian.


“Kamu mengerti?” tanya Frans pada putrinya.


“Nggak.” Jawab Helen enteng dan cepat dengan tampang polosnya.


Plaakk…


Sandra dan Frans sama-sama menepuk kening mereka melihat tingkah Helen.


“Jadi kenapa ekspresimu begitu?” tanya Sandra.


“Gak papa. Lagi pula apa hubungannya perjanjian Mama dengan Helen?” tanya Helen sambil menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Kamu kan anak Mama, sudah pasti ada hubungannya.” Ucap Sandra.


“Memangnya Helen anak Mama? Sejak kapan?” tanyanya bermaksud ingin menggoda mamanya.


Sandra menghela nafas. Bukan saatnya ia membalas pertanyaan Helen yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.


“Pa, jelaskan. Mama pusing jika bicara dengan anakmu ini.” Sandra menyuruh suaminya agar menjelaskan semuanya pada Helen. Ia sudah tidak sanggup meladeni putrinya yang lemot.


“Anak kita Ma. Kan waktu itu kita buatnya bareng.” Timpal Frans lalu menjelaskan tujuan dari pembicaraan mereka.


“Begini Helen, Papa akan menjodohkan kamu dengan anak sahabat Papa.” Jelas Frans secara perlahan sambil menunggu reaksi Helen.


“Jadi?” tanya Helen bingung.


“Ooh..” ucap Helen sambil mengangguk berulang kali.


“APA?!” teriakan Helen menggelegar diruangan itu membuat kedua orang tuanya tergelonjak kaget sembari menutup kedua telinga mereka. Setelah beberapa detik, Helen baru menyadari dan mencerna perkataan Papanya.


“Helen dijodohkan? Hahaha… Papa bercanda? Aduh Pa, bagi Helen becandaan Papa itu sama sekali nggak lucu. Garing banget, Papa mau ngeprank Helen ya?” Helen geleng-geleng sambil tertawa geli melihat papa dan mamanya.


“Helen, Papa serius.” Frans berujar dengan nada serius untuk meyakinkannya.


“Pa, Ma, ini itu sudah zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Sudah bukan zamannya hal yang seperti itu” protes Helen.

__ADS_1


“Lagi pula, Helen nggak tau bakalan dijodohin sama siapa dan Helen sama sekali nggak mau tau. Pokoknya Helen gak mau.” Sambungnya dengan gelengan dan kekesalan.


“Dengarkan Mama dulu. Memang benar, saat ini kamu belum kenal dengan pria yang akan dijodohkan dengan mu. Karena itu, saat ini Mama cerita sama kamu, supaya Mama bisa kenalin kamu sama anak sahabat Mama itu. Supaya nanti kamu tidak syok apalagi malu-maluin Mama dengan reaksi kamu yang seperti tadi.” Jelas Sandra.


Sandra hanya ingin yang terbaik untuk putrinya itu. Ia tidak ingin Helen bersama sembarangan pria yang tidak diketahui asal usulnya. Apalagi sekarang sudah banyak pria hidung belang yang mengaku-ngaku masih single, nyatanya sudah beristri. Sandra tidak ingin putrinya sampai bertemu pria seperti itu. Apalagi menjalin hubungan.


“Tapi Ma, ini hidup Helen. Helen berhak menentukan pilihan Helen sendiri, Helen hanya mau menikah dengan pria yang Helen cintai dan mencintai Helen.” Helen berusaha membujuk dan meluluhkan hati Mamanya. Namun, Sandra masih tetap dengan pilihannya, menjodohkan Helen dengan anak sahabatnya.


“Cinta itu tidak menentukan hubungan seseorang akan berjalan baik, sayang. Memang benar kamu tidak cinta sama dia, tapi bukan berarti kamu tidak bisa cinta sama dia. Mama yakin sesudah kalian menikah dan tinggal bersama, kalian pasti akan saling mencintai. Cinta itu tumbuh karena terbiasa. Denger dan pegang kata-kata Mama.” Jelas Sandra.


“Kami ingin yang terbaik untuk mu nak.” Tambah Frans.


“Kamu tidur gih, ini sudah larut malam. Tenangin pikiran kamu dan semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Frans.


“Ya udah Helen masuk ke kamar dulu ya Ma Pa. Selamat malam.” Ucap Helen sambil mencium pipi kedua orang tuanya.


“Baiklah, mimpi yang indah sayang" ucap kedua orang tuanya.


Helen memasuki kamarnya yang berada di lantai atas. Ia berjalan dengan lesu. Helen menaiki ranjang dan meneletangkan tubuhnya sambil memikirkan ucapan orang tuanya.


“Bantu aku ya Tuhan dan tunjukkan aku dengan pilihan yang benar." Ucap Helen.


Setelah itu ia langsung tertidur.

__ADS_1


~BERSAMBUNG~


__ADS_2