
Helen menangis terisak di dalam pelukan hangat Elvan. Pelukan yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini akhirnya dapat ia rasakan kembali. Dengan tangisan terisaknya, Helen membalas pelukan Elvan dan semakin menekankan kepalanya pada dada bidang suaminya itu.
Di depan mereka, Alexa menatap keduanya dengan tatapan yang sulit dipercaya. Mulutnya menganga dengan tatapan yang terkepal erat. Apa-apaan ini? Pikirnya.
Alexa merasa sakit saat melihat Elvan memeluk wanita lain di tubuhnya, rasa itu seakan menyadarkannya jika semuanya telah berubah. Elvannya pasti telah banyak menjalani kehidupan baru tanpa dirinya. Hal itu membuat Alexa semakin merasa sadar jika keputusannya dulu bukanlah pilihan yang tepat. Seharusnya dulu ia memilih tetap tinggal dan terus bertahan bersama Elvan walaupun sesuatu telah menimpanya. Seharusnya dulu ia bisa lebih mengesampingkan ego serta rasa malunya dan juga tidak mempercayai iming-iming yang dijanjikan Harvey.
"Husstt.." Elvan membelai rambut Helen yang berada di depan dagunya.
"Maaf, maaf aku udah nyakitin perasaanmu. Aku gak bermaksud begitu." Lirih Elvan lalu meninggalkan kecupan-kecupan ringan di kepala Helen.
Benarkah ini Elvan? Helen tidak menyangka dengan perubahan Elvan. Pria itu tampak lebih lembut sekarang.
Helen masih meratapi kesedihannya, menggeleng pelan di dalam pelukan Elvan. Rasanya sangat sulit jika ia harus memberikan Elvan kata maaf lagi.
"Kamu jahat!" Helen memukul dada Elvan dengan kepalan tangannya.
"Kamu jahat! Kamu ninggalin aku gitu aja dan pergi nemuin wanita itu." Tukas Helen masih dengan pukulannya.
"Kamu pikir aku perempuan apa, hah?! Yang bisa kamu tinggalin gitu aja dan pulang-pulang bawa wanita lain ke rumah ini!"
"Apa kamu gak pernah mikir gimana perasaan aku saat tau kamu pulang bersama wanita gila itu? Kamu gak mikir gimana perasaan aku?!" Elvan seakan tertampar dengan perkataan Helen. Benar, selama ini ia tidak terlalu memusingkan perasaan istrinya itu. Ia pikir Helen akan biasa-biasa saja dan menerima kepulangannya dengan senang hati. Menyambutnya dengan senyuman manis dan pertanyaan-pertanyaan gila yang selalu berhasil membuatnya berdebar-debar seperti yang Helen lakukan selama ini. Tapi kini, reaksi Helen sangat berbeda dari ekspetasinya.
"Maaf." Lirih Elvan dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Uhukk… uhukh…” disela tangisannya Helen terbatuk-batuk lalu mengurangi pelukannya. Dadanya terasa sesak, mungkin karena menangis terlalu lama dan dekapan Elvan yang sangat erat.
Astaga, gue lupa minum obat.
“Helen, kamu kenapa?” Elvan menatap Helen dengan khawatir sambal menepuk-nepuk punggung wanita itu.
Tangisan Helen semakin keras karena rasa sakit yang menjalar di tenggorokannya. Melihat itu, Elvan semakin kewalahan dan tidak tau harus bagaimana supaya tangisan Helen berhenti. Begitupun dengan Daniel, ingin rasanya ia membelai punggung gadis itu, menenangkan gadis itu, tapi kehadiran Elvan membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
“Masih sakit?” Helen menggeleng pelan lalu menyapu sisa air matanya.
“Kita masuk ya? Biar kamu istirahat.” Elvan menatap Helen dengan khawatir pasalnya kini bibir wanita itu tampak pucat.
Sembari merapikan rambutnya yang tampak acak-acakan, Helen mengangguk pelan di sela isakannya. Sesaat, ia melupakan keberadaan Alexa dan Daniel di dekat mereka.
Elvan merangkul Helen hendak membawa wanita itu ke lantai atas, dimana kamar mereka berada.
“Lexa, ayo masuk.” Helen langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alexa saat mendengar Elvan mengucapkan nama wanita itu.
“ENGGAK, TETAP DISITU, LO GAK BOLEH MASUK!” bentak Helen lalu menyingkirkan lengan Elvan dari atas bahunya.
Alexa yang baru saja akan melangkah kembli terdiam di ambang pintu. Ia menatap Helen dengan tajam. Berani-beraninya wanita itu membentak dirinya, pikir Alexa.
“Helen, biarin dia masuk dulu.” Ujar Elvan pelan sambal menyapu Pundak Helen.
“ENGGAK, AKU GAK AKAN BIARIN DIA MASUK KE RUMAH INI!” Helen menunjuk wajah Alexa dengan tatapan membunuhnya.
“Lo gak berhak ngelarang-larang gue.” Alexa menatap Helen dengan tatapan merendahkan.
“Gue berhak. Ini rumah gue dan gue berhak nentuin siapa aja yang gak boleh masuk ke rumah ini!” tukas Helen tajam.
“Waah wah wah.. ini tuh rumah Elvan, lo gak berhak buat aturan sendiri.” Ucap Alexa kelewat santai.
“Ini rumah kami berdua kalau lo mau tau.” Helen bersedekap dada, seolah menantang Alexa. Kini air wajahnya tidak lagi menunjukkan kesedihan, melainkan keberanian yang keluar dari dalam dirinya.
“Oh ya? Emang lo siapanya Elvan sampai ngaku-ngaku ini rumah kalian berdua. Udah lah, lo pasti pembantu disini kan? Mending balik kerja sana, gue sama Elvan mau makan. Siapin gih.”
Helen tertawa sumbang lalu menatap Elvan dan Alexa bergantian.
"GUE ISTRINYA." Balas Helen dengan penekanan penuh.
__ADS_1
"Ahahaha.. ternyata zaman sekarang pembantu udah berani ngaku-ngaku jadi istri. Mimpi kali lo!" Elvan yang mendengar ucapan Alexa terlihat marah dan tidak terima.
"Alexa! Jaga ucapan kamu. Helen bukan pembantu dan dia beneran istri sah aku!" Sergah Elvan tegas.
Alexa terdiam beberapa saat lalu kembali tertawa pelan.
"Gak mungkin. Kamu gak mungkin nikah sama wanita lain selain aku. Kamu itu cinta mati sama aku, kamu gak mungkin nikah sama dia!" Teriak Alexa dengan lantang.
"Itu emang kenyataannya. Gue istri sah Elvan dari beberapa bulan lalu. Elvan nikah sama gue karena dia cinta. Dan lo--!" Helen menunjuk Alexa tepat di depan wajah wanita itu.
"Lo itu gak lebih dari sekedar masa lalu yang suram. Elvan cintanya cuma sama gue, jadi lo gak usah mimpi bisa dapat cintanya lagi." Helen menyeringai saat melihat ekspresi Alexa yang terlihat syok.
Di tempatnya berdiri, Elvan terdiam kaku memikirkan perkataan Helen barusan. Benarkah jika Alexa hanya masa lalunya yang suram? Apa mungkin ia sudah tidak mencintai wanita itu lagi? Mungkin jika perasaannya telah berpindah ke lain hati? Tapi, Elvan tidak tega melihat Alexa yang tampak sedih. Wanita itu tampak terluka menerima pengakuan dari Helen.
"Gak mungkin! Elvan gak mungkin cinta sama lo, sampai kapan pun dia cuma cinta sama gue!" Alexa berteriak histeris sambil menggeleng keras.
"Lo gak percaya? Silahkan tanya dia langsung." Tekan Helen sembari menatap Alexa tajam. Ia tidak boleh terlihat lemah dan kalah dihadapan wanita pengganggu itu.
Ucapan Helen barusan keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa sadar, jantungnya berdegup kencang memikirkan jawaban apa yang akan Elvan berikan nantinya. Helen menatap Elvan yang berdiri di sampingnya, pria itu juga tengah menatapnya balik.
"Elvan, kamu cinta kan sama aku? Kamu gak mungkin cinta sama perempuan ini kan? Kamu masih cinta sama aku kan?" Alexa menatap Elvan dengan tatapan memohonnya.
"Kamu gak cinta kan sama perempuan ini?" Alexa berangsur maju hendak menggapai tangan Elvan. Namun, dengan cepat Helen mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Seolah melarang Alexa untuk menyentuh Elvan.
Elvan segera menarik Helen ke belakang tubuhnya saat melihat Alexa hendak membalas mendorong istrinya.
"Alexa, jangan begini." Ujar Elvan lalu kembali membawa Helen ke samping tubuhnya.
"Aku gak peduli."
"Jawab pertanyaan aku tadi, kamu gak cinta kan sama perempuan ini?" Tanya Alexa lagi.
__ADS_1
Bersambung...