My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 31


__ADS_3

Percakapan antara Ibu dan anak itu berlangsung hingga beberapa menit. Sandra yang merasa sedang ada urusan yang harus diselesaikan mengakhiri percakapan mereka.


📱Sandra


"Sayang, udah dulu ya. Mama lagi ada urusan saat ini. Kapan-kapan kita telponan lagi. Kamu jadi istri dan anak yang baik ya disana. Jadi istri yang baik buat Elvan dan jadi anak yang baik buat Mama dan Papa, buktikan kalau kamu sekarang sudah dewasa, udah mandiri dan bisa ngurus suami. Iihh Mama gak nyangka deh kalau putri kecilnya Mama udah bersuami dan sebentar lagi Mama bakalan gendong cucu, uh.. Mama sabar tunggu saat itu tiba." Ucap Sandra panjang lebar sebagai penutup percakapan mereka.


Helen tertawa geli mendengar Mamanya yang berbicara cukup panjang tanpa jeda. Mamanya selalu saja begitu. Untung Papanya cinta sehingga tidak mempermasalahkan sikap Mamanya yang kadang suka cerewet.


📱Me


"Iya, Mama ku sayang." Helen tertawa lepas setelah membalas perkataan Mamanya. Dari luar suara itu terdengar sangat indah dan bahagia. Namun, tak seorang pun yang tau kalau tawa yang Helen keluarkan adalah tawa untuk mengejek dirinya sendiri. Menertawakan dirinya bahwa apa yang diucapkan Mamanya tidak akan terwujud.


Menggendong cucu? Yang benar saja. Ia bahkan tidak pernah berciuman dengan Elvan. Bagaimana mungkin ia akan punya anak jika hal sewajar itu tidak pernah Elvan lakukan bersamanya. Tawa Helen lama kelamaan menjadi isakan setelah mengucapkan salam penutup pada Mamanya. Isakannya tersirat rasa yang amat sakit mengenai hatinya. Ia sedih, amat sedih telah membohongi Mamanya. Helen terpaksa berbohong untuk menutupi perlakuan Elvan kepadanya. Helen tidak ingin Mamanya kecewa dengan pernikahan ini. Ia tidak ingin Mamanya merasa kecewa telah menikahkannya dengan Elvan. Tidak, Helen tidak ingin Mamanya kecewa. Biarlah ia yang menderita atas perlakuan Elvan, yang terpenting orang tuanya bahagia walaupun ia harus berbohong pada mereka dan dirinya sendiri.


Satu kebohongan telah Helen ucapkan dan ia amat sangat yakin kebohongan yang lain akan menyusul keluar dari mulutnya.


Maafin Helen Ma, batinnya.


Helen merebahkan dirinya di sofa setelah isakkannya berhenti. Matanya terasa berat dan juga hidungnya yang tersumbat membuatnya sedikit kesulitan bernafas. Helen memeluk erat boneka panda dalam pelukan hangatnya. Boneka panda itu lah yang selalu bersama Helen mulai saat umurnya menginjak tujuh belas tahun. Helen juga tak menyangka kalau Mamanya sudah menyiapkan semua kebutuhannya disini termasuk boneka kesayangannya.

__ADS_1


Helen sudah terlelap beberapa menit yang lalu sambil memeluk erat bonekanya. Untuk saat ini, boneka itu lebih beruntung dibandingkan Elvan yang berstatus suami, sebab pelukan hangat Helen mampu dimiliki boneka tersebut.


*** Di sisi lain ***


Elvan sampai di kediaman Virgo setelah melakukan perjalanan yang membuatnya jengah. Belum lagi kehadiran Helen di apartemennya membuat rasa jengah dan risihnya semakin bertambah. Elvan tidak bisa tenang mengerjakan tugasnya di apartemen itu. Apalagi saat mencium aroma makanan yang menggugah selera. Elvan dapat merasakan wangi itu berasal dari dapur dan Elvan juga tau kalau Helen lah yang sedang memasak makanan berbau enak itu.


Beberapa hal yang Elvan tau mengenai Helen. Istrinya itu pandai dalam urusan memasak. Hal itu Elvan dapat dari Mommynya. Beberapa hari yang lalu, Miranda bercerita kepada Elvan kalau Helen itu gadis yang pandai memasak dan mengurus rumah. Padahal Elvan sama sekali tidak bertanya mengenai Helen, tapi Miranda bercerita dengan antusias walaupun tidak ditanggapi oleh Elvan. Namun, kepandaian yang dimiliki Helen tak cukup mampu meluluhkan hati Elvan.


Apa hebatnya memiliki istri yang pandai memasak? Tidak ada. Itulah yang ada dipikiran Elvan. Toh, jika ia ingin makan, ia bisa memesan makanan diluar. Jadi, ia tidak menganggap pandai memasak adalah sesuatu yang pantas untuk dibanggakan.


Elvan memasukkan password terlebih dulu sebelum memasuki apartemen Virgo. Suara Langkah kakinya terdengar jelas di ruangan yang senyap itu. Elvan memasuki kamar Virgo. Ia benar-benar menjadikan apartemen itu seperti miliknya. Virgo memang sudah memberikan kebebasan tersendiri kepada bosnya itu untuk urusan apartemen, bahkan Virgo memberi tau password apartemennya pada Elvan agar ia tidak perlu repot-repot untuk membukakan pintu ketika pria itu datang. Mengapa demikian? Karna Elvan selalu bertamu di waktu yang tidak tepat. Contohnya kejadian beberapa minggu yang lalu, ia harus rela-rela bangun jam 2 dini hari hanya untuk membukakan pintu ketika Elvan datang. Saat itu, Virgo benar-benar telah habis kesabaran hingga akhirnya menyumpah serapahi Elvan.


Elvan menekan handle pintu dan mendapati Virgo yang sedang tidur di atas ranjang. Elvan mendekati Virgo yang terlelap, ia mendengus melihat sahabatnya yang sedang tidur nyenyak.


Saat ini ia tidak punya tempat untuk terlelap selain di kediaman Virgo.


Elvan mengambil bantal yang terletak di samping kaki Virgo, pria itu tidur dengan kedua kaki yang terbuka lebar.


“Bangun lo!” ujar Elvan keras sambil melempar bantal itu hingga mengenai muka polos Virgo.

__ADS_1


“Eenggghh..” erang Virgo. Bukannya bangun karena gangguan Elvan, ia malah menjadikan bantal yang mengenai mukanya sebagai guling dan memeluknya erat. Virgo membalikkan badannya membelakangi Elvan yang berdiri sambil bersedekap dada.


“Dasar lo! Udah jelek, muka babak belur, tukang molor, jomblo pula.” Elvan amat kesal sampai mengatai sahabatnya yang terlelap indah sambil memukul punggung Virgo.


Elvan yang merasa bosan karena tidak ada lawan bicara akhirnya memilih memainkan PS Virgo yang ada di kamar. Suara pertarungan dari PS itu terdengar kuat. Elvan sengaja menguatkan volume permainannya untuk mengganggu kenyamanan Virgo. Beberapa menit berlalu, Virgo yang sudah tidak tahan lagi mendengar suara yang mengusik tidurnya, memilih bangun dan duduk di ranjang sambil bersila. Matanya menatap Elvan tajam. Bisa-bisanya sahabatnya itu mengganggu tidur nyenyaknya setelah tadi malam ia tidak bisa tidur. Itu semua karena siapa? Karena Elvan, karena sahabatnya itulah mereka berakhir di club hingga pagi menjelang.


Elvan menoleh kea rah Virgo saat mendengar pergerakan dari ranjang sembari memasukkan sepotong pizza ke mulutnya. Elvan membalas tatapan tajam Virgo dengan datar. Ia sama sekali tidak merasa bersalah atas perlakuannya yang mengganggu ketenangan sih pemilik apartemen.


“Ngapain lo disini?” tanya Virgo sarkas lalu menuruni ranjang.


“Main lah.” Jawab Elvan cuek sambil melanjutkan gamenya dan memakan pesanan yang baru saja tiba lima menit yang lalu.


Virgo memasuki kamar mandi hendak membasuh wajahnya.


“Ngapain lo?” tanya Virgo lagi sembari mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.


“Makan.” Jawab Elvan lagi dengan alasan yang berbeda.


“Emang ISTRI lo gak kasih lo makan?” Virgo menekankan kata istri pada kalimatnya.

__ADS_1


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya teman-teman. Terima kasih.


__ADS_2