My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 108


__ADS_3

Kepercayaan! Bisa diibaratkan dengan sebuah guci yang utuh. Indah dipandang dengan harganya yang relatif mahal. Orang-orang mempercantik rumah mereka dengan meletakkan guci di tempat-tempat tertentu, agar guci tersebut berfungsi seperti seharusnya dan jauh dari jangkauan kehancuran. Apabila guci yang indah tadi terjatuh dari tempatnya, maka akan hancur menjadi kepingan-kepingan keramik yang buruk. Seperti itulah ibarat kepercayaan Helen kepada Elvan. Kepercayaan yang selama ini ia jaga kini hancur saat seseorang merusaknya, hancur berkeping-keping hingga tidak bisa lagi dibentuk seperti semula. Kepercayaan itu tidak secantik sebelumnya.


Helen merutuki nasibnya yang sangat menyedihkan. Disela-sela tangisnya, Helen menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit, seolah terhimpit oleh sesuatu yang berat. Helen menatap Elvan dengan nanar dan penuh kekecewaan. Bukan kali ini saja pria itu menyakitinya, tidak! Elvan bahkan sudah berulang kali menggoreskan luka di hatinya yang kerap kali pria itu taburi dengan air garam.


"Helen, jangan percaya sama omongan dia. Semua yang Alexa omongin itu salah, dia fitnah aku, aku gak--."


"STOP! Pencuri gak akan pernah ngaku kalo dirinya adalah seorang pencuri, lalu apa bedanya sama kamu? Kamu pikir aku akan percaya mengingat kamu sangat menantikan pertemuanmu dengan wanita itu lagi, hah?! KAMU PIKIR AKU BAKALAN PERCAYA?!" Dengan suara lantangnya Helen berkata sambil menatap Elvan tajam. Tangannya menunjuk wajah Alexa yang berdiri diam di tempatnya, mengelus pipinya yang terasa panas akibat tamparan Elvan beberapa menit yang lalu.


"Kamu harus percaya sama kamu, aku gak mungkin ngelakuin hal itu sama perempuan lain. Helen, tolong." Elvan mendekati Helen yang semakin memberi jarak dengannya.


"Kamu gak perlu pura-pura sedih dihadapan aku karna nyatanya aku lah yang paling tersakiti saat ini." Dengan sinis Helen membalas raut wajah kesedihan Elvan.


"Alasan apa yang bisa buat aku percaya sama kamu? Gak ada kan? Karna apa? Karna kamu emang udah beneran tidur sama wanita malang itu!"

__ADS_1


"ENGGAK!" Teriak Elvan.


"Alexa! Jelasin fakta sebenarnya! Bilang sama Helen kalau aku gak pernah sentuh kamu sedikit pun!" Elvan menarik kasar lengan Alexa hingga berdiri di samping Helen. Berdiri diantara dirinya dan Helen.


"CEPAT!" Teriak Elvan murka karena mendengar tangisan Helen yang semakin menjadi. Entah mengapa suara tangisan gadis itu bagaikan kutukan yang siap memakan dirinya.


Alexa dengan tenang membalas tatapan tajam Elvan, ia sama sekali tidak takut dengan tatapan mengintimidasi pria itu. Alexa berdehem pelan sebelum menatap Helen dan mengatakan kata-kata yang semakin membuat wanita itu hancur.


"Iya, Elvan emang udah sentuh gue dan itu adalah FAKTANYA." Ujar Alexa dengan penuh penekanan.


Rahang Elvan mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. Amarahnya sudah berada di ujung puncak dan Alexa berhasil membuatnya melewati kapasitas. Dengan satu sentakan kuat, Elvan meletakkan tangannya di leher Alexa, mencekik wanita itu.


"Berani-beraninya kamu ngomong itu lagi!" Bentak Elvan tajam dan semakin mengeratkan cekikannya di leher Alexa, membuat wajah wanita itu merah padam karena kesulitan bernafas.

__ADS_1


"Le-pas-sin." Alexa berucap terbata-bata, tangannya menekan tangan Elvan yang berada di lehernya.


"Enggak! Kamu harus mati saat ini juga." Desis Elvan tajam. Kesadarannya seakan hilang entah kemana sampai-sampai ia tega melakukan hal itu kepada Alexa. Tapi, bukan kah itu pantas?


"Lep-pas haah." Nafas Alexa tersendat, lehernya terasa panas dan tenggorokannya terasa sakit. Cekikan Elvan sangat kencang di lehernya.


Helen yang melihat itu merasa jengah. Bisa-bisanya Elvan berakting sangat bagus dihadapannya.


"PERGI KALIAN BERDUA DARI RUMAH INI!" Teriak Helen kuat, menghentikan pergerakan Elvan hingga tangan pria itu lepas dari leher Alexa.


"Uhukk.. Uhukk.." Alexa langsung menarik nafas kuat diiringi dengan batuknya yang terdengar sangat menyakitkan. Lehernya tampak memerah. Wanita itu memukul-mukul dadanya, seolah ingin memberikan ruang agar udara masuk lebih banyak ke dalam paru-parunya.


Elvan mendekati Helen lalu berjongkok dihadapan gadis itu. Diraihnya tangan Helen yang dibalas dengan sentakan kuat, Helen tidak ingin disentuh oleh Elvan walau sedikit pun.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2