My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 115


__ADS_3

Happy Readingđź’–


Helen mengedikkan bahunya lalu pergi dari hadapan pria itu. Helen kembali meninggalkannya. Elvan menatap kepergian istrinya dengan sendu. Selanjutnya, ia kembali menikmati masakan Helen yang sudah menjadi candunya seorang diri. Bukankah ini yang dulu ia inginkan? Melakukan segala hal nya seorang diri tanpa ada bayang-bayang Helen yang mengikutinya? Seharusnya Elvan merasa puas dan senang karena apa yang ia inginkan telah terwujud. Namun, saat ini semuanya berbeda. Cinta telah membuatnya menyesal karena pernah berkeinginan seperti itu. Kini Elvan berharap semoga Helen lekas memaafkan dirinya.


Dengan cepat Elvan menghabiskan makanannya dan ingin menemui Helen. Mereka harus segera berbaikan, Elvan sudah tidak tahan dianggap tidak ada oleh Helen. Ia keluar dari dapur dan menemui Helen yang sedang menonton TV. Gadis itu berulang kali mengganti chanel TV dengan gerutuan kecil. Elvan tersenyum tipis mendengarnya, ia merindukan sisi Helen yang seperti itu.


Elvan duduk di samping Helen. Sengaja ia meletakkan lengannya di atas sandaran sofa yang tepat di belakang Helen. Ia tampak tengah merangkul wanita itu.


“Kenapa hmm?” Helen mendengus kesal mendengar suara Elvan yang lembut.


Sejak kapan pria itu peduli dengannya? Helen mendengus dalam hati.


Helen mencium aroma mint yang menyeruak dari tubuh Elvan. Sejujurnya ia sangat merindukan pria itu. Rindu akan pelukan yang selalu berhasil membuat jantungnya mencelos. Walaupun begitu Helen tidak peduli. Kemarahan dalam dirinya membuatnya lupa seberapa penting Elvan untuk dirinya. Membuatnya lupa seberapa besar perjuangan yang telah ia lakukan demi mendapatkan cinta suaminya. Seharusnya Helen mengadakan party atas kemenangannya kini, bersenang-senang karena telah menghancurkan tembok yang memisahkannya dengan Elvan. Tapi, kini Helen benar-benar lupa akan usahanya dulu. Apa salahnya jika ia memberikan Elvan kesempatan sekali lagi? Tidak ada! Helen bisa memaafkan Elvan dengan mudah. Namun, dirinya tidak ingin melakukan itu. Ia ingin memberi Elvan sedikit pelajaran tentang pentingnya arti cinta dan sebuah perjuangan. Suaminya itu harus tau bagaimana rasanya diacuhkan seakan-akan kita tidak ada di dunia ini.


Helen bangkit dari duduknya. Namun, tarikan Elvan kembali membuatnya jatuh terduduk hingga membentur dada pria itu. Untuk sesaat Helen menahan nafasnya, aroma tubuh Elvan kembali membuatnya lupa diri.


"Jangan pergi." Suara Elvan yang lirih membuat hati Helen tersentil. Ia belum pernah melihat Elvan yang seperti ini. Apa ia sudah keterlaluan? Tidak! Ini belum seberapa. Penderitaan yang ia rasakan jauh lebih menyakitkan dari yang Elvan terima.


"Lepas." Helen memberontak di dalam pelukan Elvan. Bisa-bisanya pria arrogant itu memanfaatkan situasi dan memeluknya dengan erat.


"Nggak, sebelum kamu maafin aku." Elvan membenamkan wajahnya di ceruk leher Helen dan menghirup aroma gadis itu dalam. Rasanya sudah lama ia tidak memeluk istrinya seerat ini dan itu membuatnya rindu.


"Lepasin." Helen terus memberontak dalam pelukan Elvan. Namun, lagi-lagi ia kalah dengan tenaga Elvan yang kuat. Pria itu seakan tidak rela melepaskannya walau hanya sesaat.


"Auhh." Helen terkejut saat Elvan menyentak tubuhnya hingga duduk di atas pangkuan pria itu. Elvan membuat Helen menghadapnya dengan kaki yang berada di atas sofa. Wajah mereka sangat dekat membuat Helen dapat mencium aroma nafas Elvan.


Tingkah Elvan yang seperti ini membuat Helen merasa muak. Mengapa baru sekarang pria itu bersikap manis, di saat dirinya sedang dilanda kekecewaan yang amat sangat? Helen merasa dirinya benar-benar rendah. Elvan menginginkannya saat sudah mengetahui bagaimana tingkah kekasihnya, Alexa. Lalu pantaskah ini disebut cinta? Bukankah ini hanya pelampiasan Elvan karena Alexa sudah mengecewakannya?


Helen kembali memberontak, tapi kali ini lebih kuat. Posisi mereka saat ini membuatnya tidak tahan. Helen takut dirinya yang agresif akan lepas kendali. Tidak! Jika itu sampai terjadi Helen benar-benar akan merendahkan dirinya.

__ADS_1


Elvan membawa Helen ke dalam pelukannya. Dagunya ia letakkan diatas bahu gadis itu. Rambut Helen yang di kuncir tinggi membuatnya dengan mudah mengakses seluruh leher istrinya.


"Maaf. Maaf telah membuatmu kecewa. Maaf karna selama ini aku mengabaikanmu. Kamu berhak marah, tapi jangan diamkan aku seperti ini. Belum sampai sehari, tapi sikap acuhmu sudah membuatku frustasi, Helen. Aku mohon maafkan aku." Lirih Elvan di atas bahu Helen.


Pertahanan Helen hampir runtuh. Sikap Elvan yang seperti ini membuatnya kembali ingat disaat-saat awal pernikahan mereka dulu. Saat itu, Elvan bahkan ogah jika didekati. Tapi lihatlah saat ini, pria itu bahkan memaksanya tetap diam di atas pangkuan dan dekapannya. Egois bukan? Elvan melakukan apapun semaunya.


"Helen, tolong jawab kata-kata ku. Umpat aku kalo kamu memang marah, jangan cuma diam dan mendendam semuanya sendirian. Aku udah tau gimana sakitnya kamu waktu aku pergi dan ngacuhin keberadaan kamu. Aku tau gimana sakitnya." Elvan membingkai wajah Helen dengan telapak tangannya. Namun, dengan cepat Helen menyentak tangan itu lalu memukul kuat dada bidang Elvan.


"Aku mau turun." Pintanya. Suaranya seakan tercekat setelah mendengar pengakuan Elvan. Benarkah pria itu menyesali perbuatannya?


"Maafin aku dulu." Ujar Elvan lalu kembali menumpukan dagunya di atas bahu Helen.


"Turunin dulu." Helen berkata pelan dan membiarkan tingkah Elvan.


"Beneran? Kamu mau maafin aku kalau aku turunin?" Elvan tampak sumringah menatap wajah Helen. Senyum manis terukir di bibirnya yang seksi.


"Oke, aku turunin asalkan kamu mau maafin aku." Setelah mengatakan itu, Elvan lalu mengangkat Helen dari atas pangkuannya dan mendaratkan gadis itu duduk di sampingnya.


Senyum cerah tidak lepas dari bibir Elvan karena Helen akan memaafkannya.


"Udah kan? Kamu jangan marah lagi ya?" Elvan menghadapkan tubuhnya ke arah Helen dengan satu kaki yang berlipat di atas sofa.


Helen menatap Elvan dengan datar.


"Senyum dong." Elvan menyentuh sudut bibir Helen hingga membentuk senyuman tipis. Tatapan Helen yang datar tidak lepas dari pandangannya.


"Harus berapa kali aku bilang? Jangan menyentuh ku." Tekan Helen setelah, menyingkirkan tangan Elvan dengan kasar dari atas bibirnya.


"Iya. Maaf." Elvan menjauhkan tangannya.

__ADS_1


"Tapi, tadi kamu udah janji mau maafin aku." Elvan berkata lirih dan menatap Helen sendu.


"Oh ya? Emang tadi aku ada bilang iya? Enggak kan? Kamu nya aja yang bodoh." Ledek Helen dengan senyum meremehkan.


"Tapi aku udah nurunin kamu." Elvan kembali berujar.


"Itu gak laku buat aku. Jangan bertingkah seakan-akan kamu memang butuh aku. Sandiwara kamu dari awal memang udah keren, bahkan tadi aku hampir ketipu." Helen berujar sinis.


“Silahkan pergi dari rumah ini dan urusi calon anak yang akan dikandung Alexa. Aku gak butuh suami bren*sek kayak kamu.” Ucap Helen kelewat pedas.


“Dari awal kamu emang gak mau kan nikah sama aku? Kamu gak mau kan kalau aku kekang buat ketemu sama Alexa? Sekarang kamu bebas. Aku udah bebasin kamu dari itu semua. Anggap aja kalo kamu gak punya istri yang harus dijaga perasaannya, seperti yang selama ini kamu lakuin. Kamu hanya perlu melanjutkan sikap kamu yang semula dan jangan pura-pura baik di depan aku. Anggap aja kalo aku gak pernah hadir di kehidupan kamu. Aku juga bakalan kayak gitu. Aku gak akan anggap kamu sebagai suamiku lagi. Aku bebas bergaul sama cowok mana pun. Toh! Dari dulu kamu emang gak pernah ngelarangkan? Kenapa? Karna kamu gak pernah anggap aku sebagai istri kamu. Seharusnya kamu peduli dan larang aku biar gak deket sama pria lain kayak aku ngelarang kamu biar gak dekat sama perempuan-perempuan di luar sana.”


“Yang ada di otak kamu cuma Alexa, Alexa dan Alexa. Sampai-sampai kamu menghiraukan aku yang di dekatmu. Apa kamu tau seberapa sulitnya aku menghadapimu? Apa kamu tau gimana perasaanku saat berusaha menarik perhatianmu? Aku ngerasa rendah kalo kamu mau tau. Walaupun kamu suamiku, aku tetap ngerasa rendah saat aku berusaha menggodamu dengan memakai pakaian-pakaian seksi itu.” Helen menarik nafas dalam. Air mata yang sedari tadi ia tahan sudah meluncur dan mengalir di pipi mulusnya.


“Kamu tau gimana hancurnya perasaanku saat kamu nolak aku padahal aku udah berusaha? Enggak kan? Karena apa? Karena kamu selalu jaga perasaan Alexa! Walaupun dia jauh, kamu selalu jaga perasaan dia! Kamu takut selingkuh di belakang Alexa, padahal udah jelas kalau Alexa yang pergi ninggalin kamu! Kamu itu BODOH Elvan, kamu jaga perasaan wanita lain tapi mengabaikan perasaanku yang berstatus istrimu. Kamu bodoh!” bentak Helen dengan tatapan yang berkilat marah. Pancaran matanya tampak marah, tapi air mata tidak berhenti mengalir dari mata indahnya. Seolah menunjukkan seberapa marah dan sedihnya ia selama ini.


“Jadi mulai sekarang mari kita bersikap seperti yang kamu inginkan.” Helen menarik nafas kuat. Ini adalah pilihan yang tepat.


“Mari jangan menganggap satu sama lain. Jangan anggap kehadiranku, begitu pun sebaliknya. Aku tidak akan menganggapmu ada di hidupku.” Putus Helen lalu beranjak dari duduknya. Meninggalkan Elvan yang menatapnya tanpa berkedip.


Elvan merasa sesuatu menghimpit jantungnya. Membuatnya merasa sesak yang amat sangat. Perkataan Helen yang cukup Panjang seolah menyadarkannya. Memberinya tamparan pedas yang mampu menyadarkannya seberapa besar kesalahan yang ia perbuat selama ini. Jika sudah begini apalagi yang harus ia lakukan selain menuruti permintaan Helen? Elvan menatap istrinya yang pergi menaiki tangga dengan sendu.


Setetes air mengalir dari sudut mata Elvan.


Bersambung...


Maaf ya kalau lama up nya. Author juga lagi sibuk mau nyusun skripsi soalnya. Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.


Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2