
Happy Reading❤
Langit masih gelap menandakan hari masih malam, tapi Helen sudah terusik dari tidurnya. Ia melenguh pelan disusul dengan matanya yang kian terbuka. Helen mengusap matanya pelan lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Gelap. Ruangan dimana ia dan Elvan tidur hanya diterangi oleh cahaya yang berasal dari lampu yang berada di atas nakas.
Helen mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas lalu melihat jam yang tertera di benda pipih itu.
“Masih jam setengah empat. Berarti gue baru tidur sekitar satu jam setengah, huh!” ucapnya pelan lalu kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula.
Helen menoleh ke samping dan melihat Elvan yang masih tertidur. Pria itu tidur menyamping ke arahnya dengan lengan kekarnya yang berada di atas perutnya. Ia yang tadinya tidur telentang kini merubah posisinya menjadi menghadap Elvan. Senyum manis langsung terukir di bibir tipisnya saat melihat wajah Elvan yang tak berekspresi. Dengan perlahan tangannya terulur untuk mengusap wajah suaminya itu.
“Kamu ganteng banget sih. Bikin aku jadi tambah cinta.” Helen mengusap pelan pipi kanan Elvan.
Helen senyum-senyum sendiri melihat wajah Elvan yang tepat berada di depan wajahnya. Ia rindu moment seperti ini. Mungkin sudah hampir dua bulan ia tidak melihat wajah Elvan dari jarak sedekat ini. Terhitung saat sebelum Elvan pergi untuk mencari Alexa ke Columbia. Sekarang ia dapat kembali melihat wajah pria yang ia cintai dengan sangat jelas dan dekat tanpa perasaan bimbang sedikit pun.
“Kamu tau? Kamu itu lelaki pertam yang berhasil buat aku jatuh cinta. Seingatku, kamu juga lelaki pertama yang buat aku berjuang dengan rasa sakit yang kian membesar.” Helen menarik sudut bibirnya. Perjuangan yang ia lakukan selama ini mulai berputar memenuhi pikirannya.
“Hehe, kamu itu jahat tau gak. Selama ini kamu biarin aku berjuang sendirian. Kamu anggap aku sebagai musuh, padahal kita suami istri. Terkadang kamu juga bodoh.” Dengan lembut Helen mengusap kelopak mata Elvan yang tertutup.
Harapannya kini telah terkabul. Elvan sudah menjadi miliknya, baik hati dan segala hal yang ada pada pria itu. Penantian dan perjuangannya telah terbalaskan. Semuanya diatur oleh waktu dan Helen tidak pernah menyesal dengan keputusannya. Cintanya adalah pilihan yang tepat untuk dipertahankan.
"Aku cinta kamu." Helen mengecup kening Elvan sambil menyampirkan rambut pria itu yang tadinya memang menutup kening. Rambut Elvan sudah semakin panjang hingga hampir menutupi seluruh keningnya. Sepertinya Helen harus lebih ekstra dalam memperhatikan penampilan Elvan.
"Besok kita potong rambut ya?" Tanpa perlu mendengar jawaban dari Elvan, Helen kembali mengecup wajah Elvan dengan gemas. Mengapa pria datar seperti Elvan malah membuatnya gemas? Ck!
Setelah puas memandangi, mengecup dan membelai wajah Elvan, Helen merasa kantuk kembali menyerangnya. Wajahnya ia benamkan di dada bidang Elvan. Selimut tebal berwarna putih itu hanya menutupi bagian bawah Elvan, membuat Helen harus berulang kali menahan nafas saat matanya dengan nakal menatap tubuh bagian atas suaminya itu. Semuanya terasa keras. Helen sesekali metekan-tekan lengan berotot Elvan dengan gemas. Bahkan, tidak sekali dua kali ia meninggalkan kecupan di atas lengan keras itu. Begitulah Helen, wanita muda yang manja dan sangat agresif jika menyangkut diri Elvan.
Perlahan matanya kian menutup hingga akhirnya kembali ke dalam alam mimpi sambil terus memeluk pinggang Elvan.
Silau cahaya mulai masuk ke dalam ruangan sepasang suami istri itu melalui celah-celah gorden. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30, tetapi mereka masih nyaman dan bertahan di atas ranjang tersebut. Matahari sudah mengeluarkan cahayanya dengan sangat terang dan panas, membuat salah satu dari mereka merasa terusik hingga akhirnya terjaga dan menyadari bahwa ia telah terlambat bangun.
Elvan mengumpulkan seluruh kesadarannya dan menetralisir cahaya yang memburu masuk ke dalam retina matanya. Perlahan ia menarik nafas lalu duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Semuanya terasa berbeda, Elvan merasa bacanya jauh lebih ringan walaupun sedikit pegal. Udara yang ia hirup terasa lebih segar dari biasanya. Entah karena apa, yang pasti ini ada hubungannya dengan Helen. Elvan menoleh ke samping, mendapati Helen yang masih tertidur pulas. Tangan istrinya itu ia biarkan memeluk pinggangnya. Elvan sangat suka dengan Helen yang seperti ini, yang tanpa canggung dan penuh perasaan memeluk dan menyentuh dirinya.
__ADS_1
Elvan sudah sangat senang saat bangun dan mendapati Helen tertidur pulas di sampingnya. Selain Helen, ternyata Elvan juga rindu dengan moment seperti ini. Elvan tidak ingin mengusik tidur istrinya, karena ia tau wanita itu pasti sangat kelelahan.
Elvan mengulurkan tangannya lalu membelai puncak kepala Helen dengan sayang dan sangat lembut.
"Kamu wanita terbaik yang akan aku jaga sepanjang hidup ku." Elvan mengelus pipi Helen lalu mengecupnya dengan sangat hati-hati, takut sentuhannya akan mengusik tidur wanita itu. Selanjutnya ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Elvan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak lebih segar. Elvan membalut pinggangnya dengan handuk putih sebelum mendekati Helen yang masih memejamkan mata.
"Hei bangun." Elvan menyingkirkan helaian rambut panjang Helen yang menutupi wajah istrinya itu. Elvan ingin melihat wajah cantik istrinya tanpa halangan sedikit pun.
"Sayang, bangun. Ini udah hampir jam sepuluh loh. Kamu masih mau tidur?" Elvan berbisik di telinga Helen. Tangannya ia gerakkan di atas punggung wanita itu, mengusapnya dengan lembut.
Helen melenguh pelan. Tidur indahnya terganggu saat mendengar dan merasakan hembusan nafas Elvan di daun telinganya.
"Bangun sayang." Ujar Elvan dengan sangat lembut.
Mendengar penuturan Elvan barusan, sudut bibir Helen otomatis tertarik hingga membentuk senyum manis yang mampu membuat jantung Elvan berdesir.
Sambil berucap demikian, Helen bergeser lalu membenamkan wajahnya di atas pangkuan Elvan. Melihat itu, Elvan semakin mengembangkan senyum manisnya. Jemarinya langsung mengusap rambut Helen dengan lembut.
"Emang kamu belum lapar? Gak capek tidur terus?" Elvan berujar pelan.
"Laper sih."
"Huh! Kamu yang udah buat aku capek." Sambung Helen terdengar kesal.
"Ya udah nanti aku pijitin lagi ya." Elvan menunduk guna melihat wajah Helen dengan jelas.
"Modus kamu. Alasan doang mau pijitin aku, endingnya juga nanti aku tau kamu maunya apa." Helen mendongak, menumpukkan dagunya di atas paha Elvan. Tangannya ia lingkarkan di perut Elvan yang tidak ditutupi apapun.
"Kamu tau aja, Yang." Elvan kemudian tergelak.
"Ciee yang udah perhatian, udah berubah nih kayanya." Ledek Helen ingin membuat Elvan kesal.
__ADS_1
Mendengarkan itu Elvan jadi sedikit malu. Ia juga tidak tau entah apa yang berbeda dari dirinya kini. Kata 'sayang' yang ia ucapkan refleks terucap begitu saja. Tanpa ragu dan tanpa paksaan.
"Kan aku udah sayang sama kamu. Enggak! Aku cinta sama kamu." Tegas Elvan dengan satu tarikan nafas.
Helen langsung bangkit dari tidurnya. Tangannya yang tadi melingkari perut Elvan seketika terlepas. Wajahnya yang berbinar langsung menatap manik mata Elvan. Mendekatkan wajah mereka hingga beberapa centi.
"Kamu bilang apa tadi? Cinta? Kamu cinta sama aku? Beneran?" Tanya Helen sangat pelan. Hampir seperti bisikan.
Elvan mengangguk kaku. Bukan karena perkataan Helen, tapi karena kedekatan wajah mereka, wanita itu belum sadar dengan tindakan dan kondisi tubuhnya kini.
"Beneran?" Tanya Helen mendesak. Ingin Elvan meyakinkan dirinya.
Mata nakal Elvan tidak bisa diam ditempatnya.
"Bener, sayang.." Tegasnya, namun terdengar lembut.
Seketika senyum Helen mengembang hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Jadi yang tadi malam itu beneran? Kamu gak bohong supaya dapat jatah kan?" Helen memicingkan matanya menatap Elvan.
Sekali lagi Elvan tergelak. Ekspresi Helen pagi ini sungguh berubah-ubah. Dan itu mampu membuat Elvan senang.
"Nggak. Mana mungkin aku bohongin kamu. Aku beneran cinta sama kamu." Tekan Elvan meyakinkan.
"Aku minta maaf karna terlambat mencintai kamu. Seharusnya aku lebih cepat sadar sama perasaan aku sendiri. Maaf, udah buat kamu nunggu lama. Aku nyesel pernah mensia-siakan kamu." Elvan membawa Helen ke dalam pelukannya. Membenamkan wanitanya di dalam pelukan hangatnya.
Helen terharu. Matanya berkaca-kaca mendengar penuturan Elvan. Akhirnya setelah sekian lama semuanya berjalan sesuai keinginannya. Penantian dan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
Ya Rabb, terima kasih telah mengabulkan doa-doa ku. Tanpa mu, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Helen membalas pelukan Elvan tidak kalah erat. Apa mereka harus merayakan persatuan ini? Pikirnya.
Bersambung...
__ADS_1