My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 102


__ADS_3

“Helen!”


Mendengar namanya dipanggil, Helen langsung kembali membuka pintu yang tadinya hampir tertutup. Di depan sana Daniel berdiri dengan cengirannya dan lambaian tangannya.


“Haii.” Daniel menatap Helen yang kini menatapnya bingung.


“Lho, Daniel. Lo—kok bisa disini?”


“Ya bisa dong, kan rumah gue di samping.” Jawab Daniel sambal mengedikkan dagunya ke samping, ke arah rumahnya.


Helen keluar dari balik pintu lalu melihat rumah yang dimaksud Daniel. Rumah pria itu tidak kalah besar dan mewah dari rumahnya.


“Itu rumah lo? Lo tinggal disini?” tanya Helen setengah terperangah.


Dengan senyum lebar Daniel mengangguk lalu menjawab.


“Iya, itu rumah gue.”


"Wah berarti kita bakalan jadi tetangga dong? Yey!" Helen tampak senang saat mengetahui fakta tersebut. Setidaknya ia punya teman di lingkungan yang baru ini.


"Pastinya. Bisa dong ya kalau kita lebih dekat lagi."


"Maksudnya?"


"Hehe.. enggak kok, gak usah dipikirin."


"Oo gue kirain apa." Helen terkekeh pelan lalu menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.


"Eemm gue boleh masuk gak nih?" Kode yang pas untuk membuat Daniel dipersilahkan masuk ke dalam rumah.


"Oh, boleh kok boleh hehe.." Helen menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


Daniel mengikuti Helen dari belakang, lalu duduk di sofa tempat Virgo duduk tadi.


"Mau minum apa?" Tanya Helen saat Daniel telah duduk nyaman di tempatnya.

__ADS_1


"Yakin kalau gue jawab minumannya bakalan ada? Gue sih gak yakin, kan lo baru pindah disini ya." Ujar Daniel sambil menatap Helen dengan senyuman jahilnya.


Seakan baru teringat, Helen menepuk jidatnya pelan lalu tersenyum malu. Bisa-bisanya ia bertanya seperti itu sementara dirinya bahkan sama sekali belum tau apakah ada sejenis minuman di dapurnya. Jangankan itu, letak dapurnya saja Helen belum tau.


"Hehe iya ya, aneh banget gue. Kalo gitu gimana dong, gak ada minuman apalagi makanan, lo sih datangnya di waktu yang kurang tepat." Gurau Helen tanpa menghilangkan senyum manisnya.


"Slow aja lah, gak ada makanan sama minuman mah gak masalah, yang penting lo ada dihadapan gue." Lagi-lagi Helen mendengar perkataan Daniel yang tidak dapat ia mengerti. Sama seperti tadi, Helen hanya berpura-pura tidak mendengar penuturan pria itu.


"Btw, kok lo bisa tau gue baru pindah?" Helen ikut duduk dihadapan Daniel, mereka duduk berseberangan yang dipisahkan oleh meja kaca yang diatasnya terletak bunga mawar buatan.


"Ya tau lah, orang semalam rumah ini masih kosong, terus tadi gue liat lo pas turun dari mobil sama satu cowok yang bawa beberapa koper." Terang Daniel sambil menatap Helen lekat.


"Cowok tadi Virgo kan? Temen lo sewaktu pergi ke pantai? Kalian pacaran?" Tanya Daniel was-was. Tidak ingin jawaban Helen nantinya akan membuatnya kecewa.


Helen terkesiap lalu tertawa pelan. Mana mungkin Virgo mau dengannya, pikirnya.


"Enggak kok, dia temen gue."


"Ooo bagus deh."


"Hah? Oh-- itu, i-iya. Gue tinggal sama orang tua." Jawab Helen dengan terbata-bata sambil mengikuti arah pandangan Daniel.


"Jadi, orang tua lo mana? Kok gak ada? Gue mau kenalan nih mana nyokap bokap lo mau jadiin gue menantu." Ujar Daniel lalu menatap Helen yang kini menatapnya cengo.


"Hahaha selow aja kali ekspresinya, gak usah syok gitu. Gue cuma becanda, gak usah di bawa serius." Ujar Daniel setelah tawanya berhasil berhenti. Air wajah Helen membuat tawanya meledak, padahal ucapannya barusan hanyalah bualan semata, walaupun jauh di dalam hatinya terbesit keinginan seperti yang ia ucapkan tadi.


"Hehe." Helen hanya terkekeh pelan sambil tersenyum canggung. Berulang kali ia berusaha menganggap ucapan Daniel hanyalah angin lalu, tapi hal itu sama sekali tidak berhasil. Pria itu bahkan lebih gencar mengucapkan kata-kata yang membuatnya menjadi sedikit tidak nyaman.


"Jadi orang tua lo mana?" Daniel kembali mengeluarkan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang barusan ingin Helen hindari. Kenapa? Karena jika ia memberi jawaban, maka sudah pasti itu adalah jawaban yang tidak benar adanya.


"Mmm orang tua gue lagi gak disini, mereka masih di rumah yang lama." Ujar Helen.


Daniel mengangguk sambil tersenyum lembut menatap Helen.


"Oiya, gue pamit ya, soalnya ada janji sama Papa, besok gue datang lagi, tapi harus ada makanannya ya?" Daniel terkekeh melihat Helen yang tertawa setelah mendengar ucapannya. Sedetik kemudian air wajahnya berubah saat menyadari ucapannya barusan. Mustahil rasanya jika ia ada janji dengan Papanya, Rian.

__ADS_1


"Aman deh aman." Helen bangkit dari duduknya lalu mengantarkan Daniel hingga ke depan pintu. Pria itu hanya berjalan kaki datang ke rumahnya.


Daniel melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Melihat itu membuat Helen terkekeh geli, semakin di kenal rasanya Daniel masih seperti bocah.


"Oh iya, gue mau ingetin." Daniel berhenti lalu berbalik menatap Helen. Jarak mereka kira-kira sekitar 10 meter.


Helen mengernyit, menunggu perkataan Daniel selanjutnya.


"Gue masih punya dua permintaan yang harus lo turutin. Ingat kan?" Daniel menatap Helen dengan cengirannya.


Helen mengusap pelipisnya pelan lalu menarik nafas panjang.


"Iya, gue inget kok." Jawabnya singkat.


Daniel mengacungkan jempolnya lalu kembali berbalik dan melangkah ke arah rumahnya. Sebelum itu ia kembali melambaikan tangan terlebih dulu.


Helen menghembuskan nafas pelan, dirinya baru ingat kalau ia memiliki janji dengan Daniel. Ditatapnya rumah Daniel yang berwarna putih, rumah yang tidak kalah mewah dengan rumahnya kini tampak cantik dan modern untuk dihuni oleh seorang Daniel yang sedikit kekanak-kanakan menurut Helen. Mungkin ia bisa bertamu dan berkenalan dengan orang tua Daniel nantinya.


Elvan kembali ke rumah sakit setelah meminta syam untuk mengurus semua keperluan mereka untuk kembali ke Indonesia.


Hari ini Alexa juga sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit sehingga hal itu memudahkan rencananya untuk ikut dengan Elvan kembali ke Indonesia, setidaknya ia bisa menghindari kedatangan Harvey di rumah sakit. Alexa merasa senang karena sebentar lagi ia akan kembali bebas. Bebas dari segala hal buruk yang pernah ia alami di Finland bersama Harvey, bebas dari mafia kejam itu dan kembali bisa hidup normal seperti dulu tanpa harus dikekang oleh pria kejam itu. Harvey ternyata telah memberikan efek yang luar biasa di kehidupan Alexa.


Elvan memasuki ruang inap Alexa dan mendapati wanita itu tengah berdiri di samping nakas sambil menenteng tas kecil dengan senyum cerahnya. Elvan ikut tersenyum membalas senyuman wanita itu.


"Kita berangkat sekarang kan?" Alexa menatap Elvan dengan penuh harap.


"Iya kalau kamu udah siap." Jawab Elvan setelah berdiri tepat di depan Alexa.


"Aku udah siap kok, ayo berangkat sekarang." Ujar Alexa terdengar semangat.


Alexa menarik tangan Elvan keluar dari ruangan itu. Setelah itu, ia mensejajarkan langkah mereka. Mereka bercerita banyak hal selama di perjalanan.


Bersambung...


Maaf ya teman-teman baru bisa lanjut🙏

__ADS_1


__ADS_2