My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 63


__ADS_3

Happy Readingđź’–


Setelah selesai memakan semua menu sarapan mereka, Virgo dan Ella pergi meninggalkan Helen dan Elvan di sebuah pondok.


Virgo sengaja membawa Ella menjauh dari sepasang suami istri itu, karna ia ingin memberi ruang bagi Helen dan Elvan untuk menyelesaikan masalah mereka yang tadi belum tuntas, atau pun masalah lain yang ingin mereka bahas.


Virgo membawa Ella menyusuri bibir pantai. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Di leher Virgo tergantung sebuah kamera yang akan ia pakai untuk mengabdikan moment mereka selama berlibur.


"Yang, kenapa cuma kita berdua aja sih? Aku kan maunya sama Helen." Ella mengeratkan pelukannya pada lengan Virgo.


"Gapapa, biar mereka bisa berduaan. Kamu mau kan kalau hubungan mereka lebih dari sekedar teman?" Virgo menoleh pada Ella.


Ella bungkam beberapa saat. Ada rasa tidak setuju di hatinya jika Helen harus bersama Elvan.


"Gimana ya, aku sih setuju aja. Cuman aku kurang yakin sama Elvan. Sifat dia itu gak banget, datarnya berlebihan." Ucap Ella.


Virgo mengangguk.


"Ya juga sih." Tandasnya.


"Ya sudah lah biarin aja, kalau jodoh juga gak kemana." Sambung Virgo membuat Ella mengangguk setuju.


"Wah.. airnya cantik banget. Liat yang, airnya biru." Virgo menatap air pantai yang dimaksud Ella.


"Iya cantik kaya kamu." Gombal Virgo.

__ADS_1


Ella bersemu merah.


"Makin cantik deh kalau pipinya merah gitu." Lagi-lagi perkataan Virgo membuat Ella melebarkan senyumnya.


Satu pukulan mendarat di lengan Virgo membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Kamu kebiasaan deh." Celetuk Ella. Lalu berlari meninggalkan Virgo yang terkekeh geli menatap punggungnya. Gadisnya itu benar-benar pemalu. Sudah biasa di gombal seperti itu tetapi masih saja malu-malu kucing.


"Aaa..!" Pekik Ella saat merasa tubuhnya di peluk dari belakang.


Ya, Virgo mengejar kekasihnya itu lalu memeluknya dari belakang. Memerangkap gadisnya hingga berada di dalam kukungan lengannya.


Virgo mendaratkan dagunya di pundak Ella. Deru nafasnya terdengar jelas di pendengaran kekasihnya itu. Ella menunduk menyembunyikan semua merah di wajahnya saat merasakan tubuh Virgo yang sangat dekat dengannya, bahkan tidak berjarak sedikit pun. Virgo mengeratkan pelukannya melingkari perut Ella dan semakin memperdalam sentuhannya pada lekukan leher Ella. Memberikan efek yang menggelitik membuat Ella terkikik geli. Rambut Ella yang terurai telah sepenuhnya Virgo selipkan kelekukan leher Ella di sebelah kanan.


Cup


Plakk..


Ella memukul punggung tangan Virgo yang berada di perutnya lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya agar lepas dari kurungan lengan pria itu. Namun, sekeras apapun Ella bergerak hal itu tidak merubah apapun. Ia tidak bisa lepas dari lengan Virgo.


"Gak ada yang liat sayang." Seru Virgo pelan.


Dielusnya puncak kepala Ella sambil sesekali dikecupnya, merasakan aroma wangi rambut gadisnya yang terasa begitu menenangkan.


"Tapi aku malu." Rengek Ella.

__ADS_1


Virgo membimbing tubuh Ella agar menghadap hamparan laut yang ujungnya sama sekali tidak terlihat dengan masih memeluk tubuh Ella dari belakang.


"Disini, di pantai ini, dihadapan hamparan laut yang luas ini, aku berjanji akan selalu bersama mu dalam keadaan apapun." Ujar Virgo dengan penuh tekat. Setelah ini, ia akan selalu bersama Ella melalui hari-harinya yang baru, hari-harinya yang akan terasa lebih indah. Walaupun ke depannya mereka pasti akan mengalami lika-liku dalam hubungan. Apapun itu, Virgo akan selalu ada untuk Ella.


Ella terdiam, namun jantungnya terpacu dengan cepat. Bahkan rasanya jantungnya akan melompat dari tempatnya jika ia tidak bisa menahan gejolak bahagia yang ia rasakan.


Di tempat ini, Ella merasakan bahagia yang amat sangat. Di pinggir pantai ini, mereka saling menatap, memeluk dengan penuh cinta yang disaksikan oleh air, pasir, ombak, angin bahkan semua yang ada. Mereka tertawa bahagia.


Sepertinya Ella dan Virgo dari pondok tempat mereka menikmati sarapan, Helen meremas jemarinya guna menyembunyikan kegugupannya. Dihadapannya, Elvan duduk dengan tenang. Pria itu asik sendiri dengan ponselnya yang mungkin lebih menarik dari pada Helen yang berstatus istrinya.


Beberapa menit telah berlalu. Namun, tidak satu pun dari mereka yang membuka suara. Pikiran Helen berkecamuk, ia tau jika bukan dirinya yang lebih dulu membuka suara maka mereka akan tetap dalam situasi seperti ini, mungkin sampai pria itu lelah menatap ponselnya lalu pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Begitu lah Elvan, sangat kaku dan sulit digapai.


Tapi apa yang harus ia katakan? Helen bingung harus memulainya dari mana.


"Elvan." Helen menatap Elvan dengan penuh harap.


Pria itu acuh.


"A-aku mau ngomong." Ujarnya dengan sedikit terbata.


Elvan tetap tidak menggubrisnya.


"Elvan sekali aja, tolong liat gu.."


"Ngomong aja." Potong Elvan cepat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2