
Happy Reading All🤗
Selesai sarapan pagi, Helen langsung mencuci piring kotor yang sudah Elvan pindahkan dari meja makan ke wastafel yang tidak jauh dari meja kompor. Ada banyak perubahan dari diri Elvan dan Helen sangat mensyukuri itu. Suaminya itu tidak lagi langsung pergi setelah selesai makan, seperti yang sudah-sudah. Kali ini, Elvan akan membantunya melakukan pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan. Awalnya, Helen terperangah saat melihat Elvan memindahkan piring-piring kotor itu ke wastafel. Hingga akhirnya ia mengulum senyum saat melihat Elvan kembali ke meja makan dan membersihkan meja tersebut dengan serbet.
Elvan yang tadi melihat wajah keheranan Helen, langsung menjawab tanpa diminta.
"Aku mau bantuin istriku beresin ini, bolehkan?" Elvan menatap Helen dengan penuh cinta.
Helen yang sedang berdiri di depan wastafel semakin mengembangkan senyumnya.
Istriku.
Kata yang manis.
Walaupun perlakuan Elvan sangat sederhana, hal itu sudah mampu menyentuh perasaan Helen. Ia bahagia. Helen mengangguk berulang kali menjawab pertanyaan Elvan. Cukup lama mereka saling pandang dan tersenyum satu sama lain, hingga akhirnya Elvan berujar pelan.
“Mau lanjut beres-beres atau lanjutin yang tadi malam?” Elvan sengaja menggoda Helen dengan kata-katanya, pasalnya ia tahu jika tidak seperti itu, Helen pasti lupa dengan pekerjaannya dan asik memandangi wajahnya yang memang kerap kali membuat Helen terpana. Ck!
“Dua-duanya juga boleh.” Jawab Helen jahil. Ingin menantang Elvan.
Elvan langsung tergelak mendengar penuturan itu. Tidak menyangka Helen akan menjawab demikian. Bukan! Sebenarnya Elvan tidak kaget karena ia tahu betul bagaimana frontalnya Helen.
“Jadi, kamu mau kita ngelakuin itu disini?” Tanya Elvan memastikan.
“Kenapa nggak?” Tanya Helen balik.
Elvan menajamkan matanya. Mencoba mencari maksud tersendiri dari ucapan Helen sambil berjalan mendekati istrinya itu.
“Aku gak salah denger, kan?”
“Hmm, kayanya sih enggak.” Elvan kembali tertawa lalu mulai mencuci piring yang sudah ada di tangannya.
Sekitar satu jam kemudian, Elvan sudah rapi dengan kemeja yang ada dibalik jasnya. Rencananya, ia akan pergi ke kantor untuk mengecek perkembangan perusahaannya. Elvan berdiri dihadapan Helen yang akan mengantarkannya ke depan pintu utama.
“Nanti sore aku jemput, kamu siap-siap ya.” Ujar Elvan sambil menggenggam jemari Helen, tidak lupa dengan senyumannya.
Tanpa ingin bertanya mengapa, Helen mengangguk pasti.
Elvan menarik Helen ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepala istrinya lembut.
"Aku pergi dulu." Ujarnya setelah melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Kamu hati-hati, ya. Jangan telat." Helen berujar setelah menganggukkan kepalanya.
Elvan pergi meninggalkan pekarangan rumah mewah itu bersama mobil sportnya.
Helen memperhatikan kepergian Elvan hingga mobil yang dikendarai suaminya itu tidak lagi terlihat oleh pandangannya. Ia memperhatikan pelataran rumahnya sejenak, setelah memakai alas kaki, Helen pergi menyusuri halaman yang lumayan luas itu. Dari bawah pohon yang tidak terlalu tinggi, Helen melihat beberapa pengawal yang sedang berjaga di depan pagar rumahnya. Helen tidak tahu mengapa Elvan menyuruh empat bodyguardnya menjaga di depan sana. Padahal selama ini, pria itu bahkan jarang menggunakan jasa para orang-orang itu. Satu hal lagi yang Helen tahu dari suaminya itu, Elvan tidak akan dengan gampang memberi perintah kepada para bodyguardnya selagi ia dapat mengurusnya sendirian.
Jika kita sendiri bisa, kenapa harus minta bantuan orang lain? Helen masih ingat dengan perkataan Elvan beberapa bulan lalu, saat mereka masih menjadi musuh bebuyutan. Saat itu, Helen sedang ingin pergi ke pusat perbelanjaan dan meminta Elvan mengantarkannya. Alih-alih mau mengantarkannya, Elvan malah membentak dan berujar kasar kepadanya. Padahal waktu itu jika Elvan memang tidak bisa mengantarkannya, maka dengan bodyguard pria itu Helen pun mau, asalkan ia tidak menyetir sendiri. Tapi, dengan jiwa pelit dan angkuhnya Elvan tidak mengizinkan satu bodyguard pun untuk mengantarkan Helen. Jadi, apa gunanya para pria berwajah datar itu dibayar? Makan gaji buta itu namanya. Itulah yang ada dibenak Helen saat itu. Tidak lupa dengan gerutuan kecilnya.
Meong...
Lamunan Helen buyar saat mendengar suara kucing. Ia lantas menoleh ke dalam rumah dan melihat kucing putih berjalan keluar dari sana. Kucing yang saat itu Helen temukan dibawah guyuran hujan, kini telah ia rawat dan dijadikan peliharaan kesayangannya. Mengingat kejadian waktu itu, Helen jadi ingat dengan wanita yang mengaku-ngaku sebagai teman lamanya.
Meidi.
Helen tidak menyangka wanita itu berani muncul di hadapannya, bahkan mengatakan mereka teman dekat. Helen terkekeh, itu betul, tapi sebelum Meidi menghianati persahabatan mereka.
Meong...
Lagi-lagi Helen tertarik dari lamunannya. Ternyata kucing putih itu sudah ada di samping kanannya sambil menggesek-gesekkan bulunya di kaki Helen. Helen mengambil kucing itu dan membawanya ke dalam pelukannya lalu mengelus-ngelus wajah kucing itu dengan lembut. Dengan adanya kucing itu, Helen jadi tidak kesepian saat Elvan pergi bekerja.
Elvan keluar dari ruangannya setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB.
"Hai bro, mau kemana lo?" Elvan menoleh dan mendapati Virgo yang tengah menatapnya penasaran.
"Yaelah, mentang-mentang udah baikan mintanya pulang terus." Virgo menatap Elvan geli.
"Masalah buat lo?"
"Ooh jelas, lo belum kasih pajak baikan sama gue. Mentang-mentang gue nggak nagih, lo pura-pura lupa." Virgo mengubah duduknya menghadap Elvan.
"Gak ada pajak-pajakan!" Elvan sudah akan melangkah meninggalkan Virgo, tapi suara sahabatnya itu kembali menahannya.
"Lo udah janji, bro. Lo lupa siapa yang udah bantuin lo selama ini?" Virgo mengingatkan Elvan.
"Iya-iya. Pamrih banget lo." Ucap Elvan.
Sukses membuat Virgo tergelak. Rasanya jadi kesenangan tersendiri saat melihat wajah kesal Elvan. Virgo menatap kepergian Elvan dengan senyum tipisnya. Rencananya berhasil. Elvan dan Helen sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Virgo berencana merayakan kebahagiaan ini dengan orang-orang terdekatnya.
Ah, Ella! Virgo langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi kekasihnya itu.
"Sayang, besok malam kita barbequean yuk? Sekalian ngerayain hubungan Elvan sama Helen." Virgo berujar setelah Ella mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Oke, nanti aku kabari Helen." Virgo kembali menyimpan ponselnya setelah beberapa menit kemudian. Suara Ella sudah cukup mengurangi rasa rindunya.
Elvan sampai di halaman rumahnya beberapa menit kemudian, ia lantas turun dari mobil dan mencari Helen ke dalam rumah. Ia langsung ke lantai atas, ke kamarnya dan Helen. Di sana, Elvan langsung menemukan istrinya sedang duduk di depan meja rias. Istrinya itu sedang menata rambutnya.
"Sayang." Panggil Elvan, menarik Helen dari lamunannya. Elvan tau, istrinya itu pasti sedang memikirkan sesuatu. Entah apa itu.
Helen tersentak dan refleks menoleh ke belakang. Air mukanya yang tadi tampak kosong digantikan dengan senyum cerah.
Elvan menghampiri Helen.
"Belum siap, ya?" Tanyanya sambil menyelami mata Helen.
Ditatap sebegitu intens memmbuat Helen kikuk. Belum pernah Elvan menatapnya seperti ini, kecuali dari dua hari terakhir. Tatapan yang menyiratkan cinta begitu dalam, tatapan yang menyatakan seolah dirinyalah yang paling indah di dunia ini. Helen mengulum senyumnya, membalas tatapan Elvan dengan malu-malu.
“Sini, biar aku bantu.” Elvan mengambil sisir rambut dari tangan Helen.
“Yakin kamu bisa?” Helen mendongak ke belakang menatao wajah Elvan.
“Coba aja dulu.” Lagi-lagi mereka saling tersenyum dan menyatakan cinta lewat tatapan mata.
Bagi Elvan, membantu istrinya menata rambut bukanlah hal yang sulit. Ia sangat menikmati apa yang ia lakukan. Rambut hitam panjang milik Helen terasa lembut di jemarinya. Wangi stroberi menyeruak dari rambut itu seiring ia menyisirnya dengan sangat hati-hatu. Elvan takut menyakiti rambut istrinya.
Dari pantulan cermin, Helen menatap wajah tampan Elvan dengan senyum manis yang tak pernah surut. Lagi-lagi Elvan membuat jantungnya berdebar tidak menentu. Bisa-bisa wajahnya jadi kaku jika kebanyakan tersenyum karena mendapat perlakuan yang begitu manis dari Elvan.
“Makasih, Sayang.” Helen mengecup pipi Elvan sebagai hadiah dari perlakuan manisnya, membuat Elvan tersenyum lebar kesenangan.
Sederhana, namun Helen sudah sangat senang. Tidak perlu bagi Elvan mengeluarkan banyak uang untuk membuat istrinya bahagia. Sangat berbeda dengan Alexa, pikirnya.
Ah, mengingat nama wanita itu, Elvan jadi teringat dengan percakapannya beberapa waktu yang lalu dengan Helen, ia belum sempat menyampaikan permintaan maaf kepada Alexa.
“Sayang, kita telpon Alexa ya? Kamu mau kan bicara sama dia?” Elvan menatap Helen dari pantulan cermin di depannya.
Bersambung...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....
...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...
...Terima kasih🙏...
Guys mengingat untuk My Cold Husband is A CEO sebentar lagi akan tamat. Author juga punya novel yang kedua nih sebagai penggantinya, yang berjudul "MENIKAH DENGAN DUDA" jangan lupa ya dibaca novel kedua ku juga, pokoknya gak kalah seru deh. Makasih🙏
__ADS_1