My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 28


__ADS_3

Elvan yang sudah rapi dengan pakaian casualnya melirik tangan Helen Yang memegang kotak obat miliknya.


"Gue bisa sendiri!" Elvan merampas kotak tersebut dari tangan Helen lalu mengambil sebuah cermin berukuran sedang dari lagi nakas dan duduk di pinggir ranjang.


Helen mengulum bibirnya melihat Elvan yang duduk membelakanginya. Bagi Helen, tidak masalah jika Elvan menolak bantuannya, yang terpenting pria itu mau mengobati lukanya. Helen tidak tau mengapa Elvan begitu menjauhinya. Ia jadi heran sendiri saat membandingkan tingkah Elvan dengan Daddy nya. Daddynya akan sangat manja kepada Mommynya jika sedang sakit. Sedangkan Elvan, pria itu bahkan sama sekali tidak mau dibantu olehnya. Ia pikir suami akan berlaku sama seperti Daddy nya, ternyata Helen salah, hanya Daddy nya lah pria yang manja kepada istrinya.


Helen mendudukan bok*ngnya di sofa empuk yang berada di dekat jendela. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat wajah Elvan dari samping. Wajah yang terdapat lebam namun masih sangat tampan.


Bagaimana bisa dia setampan itu?, batinnya Helen. Sadar dengan pemikirannya yang aneh. Helen langsung memukul kepalanya sendiri, bagaimana bisa di saat orang itu sedang terluka ia bisa memikirkan hal yang tidak-tidak.


Aaakh..


Elvan meringis saat tanpa sengaja menyentuh luka di daerah bibirnya. Helen menatap Elvan lekat yang sedang meringis kesakitan. Ada rasa dongkol yang muncul di hatinya saat melihat Elvan yang tampak kesulitan, namun menolak bantuannya.


Dasar Kulkas kepala batu. Lo gak akan bisa ngobatin itu tanpa bantuan gue, masih aja keras kepala. Gerutu Helen kesal.


Elvan mengupas daerah sudut bibirnya untuk mengurangi rasa perih yang dirasakannya.

__ADS_1


"Keras kepala." Ujar Helen pelan sembari memutar bola matanya jengah.


Elvan yang mendengar gerutuan Helen menatap gadis itu tajam.


"Apa lo bilang?!" Marah Elvan yang membuat bibirnya menjadi lebih perih.


Helen tersentak melihat kemarahan Elvan. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh mengatai pria garang itu.


"Enggak, gue gak ngomong apa-apa." Ujar Helen lalu berjalan mendekati Elvan.


"Sini gue bantuin, lo gak akan bisa ngobatin ini sendiri. Lo gak mau kan wajah tampan lo ini hancur sia-sia? Jadi, biarin gue yang ngobatin luka lo." Helen merebut kapas dari tangan kanan Elvan sembari duduk disamping pria itu.


"Liat gue, yang mau di obatin itu muka lo bukan telinga." Ujar Helen kesal.


"Gue gak butuh bantuan lo." Ucap Elvan tajam. Ia menahan rasa perih di bibirnya saat sedang bicara.


Helen mendengus mendengar penolakan Elvan. Pria itu sangat tidak pandai berterima kasih, masih mending ia mau berbaik hati membantunya.

__ADS_1


Helen memalingkan wajah Elvan agar menghadapnya dengan tidak santai.


Rasain lo, batinnya. Ia tau Elvan pasti kesakitan dengan perlakuannya.


"Lo mau buat wajah gue tambah rusak?!" Bentak Elvan sesudah Helen menyentuh wajahnya kasar.


"Ya enggak lah!" Bantah Helen. Ia mulai membersihkan luka Elvan terlebih dulu lalu memberi obat merah di sekitar luka Elvan. Helen dengan cekatan mengobati wajah pria garang itu. Jarak mereka sangat dekat, Helen sedikit mencondongkan tubuhnya saat Elvan semakin menjauhkan kepalanya ke belakang.


"Iiih... Lo bisa diam gak sih? Jangan usah mundur-mundur gitu." Kesal Helen.


Sabar, Elvan membatin.


Elvan mendengus lalu kembali memposisikan tubuhnya seperti semula.


Bersambung...


Jangan lupa di like dan komen ya guys.

__ADS_1


Terima kasih ❤😁


__ADS_2