
Happy Reading🤗
Elvan baru saja pergi dari pemakaman Daniel bersama Virgo dan Ella. Pemakaman yang dilakukan dengan khidmat itu menyisakan kenangan di ingatan mereka. Mereka masih saja tidak menyangka kalau Daniel benar-benar telah pergi, padahal rasanya mereka baru saja bertemu. Pertemuan mereka memang tidak disangka-sangka, sama seperti perpisahan kali ini. Semua makhluk hidup pasti akan bertemu ajalnya, semua orang tau itu tapi tetap saja setiap kepergian selalu menyisakan kesedihan. Mengapa harus demikian? Bukankah kita sudah tau akhir dari kehidupan? Bukankah kita tau kematian akan menghampiri siapa pun? Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah konteksnya. Kita tidak dapat membantah dan menghindari hal tersebut.
Mereka memasuki ruangan serba putih itu, bau obat-obatan langsung menyambut mereka. Disana, sudah ada Miranda dan Bima, sementara Frans dan Sandra masih di pemakaman, mereka sedang menemani Bill yang sedang berduka. Elvan segera menghampiri Helen, wanita itu sedang tidur mungkin setelah meminum obatnya. Ia duduk di samping istrinya, menggantikan posisi Miranda. Ia sangat bersyukur ketika Helen sadar satu hari yang lalu walupun hanya sekedar membuka matanya. Wanita itu masih sulit berbicara, hanya ada air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. Tidak ada yang tahu mengapa Helen menangis setiap kali membuka matanya. Mereka semua kebingungan, mereka terus-terusan bertanya, tapi Helen tetap bungkam, kemungkinan gejala pendarahan tengkorak membuatnya kesulitan berbicara. Dengan penuh kelembutan Elvan membelai rambut istrinya. Mata elangnya menatap wajah Helen dengan teduh.
“Mom, sudah berapa jam Helen tidur?” tanyanya seraya menatap Miranda.
“Mungkin sudah sekitar satu jam. Tadi setelah suster memberinya obat, tidak lama setelahnya Helen langsung tidur.” Jawab Miranda yang kini duduk di antara Bima dan Ella, sedangkan Virgo pergi ke kantin untuk membeli cemilan.
“Apa tadi dia menangis lagi, Mom? Mommy sudah tanya dokter kenapa dia seperti itu?” tanya Elvan lagi, badannya berbalik demi melihat wajah mommynya.
Raut wajah Miranda dan Bima tampak murung. Mereka ikut merasakan kesedihan di hati putra mereka.
“Iya, Nak. Tadi Helen kembali menangis saat sadar. Dia memang tidak bersuara, tapi air matanya terus mengalir. Ketika mamanya tanya sama suster, mereka tidak tau pasti apa penyebabnya, tapi kemungkinan besar itu terjadi karena batin dan perasaan Helen yang sedang terguncang atau bersedih.” Miranda menjelaskan.
Elvan kembali menatap Helen, mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah pucat istrinya.
“Bangun sayang, aku ingin mendengar suaramu. Cepat sembuh, aku rindu masakanmu.” Ujarnya seraya mengelus punggung tangan Helen yang bebas dari jarum infus.
Cukup lama Elvan melakukan hal tersebut, hingga akhirnya ia merasakan pergerakan di tangan Helen. Elvan langsung meneggakan tubuhnya, menunggu dengan tidak sabar mata istrinya terbuka. Ia tersenyum selebar mungkin menyambut tatapan teduh istrinya yang sangat ia rindukan. Mereka semua tersenyum menyambut Helen.
__ADS_1
“Vir panggil dokter.” Virgo yang baru saja memasuki ruangan kembali keluar saat mendengar perkataan Elvan.
“Sayang, akhirnya kamu bangun. Kamu dengar suaraku kan? Kamu udah bisa bicara? Coba katakana sesuatu. Sayang, kamu baik-baik aja kan? Kamu gak ngerasa sakitkan?” Elvan langsung bertanya dengan semangat.
Sedangkan yang ditanyai hanya menatap lurus ke depan. Hal itu membuat Elvan seketika khawatir. Ia kembali memanggil Helen, mengajak wanita itu berbicara.
“Ma-ma.” Helen menatap Miranda, Bima, Elvan dan Ella bergantian, mereka berdiri mengelilingi ranjangnya.
“Iya, sayang. Ini mama.” Ujar Miranda sambil mengusap kepala Helen.
“Mama Helen ma-na?” tanyanya pelan.
"Mama kamu lagi ada urusan, sayang. Kamu sama mommy dulu ya. Di sini ada mommy, daddy, Elvan dan Ella. Kita tunggu mama sama papa kamu datang ya. Sebentar lagi mereka sampai." Dengan lembut Miranda berujar demikian.
Dokter tersebut meminta kedua orang tua Helen untuk berbicara secara pribadi di ruangannya. Ada sesuatu yang penting untuk dibahas. Tidak lama kemudian, mereka berdua kembali ke ruangan Helen. Ada rasa khawatir dan kelegaan dibenak mereka.
"Mama, peluk Helen." Ujarnya lirih dengan air mata tertahan.
Sandra langsung mendekap putri manjanya. Rasanya sangat melegakan ketika melihat Helen kembali membuka matanya. Helen membalas pelukan hangat itu, pelukan yang sangat ia rindukan selama ini.
"Ma, Daniel mana? Kenapa dia gak jengukin Helen?" Tanyanya pelan di dalam pelukan Sandra.
__ADS_1
Tubuh Sandra menegang. Ternyata perkataan dokter tadi benar adanya. Helen kembali mengingat Daniel dan status mereka, memori wanita itu telah kembali semuanya. Sandra terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
“Apa Daniel gak rindu sama Helen? Ma, Helen pengen ketemu Daniel.” Ujarnya lagi. Kali ini ia mengurai pelukannya.
“Sayang, kamu yang sabar ya. Kalau kamu udah sembuh nanti kita ketemu sama Daniel.” Hanya itu yang bisa ia katakana saat ini. Sandra tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, ia takut kesehatan putrinya memburuk jika mengetahui hal tersebut.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Elvan dengan sendu. Sedangkan yang ditatapnya hanya diam memperhatikan Helen. Elvan sudah tau semuanya. Ia sudah tau apa sebenarnya yang telah terjadi antara Helen dan Daniel. Elvan telah membaca buku diary itu kemarin malam. Diary yang ia temukan di atas tempat tidurnya itu mengungkapkan semua kebenaran yang sebenarnya telah ia ketahui. Elvan tau soal itu bahkan sebelum ia menikahi Helen. Waktu itu, setelah mendengar kabar soal perjodohannya, Elvan segera mencari tahu siapa gadis itu dan bagaimana kehidupannya. Waktu itu juga, Elvan sangat tidak suka ketika mengetahui fakta bahwa Helen telah bertunangan dengan Daniel, tapi masih mau dijodohkan dengannya. Karena itu juga, Elvan sangat membenci Helen. Ia merasa Helen bukanlah wanita yang setia, yang dengan gampangnya meninggalkan tunangannya hanya demi lelaki kaya sepertinya. Elvan benci itu, tapi semuanya berubah menjadi penyesalan ketika ia mengetahui fakta lain tentang Helen. Fakta yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Elvan sangat sedih ketika Frans bercerita tentang kecelakaan dua tahun yang lalu yang membuat wanita itu lupa ingatan. Tidak hanya itu, Elvan juga telah mengetahui siapa pemilik kalung yang ia temukan di bandara waktu itu. Elvan tidak menyangka, kalu dengan liontin berbentuk D itu ternyata milik Helen dan D itu adalah Daniel. Elvan tersenyum tipis. Ada rasa cemburu yang menggelora di hatinya karena saat itu Helen pasti sangat mencintai Daniel. Dan sekarang, ketika Helen bangun dari tidurnya. Wanita itu langsung bertanya soal Daniel, bukan dirinya. Elvan merasa terasingkan untuk Helen. Setelah itu, ia permisi dari sana. Ia butuh waktu sendiri. Elvan ingin menenangkan pikirannya.
Kini di ruangan itu hanya tersisa Sandra dan Frans. Miranda dan Bima baru saja pergi karena hari sudah malam, besok mereka akan datang kembali untuk bergantian dengan Sandra menjaga Helen. Sedangkan, Ella dan Virgo mereka pergi untuk membersihkan diri. Malam ini mereka akan menemani Elvan, mereka juga ingin bertanya mengenai keadaan Helen. Jujur saja, mereka sedikit bingung menyaksikan Helen yang bertanya keberadaan Daniel, bukan Elvan.
Helen duduk bersandar pada bantal yang disusun di belakang punggungnya. Ia tengah mengunyah makanan yang baru saja disuapkan oleh Sandra. Lagi-lagi ia kembali bertanya mengapa Daniel tidak kunjung menjenguknya. Sandra di buat bingung, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi agar Helen berhenti bertanya.
Bersambung...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....
...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...
...Terima kasih🙏...
Guys mengingat untuk My Cold Husband is A CEO sebentar lagi akan tamat. Author juga punya novel yang kedua nih sebagai penggantinya, yang berjudul "MENIKAH DENGAN DUDA" jangan lupa ya dibaca novel kedua ku juga, pokoknya gak kalah seru deh. Makasih🙏
__ADS_1