
Happy Reading❤
Elvan merutuki Helen yang keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Diliriknya Helen dari pantulan cermin di depannya. Elvan mengalihkan pandangannya saat melihat Helen yang mulai berjalan kearahnya. Ia pura-pura sibuk dengan sisir di tangannya. Helen berdiri disampingnya. Elvan terpukau melihat kemulusan tubuh Helen dari cermin. Dilihatnya Helen yang mengambil sesuatu dari atas meja dan sekilas tatapan mereka bertemu sebelum Helen memasuki ruangan ganti. Elvan yang sudah selesai dengan tatanan rambutnya, duduk di sofa yang berada di dekat jendela. Ia memainkan ponselnya yang sebelumnya telah ia ambil dari laci nakas.
Beberapa menit kemudian, suara pintu yang di buka lalu ditutup sehingga ia menarik perhatiannya pada suara itu dan ia melihat Helen yang keluar dari ruang ganti dengan masih berbalut handuk di tubuhnya. Tatapan mereka bertemu saat Helen berjalan semakin dekat dengannya.
Elvan yang tadinya menatap Helen datar kini tatapannya lebih mengintimidasi. Dalam hati ia menyumpah serapahi Helen yang masih belum memakai pakaian. Apalagi saat Helen yang membalas tatapan tajamnya dengan senyum simpul.
Elvan terus melihat Helen yang sedang memilih pakaian. Ia mendelik saat melihat Helen berjinjit dengan kedua tangan diulur ke atas untuk mengambil pakaian. Hal yang dilakukan Helen tersebut membuatnya menggeram, apalagi ketika melihat kaki jenjang Helen yang semakin terekspos.
Elvan Kembali pura-pura sibuk saat melihat Helen yang akan berbalik kearahnya. Ia mengabaikan Helen yang berjalan di depannya.
“Lo pikir gue bakalan ke makan sama cara lo ini. Cara lo terlalu murahan.” Ujar Elvan sambil tersenyum miring ketika Helen menghilang di balik pintu. Elvan yang ingat pekerjaannya sudah menumpuk kemudian pergi ke ruang kerjanya.
Helen yang berada di ruang ganti kembali tergelak keras saat ia sudah tidak dapat menahan tawanya lagi. Sebenarnya sedari tadi ia menyadari jika Elvan terus memperhatikannya. Tatapan Elvan yang mengintimidasi cukup membuatnya merasakan aura tersebut. Dan Helen merasa kalau usahanya kali ini berhasil. Ia menyimpulkan kalau aura menyeramkan yang dikeluarkan Elvan itu merupakan cara pria itu untuk mengalihkan hasratnya.
Helen segera mengenakan pakaiannya. Ia bersenandung kecil dan tersenyum manis di bibir menggodanya. Helen keluar dari ruang ganti saat melihat pakaiannya sudah jauh lebih baik. Helen sudah tidak melihat keberadaan Elvan di kamar ini ketika keluar dari ruang ganti.
Helen berdiri di depan cermin tempat Elvan berdiri tadi dan mulai merapikan kuncir rambutnya. Ia melangkah keluar kamar dan meraih roti tawar saat ia sudah sampai di meja makan. Helen memolesi selai stroberi di atas roti yang sama. Sesudah selesai memolesi roti dengan selai dan membuat kopi, Helen menaruh makanan dan minuman tersebut di atas napan lalu pergi mencari Elvan.
“Elvan, lo di dalam kan?” tanya Helen saat sudah berdiri di depan ruangan kerja pria itu.
__ADS_1
Tidak ada sahutan.
Helen yakin kalau suaminya itu pasti berada di dalam ruangan itu karena semalam ia juga mendapati Elvan keluar dari ruangan itu. Merasa Elvan tidak akan menyahutinya, Helen langsung membuka pintu di depannya dengan lebar dan di sanalah ia menemukan Elvan yang sudah duduk di balik meja.
Elvan yang tidak menyadari kehadiran Helen tampak sibuk dengan dokumen-dokumen di mejanya. Helen mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan dan ia menyadari adanya perubahan di ruangan itu. Ruangan yang awalnya kosong, kini telah berisi dengan beberapa lemari yang dipenuhi dengan buku, sofa sudut, meja kerja Elvan dan lainnya.
“Ehemm..” Helen berdehem untuk menarik perhatian Elvan.
Elvan mendongak dari lembaran kertas di tangannya dan melihat Helen yeng berdiri di depan pintu. Helen menutup pintu yang tadi dibukanya dan berjalan ke arah Elvan bersama napan di tangannya.
Elvan menatap Helen yang berdiri di depan mejanya.
Elvan mengabaikan perkataan Helen dan Kembali sibuk dengan pekerjaannya.
“Elvan.” Panggil Helen pelan.
“Keluar!” tegas Elvan langsung.
“Lo sarapan dulu. Ini udah lewat dari jam makan pagi, nanti lo bisa sakit kalau kerja tapi belum sarapan.” Helen memberikan penjelasan.
Elvan mendengarkan Helen dengan ogah-ogahan.
__ADS_1
“Udah selesai bicaranya? Sekarang lo keluar!” ujar Elvan tegas tidak terbantahkan.
“Tapi itu dimakan dulu.” Suruh Helen lagi.
“Lo keluar atau gue yang pergi dari sini?” Ancam Elvan.
Helen mendesis pelan sebelum menuruti perintah pria itu.
“Iya gue keluar, tapi di makan ya rotinya.” Pinta Helen halus lalu keluar ruangan dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Elvan mendelik tajam melihat Helen yang membanting pintu. Ia melirik napan yang terdapat roti dan kopi di atasnya. Tak ada niat baginya untuk memakan dan meminum hidangan tersebut. Elvan kembali mengerjakan pekerjaanya saat sudah tidak mendengar gerutuan Helen di luar sana.
Helen yang merasa kesal menutup pintu dengan membantingnya. Ia tidak peduli jika Elvan akan marah dengan perbuatannya. Yang terpenting ia bisa melampiaskan kekesalannya saat ini. Helen kembali ke dapur sembari mengoceh merutuki perkataan Elvan yang sok tegas. Helen mengambil sisa roti yang tadi dibuatnya dan menikmati sarapan paginya seorang diri di meja makan. Walaupun hanya sarapan dengan beberapa lembar roti, Helen tidak mempermasalahkan itu, yang terpenting ia tetap mengisi perutnya yang kosong agar kondisi tubuhnya baik-baik saja.
Lagi pula ini salahnya. Ia bangun kesiangan jadi tidak sempat memasak sarapan dengan berbagai menu. Hal itu mungkin karena ia tidur sambil memeluk Elvan sehingga ia jadi tidur dengan nyenyak dan berakhir dengan bangun kesiangan.
Sesudah menghabiskan sarapannya, Helen mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya Helen selesai membersihkan semua ruangan kecuali ruangan yang sedang ditempati oleh Elvan.
BERSAMBUNG..
Terima kasih yang sudah memberikan dukungannya🙏
__ADS_1