My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 64


__ADS_3

Helen menarik nafas dalam. Dalam hati ia merutukuki Elvan yang sangat cuek. Bisa-bisanya ada spesies seperti Elvan di dunia ini. Jika pun ada mungkin hanya sedikit. Tapi yang paling Helen sesali, mengapa harus dirinya yang bertemu makhluk seperti itu? Jika di suruh memilih, ia akan memilih pria yang berwajah standar yang bersifat baik dan humoris dari pada makhluk seperi Elvan. Tampan sih iya, tapi sifat bekunya membuat Helen harus berpikir dua kali untuk memilih pria itu.


"Aku akan ceritain semuanya sama Ella." Ujar Helen dengan satu tarikan nafas.


Elvan mendongak menatap Helen. Mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang sedari tadi ia genggam.


"Ulang." Suruhnya sambil menatap Helen dengan lekat.


"Aku bakalan kasih tau Ella tentang status kita yang sebenarnya." Tukas Helen dengan penuh penekanan.


Elvan menaikkan sebelah alisnya.


"Lo bodoh?" Sindirnya tajam.


Elvan telah menegakkan posisi duduknya. Perkataan Helen seakan menariknya untuk serius.


Helen terdiam menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Perkataan Elvan melukai perasaannya. Pria itu selalu saja berkata kasar.


Sebenarnya apa alasan Elvan melarang Helen untuk tidak memberi tau Ella perihal pernikahan mereka. Toh, Ella juga sahabat mereka, sama seperti Virgo. Tetapi kenapa hanya Virgo yang diizinkan mengetahui semua itu?.


"Kenapa Ella gak boleh tau? Sementara kamu kasih tau Virgo?" Helen kembali mendongak, menatap wajah tampan Elvan.


"Lo gak perlu tau." Tukas Elvan kelewat cuek.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Kenapa aku gak perlu tau? Dia sahabat aku, apa salahnya kalau dia tau? Kamu juga udah kasih tau Virgo. Mereka sama-sama sahabat kita, tapi kenapa di beda-bedain?!" Wajah Helen tampak memerah menahan emosi.


Tidak. Ia tidak boleh terpancing emosi saat berbicara dengan suaminya itu, kalau tidak, permasalahan mereka tidak akan selesai dan hubungan mereka akan semakin renggang.


"Huuffttt.." Helen menghembuskan nafas perlahan.


"Jawab aku!" Pinta Helen atas kebungkaman Elvan.


"Tetap aja. Walaupun mereka sama-sama sahabat lo. Mereka itu beda, Ella tetap gak boleh tau." Ujar Elvan kemudian.


"Tapi kenapa?" Tanya Helen greget.


"Karna mereka beda." Tegas Elvan penuh penekanan.


Elvan mendelik mendengar ucapan Helen yang mengatai dirinya. Apa katanya? Kulkas Rusak' yang benar saja. Pria tampan seperti Elvan dikatai Kulkas Rusak.


Tiga detik berlalu, Helen mencerna perkataannya. Ia tersentak sesaat kemudian.


Helen bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri dari hadapan Elvan. Dari tempatnya duduk ia melihat Elvan yang seperti akan menerkamnya. Elvan menyadari gelagat Helen yang hendak melarikan diri, tanpa disadari membuatnya juga ikut mengambil ancang-ancang untuk menangkap gadis itu.


"Maaf." Helen langsung berdiri dari duduknya bersilanya setelah sedikit membungkuk ke arah Elvan. Setelah itu dengan secepat kilat ia langsung berbalik dan menuruni pondok.


Buk.

__ADS_1


"Aa..!"


Helen memekik saat merasa bokongnya menyentuh tanah. Ia tersandung kakinya sendiri saat akan berlari.


Elvan yang awalnya ingin mengejar Helen, langsung menghentikan gerakannya. Ia tersenyum tipis menatap Helen yang terduduk di atas pasir pantai.


Helen menatap Elvan dengan kesal. Bisa-bisanya suaminya itu tersenyum kemenangan menatapnya yang sedang kesakitan. Bukannya menolong dan menuntunnya kembali duduk di pondok, pria itu malah menatapnya dengan tampang yang membuat Helen naik pitam.


"Menolong orang itu gak berdosa loh." Sarkas Helen kesal.


Elvan terkekeh mendengar sindiran tajam Helen.


"Ihh, gak peka banget sih." Kesalnya sambil berusaha untuk bangkit. Namun baru saja ia menggerakkan sedikit pergelangan kakinya, Helen kembali memekik dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Elvan mengernyit, kekehannya telah berhenti.


"Kenapa lagi lo?" Tanyanya enteng.


"Kenapa? Kenapa? Kaki ku nih keseleo." Sewot Helen.


"Bantuin." Pintanya dengan suara yang terdengar manja.


"Iya iya, bawel banget lo." Elvan beranjak dari duduknya. Namun, sesaat kemudian ia menghentikan pergerakannya. Matanya menatap lurus ke arah seorang pria yang berada di depan Helen. Rahangnya seketika mengeras.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2