
Happy Reading🤗
Dear, My Love…
Bolehkah aku mengatakan kalau kau cintaku?
Terdengar aneh memang karena aku baru saja melihatmu. Hari ini, hari pertama aku melihatmu, hari pertama aku mengetahui namamu, hari ini juga aku langsung mencintaimu.
Apakah ini bisa dikatakan cinta atau sekadar rasa kagum yang berlebihan? Entahlah. Tapi hatiku mulai berdetak tidak karuan ketika melihatmu berdiri di atas podium. Kau tampak gagah dan berwibawa saat menyampaikan pesan-pesan kepada kami yang masih junior ini. Kau sangat mengaggumkan sehingga teman-teman di kampusku mulai membicarakanmu. Mereka memujimu, mereka mengatakan kau pria yang tampan, cerdas, dan berwajah kaku. Aku mengiyakan semua perkataan mereka dalam hati. Kau memang pria yang seperti itu sehingga aku mulai merasakan hal yang tidak wajar ini. Aku mengetuk kepala ku ketika membayangkan kau menjadi kekasihku. Hahaha terdengar gila memang, tapi aku yang menganggumimu ini benar-benar dibuat jatuh hati. Aku melihatmu dengan tatapan kagum dan terpesona tanpa berkedip. Sudah pasti tidak ada satu pun kata-kata yang kau ucapkan melekat dipikiranku.
Aku langsung tersentak ketika kau menuruni panggung. Leherku ikut berputar mengikuti dirimu yang hendak menuju kursimu. Kau duduk disana, sangat jauh dari tempat duduk ku. Andai saja tadi aku memilih kursi paling depan, pasti aku bisa melihat wajahmu dengan jelas. Huftt baru kali ini aku menyesal memilih kursi yang jauh ke belakang. Mungkin lain kali, jika ada ada acara seperti ini, aku akan cepat datang dan memilih kursi paling depan agar bisa melihatmu dari dekat.
Sepanjang acara aku menatap punggung lebarmu dan aku berdecak kesal karena acara hari ini terlalu cepat berakhir. Aku lantas melihat jam tanganku, ternyata sudah dua jam lebih aku menatapmu dengan kekaguman yang amat sangat. Hari ini juga menjadi rekor pertama aku merasa kesal ketika acara yang membosankan ini berakhir, biasanya aku akan menjadi salah satu mahasiswi yang keluar paling awal dari tempat yang besar ini. Hal itu sudah pasti karena dirimu. Kau membawa perubahan yang baik untukku di pertemuan pertama ini. Semuanya karena seniorku.
Salam cinta dariku
My senior, My love.
Helen tersenyum tipis membaca lembaran pertama, kemudian membaca lembaran selanjutnya dengan cepat. Ia sesekali tertawa ketika membaca buku itu, sesekali juga mengernyit karena gadis itu berencana mengerjai senior yang ia cintai. Terkesan ekstrim, pikir Helen.
Sudah hampir setengah buku yang ia baca dan itu tidak memakan waktu yang sedikit. Helen melihat jam tangannya, ternyata sudah hampir dua jam ia duduk disana sambil membaca diary itu. Helen merengangkan otot-otot lengannya kemudian mengambil segelas air di dapur. Tenggorokannya yang terasa kering butuh dialiri cairan. Helen kembali melanjutkan kegiatannya, membaca tulisan itu dengan tenang. Helen cukup senang ketika impian gadis di buku itu terwujud, ia akhirnya menjadi kekasih seniornya itu. Helen merasa seperti membaca novel, cerita gadis itu sungguh menarik, pikirnya. Helen ikut merasa senang ketika gadis itu dan seniornya saling mencintai, hingga akhirnya mereka bertunangan. Sungguh menakjubkan, pikirnya. Andai ia juga bisa seperti gadis itu.
Helen kembali membuka lembaran selanjutnya. Jika dilihat dari tanggal yang tertera di buku itu, mungkin tulisan ini dua bulan kemudian dari lembaran sebelumnya. Helen kembali membacanya dan isi tulisan itu membuat hatinya ikut terluka, sama dengan gadis yang menulis diary itu.
Dear, My Love
Kita baru saja berbahagia. Kau dan aku baru saja menjadi kita dengan status bertunangan dua bulan yang lalu. Tapi mengapa kau tega bermain di belakangku? Apakah pertunangan kita tidak berarti apapun bagimu? Apakah kata-kata cinta yang selalu kau ucapkan tidak lagi berarti?
Hari ini seharusnya kita pergi berkunjung ke rumah temanku, Meidi. Kau bilang, kau akan menjemputku. Kau bilang, kau tidak akan membiarkanku menunggu kehadiranmu. Tapi apa? Kau dengan teganya membuatku menunggu hingga satu jam lebih. Aku mencarimu, aku tidak tahan hanya diam menunggu kedatanganmu. Dan di sana, aku melihatmu sedang bermesraan dengan Meidi. Kau mengusap kepalanya dengan lembut, kau memegang pipinya dengan mesra, seperti yang sering kau lakukan kepadaku. Apakah semua gadis kau perlakukan seperti itu? Aku melihat semuanya dari kejauhan, hingga aku melihat kalian pergi memasuki sebuah hotel bintang lima.
Kau membuatku kecewa, kau melukai hatiku, kau menghancurkan kepercayaanku. Apakah semua pria tampan seperti itu? Suka mempermainkan wanita sesuka hatinya? Apakah kau juga termasuk pria yang seperti itu?
Kau dan dia, sejak kapan kalian sedekat itu? Aku butuh penjelasanmu. Aku ingin bertanya langsung kepadamu, tapi nyatanya mulut ini tidak bisa berkutik ketika bertemu denganmu. Aku terlalu lemah dan aku benci itu. Aku benci kalian.
My Love, Daniel
Helen menggerutu kesal kepada pria itu. Ia juga bahkan langsung mengingat Elvan ketika membaca lembaran putih itu. Bagaimana tidak, sosok pria di diary itu hampir sama dengan Elvan, suka berselingkuh dan tidak menghargai pasangan. Jika dipikir-pikir, sepertinya kebanyakan pria tampan memang suka berselingkuh. Mereka benar-benar memanfaatkan wajah tampan mereka dengan hal-hal yang merugikan orang lain. Helen ikut emosi dibuatnya.
__ADS_1
Langit mulai gelap, Helen segera bangkit untuk menghidupkan lampu. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Daniel yang baru saja memarkirkan mobilnya. Pria itu sepertinya baru pulang kerja karena ia tengah membawa sebuah laptop di tangannya. Seraya memperhatikan Daniel, Helen kembali memikirkan diary itu. Rasanya ia kurang yakin jika Daniel pria yang seperti itu. Malahan ia merasa Daniel pria polos yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Pria itu bahkan tidak pandai menyaring kata-katanya ketika berbicara dengannya. Helen tersenyum tipis mengingat pujian-pujian yang pria itu lontarkan kepadanya. Setelah melihat Daniel menghilang di balik pintu, Helen pun menutup pintu balkon lalu memasuki kamar mandi, ia harus membersihkan tubuhnya.
Helen mengeringkan rambutnya yang basah. Tubuhnya terasa lebih fresh sekarang. Seraya mengeringkan rambutnya, Helen berjalan menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian. Beberapa menit kemudian, ia sudah selesai melakukan ritual bersih-bersih di tubuhnya. Helen menyingkap gorden, hari sudah gelap. Ia menghela nafas, Elvan belum juga pulang. Pasti sekarang pria itu sedang asik bersama Alexa, sih wanita ular, pikirnya.
Helen kembali menutup gorden lalu menaiki ranjang. Ia ingin merebahkan tubuh lelahnya sambil membaca diary yang baru saja ia ambil dari meja. Kembali pada lembaran putih itu, Helen melanjutkan lembaran selanjutnya. Setelah membaca beberapa lembar, sebuah kebenaran akhirnya terungkap. Ternya Daniel bukan pria yang seperti itu, sesuai dengan tebakannya. Daniel bukanlah pria yang mudah berpaling dari pasangannya. Ternya semua itu jebakan Meidi yang ingin memisahkan Daniel dengan tunangannya. Wanita itu mencintai Daniel sehingga ia menjebak pria itu dengan mengatakan seseorang ingin melakukan hal yang buruk padanya. Ia mengatakan kepada Daniel, ada seseorang pria yang mengancamnya untuk bertemu di hotel. Ia juga mengatakan kalau sih pemilik diary itu sudah menunggu Daniel di restoran sehingga pria itu langsung tancap gas menuju alamat yang diberitahu oleh Meidi. Tapi semua itu hanyalah jebakan, Meidi mengenali mobil yang dikendarai oleh tunangan Daniel yang sedang berhenti tidak jauh dari tempat mereka sehingga ia semakin melancarkan aksinya untuk membuat kesalahpahaman antara keduanya.
Gadis itu mencintai Daniel, dia juga mempercayai penjelasan pria itu sehingga kesalah pahaman dapat teratasi. Tapi nyatanya tidak sampai di situ saja, karena kedua orang tua gadis itu tidak terima dengan perlakuan Daniel. Mereka tidak mempercayai penjelasan Daniel karena mereka punya bukti yang cukup kuat. Di mana pada foto-foto yang mereka dapat entah dari siapa terdapat foto Daniel sedang bercumbu dengan wanita lain. Tentu saja, orang tua gadis itu tidak terima dengan hal tersebut.
Helen membuka lembaran-lembaran selanjutnya tanpa membacanya lagi. Ia ingin melihat berapa banyak lagi lembaran yang harus ia baca. Helen melihat sampul belakang, disana hanya ada coret-coretan berbentuk love dan sebuah tanda tangan di sudut kanan bawah dan juga huruf FCH di bawah tanda tangan itu. Tidak ada yang istimewa, pikirnya. Tapi ia seperti tidak asing dengan kedua huruf itu. Apa mungkin itu hanya perasaannya saja? Ketika hendak menutup bagian terakhir diary itu, sebuah lipatan kertas yang terselip di bagian dalam belakang sampul menarik perhatian Helen. Ia lantas menarik kertas itu dari sana lalu membacanya.
From; Your Love, Daniel Mahendra
Happy Birthday, Sayang.
Tidak teras akita sudah dua tahun bersama, ku doakan semua yang terbaik untukmu dan untuk kita. Tidak terasa juga, hari ini kali kedua kita merayakan ulang tahunmu bersama. Aku bukanlah pria yang pandai menulis surat seperti ini, tapi aku akan berusaha, aku ingin terlihat romantic agar kamu suka. Aku ingin surat ini menjadi kenang-kenangan di setiap ulang tahunmu. Aku harap beberapa tahun ke depan kita masih bisa membaca kembali surat yang ku tulis ini bersama-sama. Mungkin jika saat itu tiba, kamu akan mengolok-olok dan menertawakanku. Tapi aku tidak akan marah, aku tidak akan menghentikan tawamu karena itulah yang aku inginkan. Aku sangat mencintaimu, rasanya aku tidak akan sanggup jika kamu jauh dariku. Maaf, telah membuatmu salah paham beberapa bulan yang lalu.
Sungguh, aku menghabiskan banyak waktu untuk menulis surat ini. Mungkin ini surat pertama yang tidak berakhir di tong sampah bersama 10 kertas lainnya. Semua ini demi kebahagiaanmu, kebahagiaan kita.
Tidak terasa juga satu bulan lagi kamu akan wisuda dan mendapatkan gelar sarjana. Aku menantikan hal tersebut. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadamu.
Sayang, aku sungguh bingung memikirkan kata-kata yang harus aku tulis lagi. Sepertinya aku perlu mengucapkan kata-kata cinta itu dihadapanmu. Aku sungguh bahagia karena bisa memilikimu. Aku ingin kamu menyimpan surat ini dengan baik. Aku benar-benar ingin kita membacanya bersama setelah kita menikah nanti.
I love you,
My Honey, Francine Chatarina Helen.
Helen terdiam kaku di tempatnya. Benarkah itu namanya? Ia kembali melihat dengan teliti tulisan tangan itu, berharap bahwa ia salah membaca. Itu namanya, namanya dengan lengkap tertera disana. Helen menggeleng pelan. Masih menolak nama yang tertera disana. Ia kembali membolak balik diary itu, tulisan tangan itu, ia kenal dengan tulisan itu. Itu sama persis dengan tulisan tangannya. Helen kembali melihat lembaran terakhir di mana huruf FCH berada. Helen baru ingat, lambang FCH itu merupakan singkatan namanya yang selalu ia gunakan untuk menandai barang miliknya. Baik itu buku, novel, meja kerja, bahkan pintu kamarnya sekali pun.
Tapi, bagaimana semuanya bisa terjadi? Helen tidak dapat berpikir dengan jernih. Ia tidak mengerti sedikit pun. Ia masih bingung mengapa namanya ada disana. Mengapa Daniel bisa menjadi pria yang ia cintai, tunangannya. Dia tidak mengingat apapun, tapi mengapa? Bahkan, setaunya mereka baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Tapi mengapa di diary itu mereka pernah bersama? Helen tidak mengerti.
Suara deringan ponsel mengagetkan Helen, ia lantas mengambil benda itu dengan cepat. Nama Daniel tertera di layar pipih itu. Tepat sekali, ia bisa langsung bertanya kepada pria itu mengenai tulisan yang ada di diary itu. Helen segera menerima panggilan tersebut. Beberapa menit kemudian, ia tampak keluar dari pintu utama dengan pakaian yang lebih rapi dari sebelumnya. Ia segera menaiki mobil yang terparkir di dekat gerbang rumahnya.
“Hai, gue rindu banget sama lo.” Sapaan Daniel langsung menyambutnya ketika memasuki mobil.
Helen tersenyum simpul, bingung harus menjawab apa.
Daniel segera melajukan mobilnya dengan cepat menyusuri jalanan kota yang padat. Ia ingin melepaskan penatnya. Masalahnya dengan daddynya membuat perasaan dan pikirannya berkecamuk dan Helen adalah orang yang tepat untuk meredakan semuanya. Daniel melirik Helen yang duduk di sampingnya, gadis itu selalu saja tampil cantik dan elegan, ia suka itu. Daniel kembali melihat ke depan, menatap jalan satu jalur yang diterangi oleh lampu-lampu jalan. Daniel kembali mengingat pertengkarannya dengan daddnya tadi. Pria tua itu sungguh melukai perasaannya sebagai anak. Pria itu memang pantas untuk dibenci. Bagi Daniel, pria itu tidak pantas untuk menjadi orang tua. Daniel tidak menyangka, pria itu tega mencelakainya bahkan ingin membunuhnya. Daniel sudah ingat bagaimana mobilnya ditabrak dengan keras oleh mobil lain. Kini Daniel ingat walaupun hanya sebagian peristiwa.
__ADS_1
Helen yang belum tahu pasti kemana ia akan dibawa hanya diam di tempatnya sambil memikirkan rangkaian kata yang akan ia tanyakan kepala Daniel. Entah hanya perasaannya saja atau apa, Helen selalu merasa aman jika bersama pria itu. Kehadiran Daniel juga sangat membantunya untuk mengalihka pikirannya dari Elvan. Kini perasaannya campur aduk Ketika bertemu Daniel untuk pertama kalinya setelah membaca diary yang isinya membuat Helen pusing tujuh keliling. Helen berusaha mengenyahkan pikiran tersebut. Ia melirik ke samping, melihat Daniel yang tampak fokus dengan kemudinya. Bahkan rasanya pria itu sangat-sangat serius hingga jemarinya mencengkram stir dengan kuat.
Helen mengernyit.
“Daniel.” Panggilnya pelanm berusaha menarik keterdiaman pria itu.
“Sebenarnya kita mau kemana sih?” tanyanya lagi ketika Daniel tidak menyahutinya.
Helen memperbaiki letak duduknya sambil memperhatikan Daniel. Tidak biasanya pria itu seperti ini, pikirnya.
“Daniel, lo lagi melamun ya? Sadar dong, jangan buat gue takut.” Ujarnya seraya menepuk bahu pria itu.
Daniel sontak terkejut kemudian menatap Helen dengan sendu. Entah menatap ketika melihat wanita itu rasa bersalah tiba-tiba memenuhi perasaannya.
“Lo jangan melamun dong, lagi nyetir juga. Gue belum mau mati muda bareng lo.” Ucap Helen sambil menatap Daniel tajam, setengah bercanda.
Helen kembali menoleh ke depan.
“Daniel pelan, di depan ada lampu merah.” Ujarnya memberitahu Daniel yang masih tidak mengurangi kecepatan lajunya.
Helen duduk ketakutan di tempatnya. Daniel gila, pikirnya. Pria itu kembali menata kosong ke depan.
“DANIEL BERHENTI.” Teriaknya menyadarkan pria itu.
Daniel terkesiap seraya mengerem pedal gas, tapi semuanya percuma. Sebuah truk pengangkut minuman langsung menghantam mobil mereka dari samping tepat di persimpangan jalan itu. Mobil yang mereka kendarai terseret hingga berpuluh-puluh meter ke depan hingga akhirnya terjun ke jurang.
Semuanya seperti mimpi, Helen tidak menyangka kalau hari ini mungkin akan menjadi hari terakhir baginya. Ia melirik Daniel dengan sudut matanya, lehernya terasa kaku untuk digerakkan. Helen meneteskan air mata, nafasnya tidak beraturan. Ia melihat Daniel sudah tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah. Air matanya semakin merembes keluar, bercampur dengan darah yang sudah membasahi kepala dan sebagian wajahnya. Hal itu tidak jauh berbeda dengan Daniel. Sepertinya kepala pria itu bocor karena darah terus merembes dengan derasnya. Di sisa kesadarannya, Helen melihat api yang muncul dari depan, menjadi penerang mereka di malam yang gelap.
Bersambung...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....
...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...
...Terima kasih🙏...
Guys jangan lupa ya baca novel kedua ku juga ya makasih.
__ADS_1