
Happy Reading Guys🤗
Bill terisak pelan seraya duduk di kursi di depan ruangan Daniel. Putranya sedang berjuang untuk hidup di dalam sana. Putranya yang malang tidak pernah mendapat kasih sayang darinya. Putranya yang malang sempat memiliki secercah kebahagiaan yaitu Helen. Wanita itu sempat menjadi alasan kebahagiaan putranya, tapi ia dengan teganya merebut kebahagiaan itu. Ia tega menghancurkan sumber kebahagiaan putranya. Andai saja dulu kebenciannya kepada Frans tidak pernah ada, andai saja dulu ia sedikit saja mementingkan kebahagiaan putranya, andai saja dulu ia tidak membenci putranya, pasti semua ini tidak akan terjadi. Pasti tidak akan ada yang terluka karena keegoisannya. Pasti putranya akan menyayanginya. Ia merindukan panggilan itu. Ia rindu ketika Daniel memanggilnya daddy. Mungkin, terakhir kali ia mendengar panggilan itu sekitar belasan tahun yang lalu.
Boli menghapus jejak air matanya. Ia merindukan putranya, ia ingin melihat wajah pucat itu saat ini. Dengan pelan ia berjalan memasuki ruangan Daniel. Disana putranya tengah terbaring lemah dengan berbagai selang disekitar tubuhnya. Di samping Daniel, seorang wanita berkulit putih duduk dengan tenang menunggu pria itu sadar. Wanita itu tidak berhenti mendoakan untuk kesadaran Daniel.
Bill ikut bergabung dengan wanita itu, duduk di sebelah kanan Daniel lalu menggenggam tangan putranya yang dingin. Matanya menatap lekat wajah Daniel yang pucat. Ini pertama kalinya ia melihat putranya seperti ini, karena saat Daniel kecelakaan dua tahun yang lalu ia tidak datang menjenguk sekalipun.
"Om, Daniel bakalan sadarkan? Dia bakalan buka matanya kan? Daniel bakalan nikahin aku tahun depan kan, Om?" Wanita itu mengusap punggung tangan Daniel yang bebas dari jarum infus.
"Meidi, Daniel pria yang kuat, saya yakin dia akan bertahan melewati masa kritisnya. Dia akan kembali membuka matanya untuk saya." Bill berharap Tuhan mengabulkan perkataannya barusan. Ia ingin menebus kesalahannya. Ia ingin memberi kasih sayangnya kepada Daniel. Ia ingin memperbaiki semuanya.
"Kenapa Daniel bisa kaya gini, Om? Semua ini pasti karna Francine kan? Wanita itu lagi-lagi membuat Daniel dalam bahaya." Desisnya tajam.
Meidi sangat membenci Helen karena wanita itu lebih unggul darinya. Ia benci dengan Helen yang selalu menang mendapatkan Daniel. Ia benci ketika mengetahui Daniel dan Helen kembali bertemu. Mengapa takdir seakan tidak ingin memisahkan mereka? Mengapa takdir kembali mempertemukan mereka jika pada akhirnya mereka tidak dapat bersama?.
"Tidak, ini bukan kesalahan Helen. Jika ada yang harus disalahkan, maka saya adalah orang yang pantas untuk itu." Balas Bill sambil menerawang jauh.
__ADS_1
"Enggak, Om. Ini bukan kesalahan Om. Jika ada yang harus disalahkan, Francine lah orang yang tepat untuk itu. Kalau saja mereka tidak bertemu, Daniel pasti tidak akan seperti ini. Aku mengenal Francine dengan baik, sejak kuliah dia sudah mengejar-ngejar Daniel, ia selalu melakukan apapun agar bisa menarik perhatian Daniel, kali ini juga pasti begitu. Wanita itu benar-benar tidak sadar diri. Bukannya dia sudah menikah? Tapi mengapa masih saja mengganggu Daniel? Mengapa ia harus muncul kembali dihadapan Daniel? Wanita itu menguji kesabaran ku." Ujar Meidi menggebu-gebu.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Daniel pasti tidak akan suka jika mendengar kita menyalahkan Helen. Lebih baik kau pulang, biar saya yang menjaganya." Bill semakin pusing mendengar perkataan Meidi. Satu hal lagi yang menjadi penyesalan besar baginya, seharusnya dulu ia tidak termakan omongan Meidi yang menjelek-jelekkan Helen. Seharusnya dulu ia lebih pandai membedakan mana cinta yang tulus dan mana cinta yang mau ada apanya untuk putranya.
Dua hari kemudian,
Di ruangan transisi tempat Daniel berada sedang terjadi ketegangan di dalam sana. Para suster dan dokter dengan cepat melakukan penanganan kepada pasien mereka. Kondisi Daniel semakin memburuk setelah terjadi pendarahan subarachnoid yang ia alami. Dimana pendarahan ini terjadi pada jaringan otak di bawah selaput pelindung otak. Dan yang terjadi pada Daniel kini karena adanya pembekuan darah yang disebabkan oleh cedera kepala berat yang dialaminya.
Di luar, Bill, Meidi, Virgo dan Elvan sedang menunggu kabar dari dokter dengan cemas. Terutama Bill, pria itu sangat syok setelah dokter mengatakan kondisi Daniel saat ini. Hatinya hancur ketika melihat putranya sedang diambang kematian. Ia tau sedikit tentang pendarahan itu, pendarahan yang paling mengerikan diantara pendarahan otak lainnya itu dapat mengantarkan putranya pada kematian. Ia menggeleng kuat. Tidak! Ini belum saatnya Daniel meninggalkannya. Belum saatnya Daniel menyusul ibunya. Bill kalut, ingin rasanya ia menerobos masuk ke ruangan itu untuk mengatakan kepada putranya bahwa ia harus bertahan. Putranya yang kuat harus kembali ke hadapannya dengan selamat.
Bill langsung menerobos ruangan itu. Ia langsung merengkuh tubuh Daniel yang pucat dengan kasih sayang. Tubuh kekar yang selama ini tampak terawat di matanya kini lemah dan tak berdaya. Ia mengguncang bahu Daniel, masih berharap keajaiban datang kepada putranya. Ia menangis dengan terisak seraya mencium wajah putranya. Putranya yang belum pernah merasakan kasih sayangnya, putranya yang selalu mendengar kata-kata kasar darinya, putranya yang selalu menangis di sudut kamar sewaktu kecil. Hatinya sakit, sangat sakit ketika mengingat satu persatu penderitaan putranya.
Mengapa secepat ini? Ia masih belum menebus kesalahannya. Ia masih belum menjadi orang tua yang baik. Ia ingin melihat senyum putranya lagi. Ia ingin mendengar suara itu lagi. Ia ingin mendengar perkataan pedas yang sering Daniel lemparkan kepadanya. Ia ingin semuanya. Ia ingin putranya.
"DANIEL, DADDY BELUM MENEBUS KESALAHAN YANG TELAH DADDY LAKUKAN KEPADA MU." Teriaknya frustasi.
"Daddy mohon nak, jangan tinggalkan daddy. Daddy menyesal, tolong maafkan daddy mu yang brengsek ini. Daddy telah gagal menjadi orang tua yang baik untukmu. Daddy salah, nak. Maafkan daddy." Bill terisak pilu. Air matanya semakin berlomba-lomba untuk keluar.
__ADS_1
Ia menggeleng kuat. Semua ini masih terasa seperti mimpi baginya. Ia ingin segera bangun dari mimpi buruk ini. Ia ingin keluar dari mimpi terkutuk ini.
"Daddy janji, daddy akan menjadi orang tua yang baik untukmu ke depannya, nak. Daddy mohon buka matamu, bicara dengan daddy, lawan daddy seperti biasanya, nak. Katakan semua kekecewaan dan kebencianmu. Jangan diam saja Daniel, daddy ingin mendengar suaramu, daddy tau kau pria yang kuat." Perasaan Virgo dan Elvan ikut hancur mendengar penuturan Bill. Pria tua itu benar-benar hancur saat ini.
Daniel telah pergi meninggalkan mereka. Meninggalkan dunia yang kejam ini. Meninggalkan semua penderitaan yang ia alami. Ia telah kembali ke sisinya, ke tempat abadinya. Daniel yang malang sudah berhasil melewati semua jalan kehidupannya di dunia. Mungkin ini yang terbaik, walaupun kepergiannya meninggalkan luka yang dalam untuk orang yang ditinggalkan. Daniel mencintai daddynya, ia selalu memperhatikan daddynya dari kejauhan. Ia ingin berdamai dengan daddynya. Ia ingin meminta maaf karena telah hadir ke dunia dan menjadi penyebab penderitaan daddynya. Ia ingin meminta maaf karena telah menjadi anak yang durhaka. Ia ingin memeluk tubuh daddynya satu kali saja. Ingin merasakan dekapan hangat itu. Ia ingin tau bagaimana rasanya di peluk, pelukan hangat yang tidak pernah ia rasakan. Tapi takdir berkata lain, ia tidak sempat melakukan semua itu. Waktunya sudah habis. Daniel terlambat.
Bersambung...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....
...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...
...Terima kasih🙏...
Guys jangan lupa ya baca novel kedua ku juga ya, pokoknya juga gak kalah seru deh. Makasih.
__ADS_1