My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 83


__ADS_3

Happy Readingđź’–


Helen hanya bungkam saat Elvan menuntunnya masuk dan duduk di bangku mobil. Mungkin juga keadaanya sedang baik-baik aja saja ia akan mencak-mencak dan tersenyum lebar karena Elvan menyentuh lengannya bahkan membimbingnya duduk di jok mobil. Tapi, karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik, Helen hanya bisa bungkam dan tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Melihat kepedulian Elvan saja sudah membuat Helen senang di tengah sisa kesadarannya. Walaupun tadi ia sempat menerima bentakan pria itu.


Helen menyenderkan tubuhnya pada sandaran bangku setelah meletakkan kucing putih itu di sampingnya. Helen merasa tubuhnya kaku dan kepalanya terasa sangat berat. Disisa kesadarannya, ia sempat mendengar Elvan yang bertanya tentang kondisinya. Dengan mata yang terpejam, Helen masih merasakan sentuhan tangan Elvan di bahunya. Ia ingin menjawab pertanyaan pria itu, namun tenaganya sudah tidak cukup, bahkan untuk berbicara sekalipun.


Sedetik kemudian, Helen merasa dirinya ditarik oleh sesuatu yang gelap dan membuatnya seketika tidak sadarkan diri.


Elvan dengan panik mengguncang tubuh Helen yang sudah terkulai lemas. Nafas gadis itu bahkan terdengar lemah. Elvan menepuk-nepuk pipi Helen berusaha menyadarkan gadis itu kembali.


Gadis itu pingsan!


Hal itu membuat Elvan kalut. Ia lantas menyuruh supirnya untuk menambah kecepatan lajunya. Setelah itu, Elvan buru-buru menelpon dokter pribadi keluarganya untuk segera datang ke apartement miliknya dan memeriksa kondisi Helen Ketika mereka sampai nanti.


Elvan sedikit menggeram saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Helen yang kini terasa panas. Butuh waktu dua puluh menit untuk mereka sampai di apartement. Sesampainya di basement apartement, Elvan segera membawa Helen ke dalam dekapannya. Ia dengan terburu-buru menggendong Helen untuk segera sampai ke apartement mereka. Dan sesampainya di kamar, Elvan langsung merebahkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Hal itu bertepatan dengan terdengarnya suara bel berbunyi.


Setelah menyelimuti tubuh Helen hingga sebatas leher, Elvan segera membuka pintu apartement dan menyuruh dokter pribadinya itu untuk segera menengani Helen.


“Kenapa?” tanya Elvan saat melihat dokter yang tengah melihat kondisi Helen itu menatapnya dengan tajam.


“Bajunya masih basah. Bisa-bisanya kau ini!” pekik dokter Hendri saat melihat pasiennya kini masih basah kuyub.

__ADS_1


“Hah?! Gue lupa. Jadi gimana? Gak mungkin kan kalau gue yang ganti baju dia.” Ujar Elvan. Ia benar-benar melupakan fakta yang satu itu. Kalau tau begini, lebih baik tadi ia membawa Helen ke rumah sakit saja, toh disana nanti akan ada suster yang mengurusi pakaian gadis itu.


“Be*o! Kau mau jika aku yang mengganti pakaian istrimu?!” tanya Dokter Hendri tak habis pikir.


“Y-ya enggak lah. Mau mati lo?!” bentak Elvan tak terkalahkan. Mana mau di ajika orang lain menyentuh tubuh istrinya. Ya.. walaupun istri yang tak dianggap. Ck!


Dokter Hendri adalah salah satu kepercayaan keluarga Bramantyo untuk mengatasi semua masalah Kesehatan mereka. Dokter Hendri juga tau soal perjodohan Elvan dan Helen. Bahkan, ia juga diundang saat resepsi pernikahan itu berlangsung sekitar 7 bulan yang lalu.


“Nah! Tidak mau kan? Sekarang cepat ganti baju istrimu sebelum aku yang turun tangan.” Ancam dokter Hendri. Ia tidak habis pikir dengan cara kerja otak Elvan menurutnya sedikit tidak beres.


“Aku akan tunggu di luar.” Tukas dokter Hendri lalu pergi meninggalkan Elvan yang kini tengah meremas rambutnya frustasi.


“Ngerepotin banget sih lo Toa. Gimana bisa gue ngelucuti semua pakaian lo. Akkhhh..!” Elvan semakin mengacak rambutnya lalu segera menaiki ranjang dan duduk di samping tubuh Helen.


“Seharusnya malam ini lo dapat hukuman dari gue karena tadi pagi lo dengan lancangnya cium-cium gue.” Elvan kembali menutup tubuh Helen dengan selimut tebal setelah berhasil melepas seluruh pakaian gadis itu. Setelah itu, ia berjalan ke depan lemari dan memilih piyama tidur yang tepat untuk gadis itu. Setelah mengambil piyama bermotif bunga dan pakaian dalam Helen, Elvan kembali menaiki ranjang dan segera memakaikan piyama tersebut.


Elvan menghembuskan nafas lega setelah berhasil memasangkan seluruh pakaian Helen pada tempatnya. Butuh perjuangan yang ekstra untuk ia melakukan itu. Belum lagi, ia harus memicingkan matanya saat harus memasang pakaian dalam Helen. Tidak perlu berbohong, jika Elvan juga sempat sedikit menyentuh dada gadis itu. Lebih tepatnya tersentuh. Ingat! Hanya tersentuh! Tidak lebih!.


Setelah perjuangan yang amat sangat sulit itu berlalu, Elvan langsung saja menyuruh dokter Hendri untuk masuk kembali.


“Gimana keadaanya? Kapan dia akan bangun?” tanya Elvan kepada Dr. Hendri yang berumur empat tahun diatasnya. Dilihatnya Dr. Hendri juga menyuntikkan sesuatu di kulit Helen.

__ADS_1


Setelah melepas stetoskop dari telinganya dan membiarkan benda tersebut tergantung di lehernya, Dr. Hendri menoleh ke arah Elvan.


“Suhu tubuhnya sangat tinggi sekitar 39,5 derajat celcius.” Ujar Dr. Hendri setelah mengecek suhu tubuh istri temannya itu dengan menggunakan thermometer.


“Sebentar lagi istrimu mungkin akan sadar. Sebaiknya kompres keningnya untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.”


“Minumkan obat ini jika nanti istrimu telah bangun.” Dr. Hendri menyerahkan beberapa macam obat ke tangan Elvan.


“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” Dr. Hendri berujar sembari memasukkan kembali stetoskop dan alat kedokteran lainnya ke dalam tasnya.


“Apa kondisinya mengkhawatirkan?” tanya Elvan taky akin. Ia kini telah duduk di kursi samping ranjang.


“Tidak terlalu. Ini hanya panas biasa yang selalu dialami pasien dewasa. Jangan terlalu khawatir.”


“Ada lagi? Jika tidak, aku akan kembali ke rumah sakit.” Dr. Hendro melirik Elvan yang kini sedang merapikan selimut Helen. Seutas senyum terukir di bibir dokter itu saat melihat Elvan yang kini sedang menatap Helen intens. Mungkin, dokter itu akan berpikir jika Elvan sangatlah menyanyangi Helen. Namun, siapa yang tau jika ternyata pemikiran dokter tersebut sangat jauh dari harapan? Alih-alih menyayangi gadis itu, Elvan malah kerap kali menyakiti hati dan jiwa istrinya itu.


Elvan menggeleng singkat.


“Lo boleh pulang.” Ujarnya santai.


“Aku sarankan, jika besok panasnya tidak berkurang segera bawa istrimu ke RS. Kondisinya lebih penting dibandingkan orang-orang yang selalu mencari tau tentang kalian.” Jelas Dr. Hendri dengan tegas.

__ADS_1


Elvan mengangguk singkat sebagai persetujuan.


Bersambung..


__ADS_2