
Happy Readingđź’–
Daerah yang sangat jauh dari perkotaan itu terlihat begitu asri. Rumah penduduk disana juga tidak seperti di kota yang terlihat sangat mewah. Bahkan tidak sedikit rumah di daerah itu masih menggunakan tepas atau papan dan beratapkan nipah.
Helen dan Ella berjalan beriringan di pinggir jalan yang tidak beraspal ini. Sesekali mereka melihat kanan kiri mencoba mencari bantuan. Di sebuah warung kecil, seperti kedai kopi yang sudah tidak dipakai, Ella yang terlebih dahulu melihat tempat tersebut mengajak Helen untuk ke sana.
“Permisi..” Seorang pria paruh baya yang mendengar suara Ella menoleh.
Bapak tersebut terlihat bingung.
“Pak boleh tanya, disini ada bengkel gak ya?” Tanya Ella langsung.
“Ada neng, tapi jauh.” Jawab Bapak tersebut.
“Jauh ya Pak. Kira-kira berapa jauh ya dari sini?” Tanya Helen menambahi.
Bapak tersebut menoleh ke arah Helen.
“Sekitar 30 menitan lagi neng dari sini.” Jawab Bapak itu lagi.
Helen dan Ella saling pandang lalu menggeleng bersamaan.
“Bapak mau gak bantuin kita? Tadi mobil kami nabrak pohon besar jadi sekarang gak bisa hidup. Bapak mau ya bantuin kita.” Pinta Ella sedikit memelas.
Bapak paruh baya tersebut sedikit gelagapan.
“Aduh neng, kalau itu mah Bapak gak bisa soalnya lagi sibuk, maaf ya.” Ucap Bapak itu lalu bergegas pergi dari hadapan Helen dan Ella.
Mereka mendesah frustasi. Sangat sulit seperti yang dibayangkan. Helen dan Ella Kembali berjalan mencari bantuan.
__ADS_1
“Wah, apaan tuh?” tunjuk Helen girang.
“Disitu kayaknya ada jual minuman deh.” Tambahnya.
Mereka memasuki tempat yang terlihat paling mencolok di daerah itu.
Helen terlihat sangat menikmati sejuknya angin yang menerpa wajahnya.
Ella merogoh saku celananya lalu mendesah sedih saat sadar dirinya tidak membawa uang sepersen pun.
“Lo bawa uang kan?” tanyanya pada Helen yang sedang berjongkok di depan rak-rak jajanan.
“Aduh gimana nih gue juga gak bawa. Bisa-bisa kita mati kehausan disini.” Pekik Helen saat sadar dirinya juga tidak membawa uang.
Helen meremas rambutnya frustasi.
“Boleh gak ya kalau kita ngutang dulu? Nanti atau besok di bayar.” Tanya Helen lirih.
Helen mendongak.
“Boleh ya?” tanyanya polos.
“Enggak.” Jawab Ella lekas.
Lagi-lagi Helen mendesah. Ia menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya. Beberapa menit berlalu mereka masih tetap diposisi seperti itu.
Cewek itu, bukannya dia.. batin seorang yang tanpa sengaja mendengar percakapan Helen dan Ella tadi.
Kenapa dia bisa disini?, tanyanya lagi entah pada siapa.
__ADS_1
"Lo butuh ini kan?" Seseorang itu ikut berjongkok di depan Helen.
Mendengar suara asing di dekatnya, Helen mendongak. Ia menatap wajah seseorang itu dengan bingung.
"Ini buat lo." Ucap seseorang itu menyadarkan Helen.
Helen melirik dua botol minuman di tangan seseorang itu lalu menelan salivanya dengan tergiur.
"Siapa lo?" Tanya Helen was-was.
"Kita pernah ketemu sebelumnya." Jawab seseorang itu sambil menatap Helen intens.
"Oh ya? Kapan?" Tanya Helen tak yakin.
Orang itu mengangguk.
"Nih, ambil." Seseorang yang mengenakan baju biru tersebut menarik tangan Helen lalu meletakkan kedua botol minuman itu di telapak tangannya.
Ella yang tadinya sedang memejamkan mata merasa terusik mendengar percakapan yang mengganggu telinganya. Ia tampak heran saat melihat Helen berbincang dengan orang asing yang menurutnya sangat wow.
Wah.. ternyata di kampung juga ada yang bening-bening, Ella membatin sambil memperhatikan orang itu.
Helen menerima pemberian orang itu, toh ia benar-benar membutuhkan minuman itu saat ini. Ia berdiri dan diikuti juga oleh orang itu.
"Thanks ya." Ucap Helen tulus berterima kasih. Tidak lupa ia mengulum senyum menatap orang itu.
Orang itu mengangguk dan membalas senyuman Helen.
Helen menyodorkan minuman tersebut kepada Ella yang langsung diterima oleh gadis itu.
__ADS_1
Bersambung..
Wah kira-kira siapa ya itu?? Penasaran?? Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terima kasih đź’–