My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 38


__ADS_3

Happy Readingā¤


Helen mengambil laptop nya dari kamar dan membawanya ke ruangan tamu. Ia sedikit menggeser sofa di ruangan itu agar lebih leluasa untuk menari. Helen mulai menghidupkan laptop nya dan memutar sebuah lagu yang sering ia dengarkan. Saat lagu itu di mulai, Helen berdiri dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan indah.


Hal yang dulu sering ia lakukan bersama Ella. Mengingat nama Ella membuat Helen merindukan sahabatnya itu.


Elvan yang mulai merasa lapar menghentikan pekerjaannya. Ia keluar ruangan untuk membuat sarapan. Padahal Helen sudah menyiapkan sarapan untuknya namun Elvan sedikit pun tidak berniat menyentuh makanan itu.


Suara musik langsung masuk ke pendengarannya saat ia keluar dari ruang kerjanya. Elvan melangkah mencari dari mana asal musik tersebut dan di sana lah ia melihat Helen yang sedang menari dengan indah. Elvan bengong melihat Helen yang terus bergerak mengabaikan keberadaannya. Lebih tepatnya Helen tidak menyadari keberadaan Elvan yang mematung memperhatikannya.


Elvan mengurungkan niat awalnya yang ingin membuat sarapan. Ia malah jadi terhipnotis melihat Helen yang menari hingga suara musik berhenti. Musik telah berhenti namun Elvan masih berdiri ditempatnya.


Helen yang merasa kepanasan setelah menarikan dua judul lagu sekaligus. Ia memperbaiki kuncir rambutnya yang mengendur sambil membalikkan badan dan langsung tersentak saat melihat Elvan yang berdiri tidak jauh darinya. Masih dengan posisi menguncir rambutnya, Helen menyerngit bingung menatap Elvan.


Ngapain Kulkas rusak itu disini?, Helen membatin.


Helen menurunkan tangannya saat selesai dengan rambutnya.


"Heh ngapain lo disitu?" Tanya Helen menyadarkan Elvan.


Elvan tersadar dari lamunannya. Ia mendengus tak suka mendengar suara Helen yang tak bersahabat.


Kenapa sih gue?, Elvan membatin.

__ADS_1


Ia kembali memasang tampang seperti semula. Wajah datar nan dingin kembali mendominasinya.


"Eheem.." Helen berdehem.


"Ngapain?" Tanyanya lembut.


"Bukan urusan lo!" Elvan berlalu meninggalkan Helen yang masih memperhatikannya.


Helen mengikuti kemana Elvan pergi.


"Loh, ngapain buat sarapan lagi? Emang yang tadi kurang ya?" Helen menghampiri Elvan di meja makan. Ia berdiri di samping pria itu lalu merebut roti dan tabung selesai dari tangan Elvan.


"Sini biar gue yang buatin. Lo laper banget ya? Maaf ya gue belum masak hari ini." Helen terus berbicara sambil mengolesi selai dan mengabaikan Elvan yang menatapnya tajam.


"Gue gak nyuruh lo nyentuh ini!" Ujar Elvan tajam.


"Lagi pula roti yang lo buat tadi gak gue sentuh sama sekali." Tambahnya lalu meninggalkan Helen sambil membawa roti dan selai tersebut.


"What?" Pekik Helen. Ia mendelik mendengar pengakuan Elvan barusan.


Tidak lagi. Ia tidak akan membiarkan Elvan kembali mengabaikan makanan buatannya.


Helen mengejar Elvan yang sudah pergi beberapa detik yang lalu.

__ADS_1


"Sini! Pokoknya hari ini lo harus makan buatan gue." Helen merampas roti dan selai itu lagi lalu membawanya kembali ke dapur.


Elvan mendengus kasar melihat Helen. Namun, ia tetap mengikuti gadis itu.


"Lo kenapa sih benci banget sama gue?" Helen membuka suara saat melihat Elvan yang menghampirinya.


Elvan diam lalu mendudukkan diri di salah satu kursi makan. Ia merasa kalau pertanyaan Helen tidak perlu di jawab.


Melihat kebungkaman Elvan, Helen pun ikut diam dan mengolesi selai hingga selesai.


"Ini di makan ya." Helen meletakkan roti yang telah di olesi selai tersebut di hadapan Elvan.


"Gue gak mau." Tolak Elvan cepat tanpa melihat wajah Helen.


"Udah cepetan makan, gue tau lo pasti laper banget. Gak usah gengsi, gue istri lo." Ujar Helen kembali.


Elvan berperang batin. Pikirannya mengatakan kalau ia tidak akan menyentuh roti tersebut, namun perutnya sudah demo untuk di isi. Dengan sangat terpaksa dan tidak ingin berlama-lama berada di dekat Helen, Elvan akhirnya memakan roti itu dengan santai.


Helen ikut duduk di seberang Elvan. Hatinya bersorak gembira saat melihat Elvan memakan roti buatannya walaupun ia hanya tinggal menambahi selai tanpa harus membuat roti dengan tangannya sendiri. Helen menangkup wajahnya dengan siku yang bertumpu pada meja memperlihatkan Elvan dengan senyum manisnya.


Ya Tuhan, andai aja gue bisa liat pemandangan indah kaya gini setiap hari, batinnya.


Elvan menghabiskan roti tersebut dengan cepat dan terpaksa. Ia sadar kalau sedari tadi Helen memperhatikan dirinya. Setelah selesai meneguk air di gelasnya, Elvan langsung pergi meninggalkan Helen yang masih duduk memperhatikannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2