
Elvan bergegas keluar dari ruangan Pak Rian setelah mereka bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan yang sering mereka lakukan.
"Saya pamit Pak, jaga kesehatan Anda selalu. Titipkan salam saya untuk putramu."
"Iya, Nak. Kesehatan itu paling utama, aku akan selalu mengingat pesanmu itu. Salam mu akan aku sampaikan."
"Terima kasih karena tidak memandang putra ku buruk, Nak." Tentu, perkataan pria itu sangat jauh dari kenyataan karena Elvan sudah menganggap Daniel cukup buruk di kesan pertama mereka bertemu.
"Ah satu lagi! Tambahkan sedikit ekspresi wajahmu itu, Nak. Aku takut istrimu akan lari karena sering kau tatap begitu." Cerocos Pak Rian yang kini menatap wajah Elvan yang tampak tidak berekspresi sedikit pun.
Elvan menghela nafasnya.
"Saya usahakan Pak." Balas Elvan singkat.
"Terakhir kali kita bertemu kau juga berkata begitu. Aku hanya khawatir saja. Sana lekas pulang! Nanti istrimu kelamaan menunggu mu. Setahu ku putri Frans itu sangat mengerikan kalau sudah marah." Ujar Pak Rian sambil terkekeh pelan.
"Saya tidak tau Pak." Tukas Elvan singkat.
“Suami macam apa kau ini? Istrimu sendiri kau tidak tau. Walaupun kalian menikah karena dijodohkan kau tidak boleh seperti itu. Kau harus belajar semua tentang diri pasanganmu.” Nasihat Pak Rian yang sangat membuat Elvan muak. Ia sangat tidak berminat mengetahui tentang pasangannya. Pasangan? Hah! Helen hanya boomerang bagi hubungannya dan Alexa nantinya, pikir Elvan.
Elvan hanya diam tak menanggapi. Jabatan tangan mereka sudah lepas beberapa menit yang lalu. Dan sekarang Elvan tengah membuka telinganya lebar-lebar mendengar wejangan dari pria yang sudah ia anggap ayah tersebut.
“Saya memang tidak tau soal yang satu itu Pak. Helen tidak pernah marah sebelumnya, jadi bagaimana bisa saya tau kalau dia itu sangat mengerikan Ketika marah.” Jelas Elvan membela dirinya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
Mereka berbicara sambil berjalan menuju lantai dasar. Tempat dimana sopir Elvan kini telah menunggu.
“Jadi, apa saja yang telah kau ketahui tentang istri cantikmu itu?” tanya Pak Rian penasaran. Elvan lantas menoleh ke arah Pak Rian saat mendengar pria itu mengatakan ‘istri cantikmu’ huh! Ia sedikit tidak suka mendengar Pak Rian memuji istrinya.
Perasaan apa lagi ini?.
“Dia sangat menjengkelkan.” Tekan Elvan singkat.
__ADS_1
“Sudah lah, kau benar-benar tidak tertolong. Sana pulang! Supirmu sudah menunggu. Hati-hati di jalan, Nak.”
Elvan mengangguk singkat lalu melangkah ke depan kantor. Disana ia dapat dengan jelas melihat air yang turun membasahi bumi. Elvan berbelok ke kanan menuju basement. Ia tidak menyangka kalau sore ini akan turun hujan. Padahal tadi siang cuaca sangat baik-baik saja.
Elvan segera memasuki mobilnya dan duduk di belakang bangku pengemudi.
“Kita langsung pulang, Tuan?”
“Tidak. Kita menjemput istriku dulu di jalan Bakti Raya.” Jelas Elvan pelan sembari membuka tabletnya.
“Baik, Tuan.”
Mobil berwarna hitam yang ditumpangi Elvan itu pun melaju menembus derasnya hujan di sore hari.
Satu jam lebih Elvan telah menunggu di depan sebuah bangunan yang tadi dimaksud Helen membuat perasaannya sedikit tidak tenang. Hujan turun sangat deras, namun Helen… hah! Entahlah. Elvan tidak mampu berpikir jernih. Tadi gadis itu mengatakan kalau mobilnya sedang mogok. Sesampainya Elvan disana, ia tidak sedikit pun mendapati keberadaan Helen di depan bangunan tersebut. Tapi kenapa gadis itu tidak mengabarinya jika ia memang sudah pergi dari tempat itu.
"Huh! Merepotkan!" Elvan segera mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"...."
"Lo sama Ella sekarang?" Tanya Elvan lagi saat mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"...."
"Jadi menurut lo Ella gak tau dimana Helen sekarang?"
"...."
"Iya. Tadi dia minta jemput di Citymart yang di jalan Bakti Raya. Tapi pas gue kesitu dia gak ada dan sampai sekarang dia gak kabari gue sama sekali." Jelas Elvan sambil menoleh kanan kiri mencari sosok gadis yang telah membuatnya sedikit takut sekaligus khawatir, mungkin.
"Ok! Jangan kasih tau Ella kalau gue yang nelpon lo barusan." Ucap Elvan penuh penekanan lalu menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Jalan, Pak. Kita kelilingi daerah ini."
"Baik, Tuan." Setelah itu, mobil yang Elvan tumpangi kembali melaju dan menjauh dari kawasan bangunan tersebut.
Satu setengah jam yang lalu.
Helen merutuki nasibnya yang hari ini benar-benar sangat sial. Setelah menelpon Elvan dan meminta pria itu untuk menjemputnya, Helen segera keluar dari mobil untuk menghilangkan rasa penatnya. Helen kembali mengingat kejadian tadi siang saat dikantor, dimana ia dimarahi oleh manager ayahnya karena telah menghilangkan berkas keuangan perusahaan mereka. Lebih tepatnya Helen lupa dimana ia meletakkan berkas-berkas tersebut. Walaupun begitu, ia akhirnya dapat menemukan berkas itu kembali tetapi tetap saja manager ayahnya itu masih jutek dan tampak marah kepadanya.
"Seharusnyakan itu tugasnya dia, kenapa harus jadi tanggung jawab gue. Iya kan La?" Gerutu Helen saat itu sambil menatap Ella yang duduk disamping kirinya.
"Iya Beb." Ella menyeruput kopi susu di tangannya lalu mengangguk mengiyakan. Karena memang benar, masalah keuangan dan sejenisnya seharusnya diurus oleh manager. Tapi apa boleh buat, manager itu sendiri yang meminta Helen untuk mengecek keuangan bulan ini. Mau tidak mau akhirnya Helen bersedia membantu manager itu karena ia juga tau bagaimana menyelesaikan bagian tersebut.
"Iih lo mah dari tadi minum mulu, gak kembung apa tuh perut." Jutek Helen.
"Biasanya juga gitu kali beb." Ella tersenyum geli melihat wajah Helen yang tampak cemberut.
"Tau ah, ngomong sama lo tambah buat gue kesel tau gak!" Pekik Helen lalu mencubit lengan Ella.
"Akkhhh.. sakit be*o! Lo mah, nyubit gak tanggung-tanggung. Gue sikat baru tau rasa lo."
"Nih, sikat aja kalau bisa! Biar lo gak punya temen lagi!" Helen mendekatkan badannya ke Ella.
"Sensi amat, Mbak. Lagi PMS ya?" Ella mendorong tubuh Helen yang sangat dekat dengannya.
"Sotoy lo." Sinis Helen sembari menempeleng kepala Ella dengan tangannya.
"Heh, kepala gue dipitrahin tau. Kebiasaan banget tangan lo dorong-dorong kepala gue, mau gue mutilasi tuh tangan?"
"Nih, silahkan dengan segala hormat. Gak takut gue." Balas Helen tanpa rasa takut. Tentu saja karena Ella tidak akan pernah melakukan itu.
Mereka tidak benar-benar bertengkar saat itu. Hanya gurauan sesama sahabat yang saling melemparkan kata-kata pedas, namun tidak menyakitkan hati bagi keduanya.
__ADS_1
TBC