
Jakarta, Indonesia
Sudah hampir seminggu Elvan pergi tanpa kabar meninggalkan Helen. Keadaan wanita itu tidak bisa dibilang baik-baik saja saat ini, karena faktanya hati dan pikirannya sedang gelisah memikir keberadaan Elvan. Semenjak kemarin Helen sudah berulang kali mencoba menghubungi nomor Elvan. Namun, tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab oleh suaminya itu.
Pagi ini Helen kembali merasa kosong saat ia bangun dari tidur lelapnya, sama seperti beberapa hari yang lalu. Saat ia tertidur karena terlalu lama menunggu kepulangan Elvan dari kantor. Namun, apa yang ia dapatkan pagi harinya? Helen bahkan tidak menemukan siapa pun di apartement yang menandakan jika Elvan tidak pulang malam itu. Tidak! Bukannya malam itu, tapi malam-malam berikutnya Elvan juga tidak pulang ke apartement mereka.
Helen merasa kecewa karena Elvan tidak memberi kabar hingga saat ini. Jika pun memang suaminya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya, seharusnya ia bisa meluangkan sedikit waktunya sekedar untuk memberi pesan atau apapun itu. Toh, itu juga tidak memakan waktu sampai lima menit. Tidak! Helen tidak boleh membiarkan rasa kecewa menguasai hatinya, ia harus bersabar demi pernikahan ini dan membuat Elvan mencintai dirinya. Ya, Helen harus lebih bersabar lagi jika ingin menemukan kebahagiannya.
Helen menatap kosong layar komputer di depannya. Tangan kanannya yang kini memegang mouse berhenti bergerak karena tiba-tiba mendapati ide cemerlang. Sedetik kemudian ia terkikik lalu bertepuk tangan pelan.
“La, nanti lo mau ketemuan sama Virgo kan? Gue ikut ya?” Helen benar-benar harus bertemu langsung dengan Virgo dan melihat langsung apakah benar Elvan memang ada di kantor dan sedang menyelesaikan tugasnya yang bejibun.
“Oh, okay. Tapi nanti gue ketemuannya di kantor Virgo loh, lo yakin mau ikut kesana? Gimana kalau lo duluan aja ke tempat makan biasanya, ntar gue nyusul sama Virgo.” Ujar Ella sembari melirik Helen sekilas lalu kembali menatap layar komputernya.
Itu yang Helen inginkan, datang ke perusahaan Elvan dan melihat langsung wujud suaminya itu.
__ADS_1
“Gapapa, gue ikut aja deh. Lagian nanti disana juga ada Elvan kan? Jadi gue masih ada temen ngobrol dan gak jadi nyamuk diantara kalian.” Helen menatap Ella dengan tatapan berbinarnya.
"Lo mah emang dari kita pertama kenal udah selalu jadi nyamuk. Tapi kali ini lo gak beruntung beib, lo bakalan jadi nyamuk lagi hari ini. Karna Elvan lagi gak ada disini." Ujar Ella pelan, namun sukses membuat Helen mengernyit bingung.
"Ma-maksudnya Elvan gak di kantor? Loh, kok..." Kegelisahan Helen semakin tertera.
"He'em."
"Tapi kemarin Virgo bilang Elvan ada di kantor kok. Dia lagi sibuk ngerjain berkas-berkasnya." Helen kini menghadapkan duduknya kearah Ella.
Tidak, ia tidak mungkin salah dengar, jelas-jelas waktu itu Virgo mengatakan jika Elvan sedang di kantor. Dan seminggu ini juga, Helen yakin jika Elvan menginap diruangan kerjanya yang memang tersedia sebuah kamar untuk Elvan beristirahat atau terlalu malas untuk kembali ke rumah orang tuanya sewaktu ia belum menikah dengan Helen.
Tapi, apa urusan pria itu keluar negeri secara tiba-tiba?
"Masa sih gue salah denger? Enggak deh kayanya. Btw ada urusan apa Elvan keluar negeri? Kok Virgo gak ikut? Kan dia sekretarisnya."
__ADS_1
"Ciee ciee ada yang kepo nih." Goda Ella sesaat.
"Iih lo mah! Gue serius juga!" Pekik Helen membuat beberapa karyawan lain menoleh ke arah mereka.
"Ok ok. Jadi dia itu lagi ada misi untuk nyelamatin seseorang yang berarti buat dia. Udah ah lanjut kerja lagi ntar keburu pulang." Ella kembali melanjutkan kerjaannya yang tadi sempat tertunda.
Nyelamatin seseorang yang berarti buat dia.
Perkataan Ella terngiang-ngiang dipikiran Helen. Misi apa sebenarnya yang Elvan lakukan? Siapa orang yang ingin ia selamatkan? Jika orang itu berarti untuk Elvan lalu bagaimana dengan dirinya? Elvan bahkan meninggalkannya tanpa kabar begitu saja, apa itu membuktikan jika ia tidak berarti untuk Elvan? Jika itu benar, ingin rasanya Helen berteriak dan memukul pria itu saat ini juga.
Helen melirik Ella yang kini tampak fokus menatap layar komputer di depannya. Perkataan Ella tadi sukses membuat Helen hilang konsentrasi untuk kembali menyusun data-data penting pada layar di depannya.
Helen beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah toilet yang berada di lantai dua tempat ia bekerja. Helen perlu membasuh mukanya untuk menyejukkan pikirannya sesaat. Semakin kesini mengapa semuanya terasa membingungkan.
Wahh akhirnya Helen tau nih kemana Elvan sebenarnya.. Oh iya jangan lupa di like dan komen ya teman-teman semua.
__ADS_1
Terima Kasih💖