My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 80


__ADS_3

Mereka bertiga memasuki ruangan CEO yang di depannya terdapat tulisan 'Rian Mahendra' CEO Mahendra Company.


Mereka memasuki ruangan tersebut setelah seorang pria mempersilahkan dan membukakan pintu untuk mereka.


Dihantui rasa penasaran, Elvan mencoba menebak siapa sih bren*sek itu. Mengapa ia ada disini bersama Pak Rian?


Pria tampan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar melengos dan menatap Elvan tajam. Rasa bencinya entah mengapa bertambah besar saat melihat kedekatan ayahnya dengan Elvan.


“Sebenarnya ada apa kau meminta ku kemari, Pak?”


“Tidak biasanya kau secara langsung memintaku berkunjung ke perusahaanmu ini.” Lanjut Elvan.


“Ah itu.. aku hampir melupakannya. Sebenarnya aku hanya ingin mengenalkan putraku secara langsung dengan mu. Aku ingin kalian bisa akrab dan berbisnis bersama-sama.” Mendengar ucapan Pak Rian barusan membuat secelah jawaban melintasi di kepala Elvan.


Sih bren*sek ini putranya? Hah! Yang benar saja. Ck!


“Putramu? Bukannya putra mu sedang koma di RS, Pak?” tanya Elvan mengernyit. Setahunya, Pak Rian memang memiliki seorang putra tetapi anaknya itu sedang koma di RS sudah lebih dari satu setengah tahun jika dihitung-hitung.


“Apa kau punya anak yang lain, Pak?” tanya Elvan tak yakin.


“Haha… tidak, Nak. Putraku hanya satu.” Pak Rian menatap putra di sampingnya sambal tersenyum lembut yang dibalas dengan dengusan oleh putranya itu.


“Kenalkan ini putraku yang selama ini aku ceritakan, Nak. Dia sudah sadar dari komanya sekitar 8 bulan yang lalu.” Ujar Pak Rian dengan semangat. Suaranya terdengar antusias mengatakan saat putranya sudah sadar dari koma.


Elvan hanya diam menatap putra Pak Rian yang mungkin seumuran dengannya.


Pak Rian menyikut siku putranya saat melihat kebungkaman pria itu, yang hanya dibalas oleh lirikan datar dari putra semata wayangnya itu. Seolah mengerti maksud ayahnya, pria itu mengulurkan tangan.


“Daniel Mahendra.” Ujarnya malas.


Elvan tersenyum miring. Sepertinya ia punya rencana kali ini.


“Elvan Xavier Bramantyo.” Balasnya dengan penuh penekanan.


Dengan tangan yang masih bersalaman Elvan kembali berujar.


“Ingat namaku baik-baik.” Tekannya lagi sambal tersenyum tipis. Setelah itu, ia langsung menjauhkan tangannya dari Daniel yang semakin menatapnya tajam seolah ingin mencoba mengintimidasinya.


“Nak, di aini salah satu teman kita dalam berbisnis. Tapi, aku berharap kalian juga berteman di luar bisnis ya. Kau pasti tidak punya teman disini karna itu aku mengenalkannya dengan mu.” Jelas Pak Rian sambal menatap putranya lembut.

__ADS_1


Daniel mendengus kasar.


"Aku tidak butuh teman, pria tua. Bukannya ini yang kau inginkan selama ini? Aku tidak punya teman satu pun, itu kan yang kau inginkan dari dulu?" Tukas Daniel tajam.


Senyum Pak Rian menyusut digantikan tatapan penyesalan serta kekhawatiran yang mendalam menatap putranya.


"Bukan begitu Nak. Aku tidak pernah melarang mu untuk berteman. Kau salah paham." Pak Rian mencoba menjelaskan.


"Aku hanya tidak ingin kau salah dalam memilih teman." Sambungnya.


"Cih. Dasar bermuka dua. Karena mu aku kehilangan orang-orang yang aku sayang." Elvan mengernyitkan mendengar penuturan sih bren*sek di depannya ini.


Drama keluarga. Elvan bersedekap dada mendengar argument yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak.


Jadi sih bren*sek ini koma lalu sadar dan kehilangan orang yang ia sayang haha miris, Elvan hanya mampu tergelak dalam hati menyimpulkan percakapan yang ia dengar dari ayah dan anak itu.


"Tidak, Nak. Kau putra ku satu-satunya, aku hanya ingin yang terbaik untuk dirimu. Tidak masalah jika kau menuduhku penyebab terjadinya kecelakaan yang menimpamu, tapi tolong jangan benci aku karna hal itu. Semua itu sama sekali tidak benar, Nak." Lirih Pak Rian dengan mata yang berkaca-kaca.


Lagi-lagi Daniel mendengus kasar.


"Ah sudah lah, aku muak mendengar semua omong kosong mu. Aku lebih baik pergi." Tekan Daniel lalu meninggalkan ruangan ayahnya itu bersama luka yang sampai saat ini masih membekas di hatinya.


"Pak Rian, apa sebenarnya yang terjadi dengan mu?" Elvan menatap kasihan pada pria paruh baya di depannya ini.


Dasar baji*gan, kau bren*sek. Anak durhaka, rutuk Elvan dengan tatapan yang menajam.


"Sudah lah Nak. Aku tidak bisa menceritakannya saat ini. Maaf karena ketidak sopanan putra ku." Ujar Pak Rian penuh penyesalan.


"Tidak perlu meminta maaf. Nanti jika kau sudah siap, aku akan kembali menjadi pendengar baikmu." Seperti yang selalu Elvan lakukan selama ini, mendengar semua cerita yang beliau ceritakan. Pak Rian tersenyum miris mendengar penuturan Elvan. Kapan putranya akan seperti Elvan? Mau menjadi pendengar agar kesalah pahaman mereka dapat teratasi.


"Baiklah, Nak. Maaf aku telah menyia-nyiakan waktu mu. Setidaknya aku sudah mengenalkan kalian, ku harap kau mau berteman dengan Daniel walaupun ia sedikit keras kepala. Tapi ia juga anak yang pekerja keras. Kalian mungkin bisa melanjutkan kerja sama perusahaan ini nantinya. Karena beberapa bulan ke depan posisiku akan digantikan olehnya. Sekali lagi aku minta maaf padamu, Nak."


"Tidak perlu meminta maaf, Pak. Bagaimana pun saya sudah menganggapmu seperti ayahku sendiri." Ujar Elvan pelan.


"Terima kasih Nak. Orang tuamu sangat beruntung karena memiliki putra seperti dirimu." Ucap Pak Rian.


Elvan tersenyum sekilas lalu melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Elvan lantas meraih ponsel tersebut.


Toa Koslet

__ADS_1


✉ Hubby, telpon aku dong. Pulsa aku habis, aku butuh bantuan kamu. Ini penting, telpon aku SEKARANG.


Elvan mendengus kesal membaca pesan yang tidak bisa di bilang singkat dari Helen barusan.


"Maaf Pak Rian, saya harus menelepon seseorang dulu."


"Silahkan, Nak. Tidak masalah sama sekali." Pak Rian berujar pelan.


"Apa?" Tanya Elvan ketus setelah panggilan diterima oleh Helen.


"Hubby, kamu dimana? Masih dikantor? Nanti kalau udah pulang jemput aku ya, mobil aku mogok. Hubby, kamu dengerin aku kan? Halo, hubby! Hubby! Jawab ihh! Kulkas Rusak! Kamu masih disana kan? Elvan! Jawab dong."


Elvan menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar teriakan Helen di seberang sana. Bagaimana ia bisa bicara kalau gadis itu tidak berhenti bicara dari tadi?.


"Dimana?" Tanya Elvan singkat disertai dengusan sebalnya.


"Ihh kamu gitu banget ngomongnya. Gak ada yang lebih singkat lagi Mas?" Dalam hati Elvan tertawa senang mendengar suara sinis Helen.


"Dimana?" Tanyanya lagi.


"Di hati kamu sayang." Ujar Helen dengan suara centilnya. Elvan memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Helen yang terkadang sedikit tidak waras menurutnya.


"Mau di jemput? Dimana?" Tanya Elvan lagi sedikit bersabar. Berbicara dengan sih Toa ini sangat melatihnya untuk menjadi pria yang sabar dan tidak emosian.


"Hehehe iya. Jemput di depan Citymart yang di jalan Bakti Raya aja ya. Aku tunggu ya Mas suami."


Tut.. tut.. tut


Elvan menatap layar ponselnya yang masih menyala. Helen mematikan sambungan tersebut secara sepihak. Padahal ia sama sekali belum menjawab perkataan gadis itu. Belum tentu ia mau menjemput gadis itu.


"Siapa, Nak?" Suara Pak Rian mengalihkan pandangan Elvan dari ponselnya.


"Istri saya Pak, dia meminta saya untuk menjemputnya. Kalau begitu saya permisi pulang Pak."


"Iya Nak iya. Silahkan." Pak Rian mengantarkan Elvan keluar ruangannya.


Bersambung..


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2