My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 113


__ADS_3

Elvan berdiri di depan pintu kamar yang ada di lantai atas. Kamar di depannya ini lebih besar dari kamar-kamar yang lain, sehingga Elvan yakin Helen pasti menempati kamar ini untuk kamar mereka. Elvan merasa ragu untuk masuk dan bertatap muka dengan Helen. Dirinya sangat-sanagt merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. Fitnahan Alexa pasti berhasil membuat Helen membencinya. Kesalahannya sudah bertumpuk-tumpuk jika kembali diingat dari saat pertama kali mereka bertemu. Elvan tidak yakin jika Helen akan tetap berbaik hati dengannya.


Ceklek.


Dengan perlahan Elvan mendorong daun pintu lalu mengintip ruangan tersebut. Elvan menoleh ke segala arah. Tubuhnya telah masuk ke dalam kamar dan matanya sama sekali tidak menemukan keberadaan Helen. Elvan memeriksa kamar mandi dan Helen tidak ada disana. Ia juga menggeser ke samping pintu kaca yang besar yang akan mengantarkannya ke balkom kamar tersebut. Di sana, di salah satu kursi rotan Helen duduk termenung dengan tatapan kosongnya.


Dari tempatnya berdiri, Elvan dapat melihat mata Helen yang sembab dan bengkak. Dirinya yakin jika Helen kebanyakan menangis hari ini. Hal itu membuat rasa bersalahnya semakin bertambah. Elvan mengayunkan kakinya mendekati Helen lalu duduk di hadapan wanita itu.


“Ehem..” Elvan berdehem pelan, ingin menarik perhatian Helen. Namun, gadis itu diam tak bergeming. Lebih tepatnya belum menyadari keberadaan Elvan. Helen masih asik dengan pemikirannya.


“Helen.” Panggil Elvan sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Helen.


Helen terkesikap dan menoleh ke samping. Wajah Elvan tepat di depan wajahnya membuatnya harus menahan nafas. Jika biasanya wahajah gadis itu langsung meron ajika berdekatan dengan wajah Elvan, maka saat ini tidak. Wajah itu seketika menjauhi wajah Elvan tanpa ekspresi.


Helen melirik Elvan sekilas lalu mengubah posisi duduknya menjadi menyampingi suaminya itu.

__ADS_1


“Kamu marah ya?” Bodoh! Jelas saja Helen marah setelah apa yang ia terima selama ini.


Masih dengan kebungkamannya, Helen diam tak menyahut. Bahkan, melihat wajah Elvan saja ia sangat ogah.


“Aku minta maaf. Aku tau selama ini aku udah banyak nyakiti perasaan kamu. Aku udah banyak buat kamu kecewa. Saking banyaknya aku sampai gak sanggup menghitung berapa kali aku udah nyakitin kamu.” Helen masih bungkam mendengar penuturan Elvan.


“Aku sadar aku bukan suami yang baik selama ini. Aku sadar betul, Helen. Aku mohon maafin aku.” Elvan menarik nafas sesaat.


“Soal Alexa tadi, apa yang dia bilang itu semuanya gak ada yang benar. Aku sama sekali gak pernah sentuh dia. Kamu harus percaya sama aku. Helen, please, liat aku.” Elvan menyentuh Helen. Namun, Helen langsung menepis tangan itu. Seakan ogah jika dirinya disentuh Elvan.


“Helen, liat aku. Keluarin semua kemarahan kamu. Jangan kayak gini, jangan diam aja, bilang sesuatu sama aku. Kamu pengen aku apa? Kamu mau aku peluk? Aku cium? Aku gendong? Aku cium aja ya? Kan biasanya kamu minta di cium.” Elvan menatap Helen yang masih diam sambil menatap kosong ke depan.


“Beneran aku cium loh ini. Oke ya, kamu mau aku cium apa? Cium pipi? Kening? Atau bibir?” tidak biasanya Elvan seantusias ini. Biasa juga ia selalu menolak jika Heleen minta dimanjakan, walaupun sesekali ia juga mau menuruti.


“Cium bibir aja deh. Kan kamu lebih suka itu.” Dengan perlahan Elvan mendekatkan wajah mereka.

__ADS_1


Cup


Seketika benda lembut mereka bersentuhan. Tidak ada pergerakan yang Elvan lakukan. Ia hanya menempelkan bibir mereka, berharap Helen mengeluarkan ekspresinya. Elvan menatap Helen yang juga tengah menatapnya. Wajah mereka yang tidak berjarak membuat Elvan dapat merasakan deru nafas Helen. Wajah gadis itu masih tanpa ekspresi.


Diperlakukan seperti itu membuat Helen bertambah sedih. Mengapa ia merasa tidak adil dengan dirinya sendiri? Helen sangat kecewa dengan Elvan. Bukan hanya karena masalah hari ini, tapi juga karena masalah-masalah sebelumnya yang selalu ia pendam dan ia tahan dihatinya dan kini semuanya telah meledak. Menyemburkan segala kesedihan, kemarahan dan kekecewaan yang ia tahan selama ini. Helen tidak lagi sanggup bertahan dan berpura-pura tegar.


Helen memalingkan wajahnya, melepaskan ciuman mereka. Tidak! Itu tidak bisa disebut ciuman karena Elvan hanya menempelkan bibir mereka.


“Helen, kamu--.”


Plak!


...Nah lohh Kira-kira Helen kenapa tuh ya??...


...Jangan lupa tinggalin jejak nya ya....

__ADS_1


...Terima kasih 🙏💖...


__ADS_2