
Alexa mengigit bibirnya melihat Elvan lah yang kini berjalan menghampirinya. Rasa syukur hinggap dihatinya saat mengetahui Elvan lah orang yang telah menolongnya. Jika bukan Elvan, mungkin ia akan kembali ditangkap dan dibawa kehadapan pria kejam itu lagi.
Elvan duduk di samping ranjang, lidahnya terasa kelu untuk memulai percakapan. Mengapa kini semuanya terasa canggung? Mengapa Elvan tidak merasa sesenang dulu saat bertemu Alexa?
"Terima kasih, E-Elvan." Lirih Alexa pelan.
"Apa yang kam-- lo rasain?" Tanya Elvan sembari menatap wajah Alexa lekat.
Alexa tersenyum miris mendengar cara Elvan memanggilnya. Sebelumnya tidak pernah sekali pun pria itu memanggilnya dengan kata 'Lo'. Tapi mengapa sekarang? Ah, Alexa bertanya-tanya apakah Elvan sudah tidak mencintainya lagi?
"Aku baik. Tidak perlu khawatir." Alexa tersenyum lembut menatap wajah Elvan yang menurutnya semakin tampak tampan.
Syukurlah, entah mengapa Elvan merasa dirinya bereaksi aneh saat melihat Alexa. Rasanya hampir sama jika sedang berdekatan dengan Helen, tapi mengapa rasa kecewa dan amarah kini terasa hadir melingkupi hatinya? Elvan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Kamu kenapa bisa ada disini?" Tanya Alexa kikuk. Ingin rasanya ia berteriak kepada Elvan jika ia sangat marah melihat reaksi kekasihnya itu yang tampak biasa-biasa saja. Kekasih? Masih pantaskah ia mengakui Elvan sebagai kekasihnya? Alexa merasa tidak yakin.
Beribu pertanyaan berkecamuk memenuhi kepala Alexa. Namun ia sadar, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencari jawaban tersebut. Elvannya terasa berbeda, pria itu tampak kaku dan lebih pendiam, lalu tatapan itu Alexa sangat merindukan tatapan memuja dan cinta yang menyeruak saat pria itu menatapnya. Apa sebenarnya yang telah terjadi selama beberapa tahun ini? Alexa memendam perasaannya yang kini tengah terluka.
__ADS_1
"Urusan bisnis." Jawab Elvan singkat. Mengapa tiba-tiba ia merasa amarah memenuhi hatinya? Bukankah seharusnya ia senang bisa bertemu Alexa lagi? Elvan merutuki dirinya yang terasa aneh.
Alexa tersenyum tipis melihat tatapan Elvan yang terkesan sinis, padahal baru saja pria itu menatapnya dengan lembut dan penuh kerinduan. Semua ini salahnya, tidak seharusnya dulu ia pergi meninggalkan Elvan. Tapi, Alexa merasa semua ini bukan salahnya 100%. Ia punya alasan yang kuat untuk itu.
"Kamu Apa kabar? Kalau aku tidak terlalu baik, seperti yang kamu lihat sekarang ini." Dalam hati Alexa menertawakan dirinya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Hmm, gue baik." Jawab Elvan singkat. Ingin rasanya ia menyentuh wajah Alexa sekali saja, tapi hatinya melarang itu semua.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka hingga beberapa menit.
"Gue pergi dulu. Ada urusan lain yang harus gue selesaikan." Alexa mengangguk singkat menjawab pernyataan Elvan.
"Biaya rumah sakit sudah saya urus, Tuan." Ujar Rio sebelum Elvan bertanya lebih dulu.
"Hmm."
Elvan duduk di kursi panjang di depan ruangan Alexa lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Virgo. Pasti temannya itu akan kembali mengoceh panjang lebar jika tau dirinya kini sedang bersama Alexa.
__ADS_1
"Hallo Vir, gue gak bisa pulang hari ini. Gue ketemu sama Alexa. Gue akan jelasin kalau nanti udah pulang." Ucap Elvan langsung sebelum Virgo berujar.
"Bilangin sama Helen kalau gue bakalan pulang beberapa hari lagi." Elvan langsung mematikan ponselnya setelah berujar demikian.
Walaupun ia sedang kecewa dan marah dengan Alexa, bukan berarti dirinya bisa mengabaikan wanita itu begitu saja.
Jujur saja, jauh di lubuk hatinya merasa bahagia ketika bertemu kembali dengan Alexa, pujaan hatinya. Akhirnya setelah bertahun-tahun menunggu, wanita itu kembali ia temukan. Tapi dibalik itu semua, Elvan juga sedang dilanda kegelisahan. Ia menginginkan Alexa, tapi...
Elvan mengusap wajahnya. Ia sedang berpikir keras.
Alexa, Helen. Kedua gadis itu membuat bingung.
"Gak, gue gak boleh bimbang. Sejak awal kehadiran Alexa lah yang gue tunggu."
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih🙏