
08 : 00 WIB
Suasana ibu kota Indonesia seperti biasa dengan kemacetannya. Orang-orang melakukan berbagai macam aktivitas seperti biasa. Kota ini merupakan kota terpadat se-indonesia yang merupakan kota yang tidak pernah tidur. Saat berada dikota ini, kita seakan-akan lupa waktu, walaupun tengan larut malam orang-orang masih saja berkeliaran melakukan aktivitas mereka seakan tak kenal waktu untuk tidur. Saat berada di kota ini, ada satu masalah yang seakan selalu menguji kesabaran siapa saja. Kemacetannya, yang sangat terkenal bahkan sampai keluar Indonesia. Hanya untuk mencapai suatu tempat pun menjadi butuh waktu yang lama, seperti yang tengah dialami oleh seorang pria yang sedari tadi terus mengeluarkan umpatan melihat kemacetan didepannya. Suara klakson yang saling bersahutan menambah keributan daerah itu.
Rambu-rambu lalu lintas yang berada dipersimpangan jalan itu sudah menunjukkan warna hijau yang menyala, menandakan bahwa para pengguna jalan sudah bisa kembali melanjutkan perjalanan. Namun, tidak dengan pria yang sedari tadi terus mengumpat dan orang-orang di depannya juga tengah membunyikan klakson mereka berulang kali. Suara tangis dan jeritan wanita terdengar oleh pendengaran pria itu.
“Shiiitt…” umpat pria itu dalam hati. Lalu ia bertanya pada salah seorang pengguna jalan yang tidak jauh berdiri dari mobilnya.
“Dek! Di depan itu kenapa?” tanya pria itu yang berdiri dekat anak muda.
“Ada kecelakaan Mas.” Jawab pemuda itu.
Pria mengangguk lalu kembali berjalan memasuki mobilnya.
Rencanaku hari ini gagal total, batin pria itu.
Sekitar dua jam kemudian, pria itu akhirnya sampai dengan tujuan. Ia menghembuskan nafas kasar sebelum melepas seatbelt dan keluar dari mobil. Saat memasuki gedung yang yang sudah tiga tahun berada dibawah kekuasaannya, para karyawan yang melintas didepannya menyapa pimpinan mereka dengan ramah. Terutama para kaum hawa yang rela pura-pura berjalan dihadapan pria itu hanya untuk memberi sapaan. Namun, tak satu pun dari mereka yang mendapat balasan. Jangankan dapat balasan, dapat senyum pun saja tidak. Namun, hal itu tidak membuat mereka berhenti untuk menarik perhatian atasan mereka itu.
“Pagi Pak.” Sapa Wanita yang merupakan salah satu karyawan pria yang diketahui bernama Elvan. Wanita itu mengerucutkan bibirnya saat tidak mendapat respon dari atasannya.
Elvan memasuki lift yang disediakan khusus untuknya dengan berwibawa. Rahang tegas dan matanya yang tajam seperti elang membuat siapa saja yang menatap mat aitu akan merasa terintimidasi.
Elvan Xavier Bramantyo merupakan seorang CEO di perusahaan milik keluarganya yang ternama di Indonesia.
Putra pertama dari keluarga kaya raya, yang bahkan kekayaan keluarganya tidak akan habis sampai tujuh keturunan. Elvan dikenal sebagai pria dingin dan kejam. Dia tidak akan sungkan untuk menghancurkan siapa saja yang berani melawannya. Musuhnya ada dimana saja dalam dunia bisnis. Begitu pula dengan fansnya yang bertebaran entah dimana saja bahkan keluar negeri. Entah sampai kapan ia akan terus menyandang predikat sebagai pria kejam dan dingin. Mungkin dia butuh seseorang yang data menghancurkan sikapnya yang seperti ini.
__ADS_1
“Hai, Bro…” sapa Virgo yang merupakan sahabat sekaligus sekretaris pribadi Elvan.
“Lo udah sampai? Tumben.” Elvan mengabaikan sapaan Virgo dan malah menanyakan sesuatu yang sudah tidak perlu lagi.
Datang lama salah, cepat salah, batin Virgo.
“Ya iya lah, kan gue udah ada disini, lo kenapa? Masih galau?” tidak ada seorang pun yang berani berkata seperti itu padanya, apalagi sampai mengatainya tidak sehat kecuali sahabatnya ini, Virgo.
Elvan hanya diam tidak menggubris perkataan Virgo dan berlalu dari hadapan sekretarisnya itu. Ia duduk di kursi kebesarannya dan mulai mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk. Terlalu banyak berkas yang harus diperiksa dan di tanda tangani. Baru saja lima belas menit ia berkutat dengan berkasnya, suara deringan ponsel yang terletak di atas meja kerjanya.
“Hallo Mom.” Suara Elvan melembut saat bicara dengan Mommy nya.
“Iya Mom, Elvan baru sampai sekitar 15 menit yang lalu.” Ketika Elvan sedang menerima telpon suara Langkah kaki terdengar memasuki ruangannya membuat ia mengalihkan tatapannya pada suara itu.
“Mommy ada-ada saja, Elvan baru sampai, Mom.” Elvan menghembuskan nafas kasarnya lelah meladeni tingkah Mommy nya.
“Merepotkan.” Gerutu Elvan.
“Gitu banget lo bro, dosa tau ngatain emak kaya gitu. Lo mau jadi anak durhaka, hem?” Virgo yang sedari tadi memperlihatkan sahabatnya dari sofa empuk yang tengah di dudukinya mengeluarkan suara.
“Lo aja yang jadi anak durhaka.” balas Elvan.
“Emangnya ada apa?” Tanya Virgo penasaran.
Elvan hanya mengangkat bahunya, acuh.
__ADS_1
“Ngapain” sinis Elvan.
“Nganterin itu, lo tinggal tanda tangan aja.” Jawab Virgo sambil menunjuk lembaran dokumen penting yang sudah diletakan di atas meja.
“Nanti malam lo mau gak nemenin gue?” tanya Virgo.
“Kemana?” tanya Elvan balik.
“Party ulang tahunnya teman gue. Lo ikut ya?” ajak Virgo.
“Kapan?” tanya Elvan.
“Nanti malam lah.” jawab Virgo.
“Ooo” ucap Elvan.
“Ooo..?” Virgo menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Lo mau gak? Pasti disana nanti banyak cewek sexy. Mjngkin aja kita dapat satu untuk dibawa pulang.” Virgo tersenyum jahil menyindir Elvan.
“Lo pikir bungkusan nasi yang bisa dibawa pulang.” Balas Elvan.
“Gue belum tau, liat nanti malam aja." Ucap Elvan lagi.
Setelah itu ia kembali melanjutkan tugasnya yang tadi sempat tertunda. Sedangkan Virgo hanya menjawab ber oh.
__ADS_1
~BERSAMBUNG~