My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 119


__ADS_3

Happy Readingđź’–


Helen kembali memperlihatkan tulisan tersebut. Dilihat dari judulnya, ia yakin jika ini diary seseorang yang dekat dengan Daniel. Tapi siapa?


Helen menutup diary tersebut kemudian meletakkannya ke tempat semula. Saat ingin berpindah ke buku yang lain, sebuah tulisan yang ada di sampul bawah buku diary itu menarik perhatiannya.


"Daniel & Franc." Helen mengeja tulisan yang sudah mulai tidak terlihat.


"Franc? Siapa Franc? Temannya kali ya?" Tanya Helen dalam hati.


"Jadi penasaran apa isi diary ini." Bagaimana tidak, yang Helen tau Daniel itu tidak dekat dengan perempuan mana pun selain dirinya. Apa ia ketinggalan sesuatu?


"Mungkin wanita ini teman masa lalunya."


"Kalau diary ini gue ambil, bakal ketahuan gak ya?" Helen kembali memegang buku diary itu dan menentengnya sambil memutari perpustakaan mini tersebut.


Helen mengedarkan pandangan ke setiap bagian rak buku. Ruangan itu sepertinya jarang dimasuki dan diurus. Karena, ia melihat sangat banyak debu dan laba-laba di sudut celah rak tersebut.


"Bodo amat lah, yang penting rasa penasaran gue hilang. Nanti kalau udah selesai baca gue balikin ke tempat ini lagi, kan beres." Helen tersenyum sumringah dengan ide cemerlangnya.


Saat sadar dirinya sudah terlalu lama di ruangan itu, ia dengan cepat keluar sebelum Daniel memergokinya dan mencap dirinya gadis yang tidak sopan. Sebelum benar-benar keluar dari perpustakaan mini itu, Helen memasukkan diary tersebut ke dalam tas nya terlebih dahulu.


Saat hendak mendudukkan dirinya di sofa tadi, Daniel kembali dan masuk menghampirinya. Helen dibuat bernafas lega karna nya. Untung saja Daniel kembali setelah ia keluar dari ruangan itu.


"Helen, maaf ya gue lama. Kamu pasti bosen kan?" Daniel ikut duduk di sampingnya.


"Gak papa kok." Balas Helen.


"Kita berangkat sekarang ya?" Helen menatap Daniel yang duduk di sampingnya.


"Pasti, kan sekarang urusan aku udah beres, jadi kita bisa habisin waktu berdua hari ini." Daniel tersenyum penuh menatap wajah Helen.


Melihat wajah tampan Daniel yang tepat di depannya membuat hati Helen sedikit berdebar. Daniel pria yang baik, sudah sepantasnya ia membalas kebaikan pria itu. Setidaknya mereka bisa berteman dan saling membantu dalam kesulitan. Mengingat soal bantuan, Helen jadi kepikiran soal janjinya yang harus menuruti dua permintaan Daniel. Tapi sampai sekarang pria itu belum mengutarakan apa yang ia inginkan.


"Awww! Ih sakit tau!" Kesal Helen setelah Daniel menyentil keningnya.


"Kamu sih kebanyakan melamun. Jadi pergi gak nih?" Tanya Daniel.

__ADS_1


"Ya jadilah, sia-sia dong gue nungguin lo dari tadi kalo ujung-ujungnya gak jadi pergi." Ujar Helen dengan wajah sebalnya.


"Uluh-uluh, jangan ngambek dong. Bibirnya jangan dimajuin gitu nanti gue cium nih." Ujar Daniel menggoda Helen.


"Ih, ogah gue." Helen langsung mengulum bibirnya dan beranjak dari duduknya.


"Buruan, kok masih duduk?" Kesal Helen saat melihat Daniel malah duduk dengan santai dan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


"Hehehe ternyata kamu cerewet juga ya."


"Gak nyambung." Helen memutar bola matanya jengah.


Daniel yang melihat itu tergelak lalu beranjak dari duduknya dan keluar mengikuti Helen yang sudah meninggalkannya.


Hari ini Daniel akan membuat Helen bahagia karenanya. Ia berjanji akan selalu berada di samping gadis itu walaupun cintanya tidak terbalas nantinya. Daniel benar-benar sudah mantap dengan perasaannya dan ia akan berjuang keras demi cintanya.


Mulai detik ini, hari ini, Daniel akan selalu menjadi alasan Helen untuk tersenyum.


Mereka menghabiskan waktu berdua dengan awal yang tak terduga.


---


Elvan membuka pintu rumahnya dengan kasar. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini. Dari tadi pagi ia mencari keberadaan Helen dan Daniel dengan mengendarai mobilnya seorang diri, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Ia tidak menemukan keberadaan mereka. Elvan menghempaskan dirinya di sofa yang berada di ruang tamu. Rahangnya sedari tadi sudah mengeras. Elvan mengusap rambutnya dengan kasar. Helaan nafas keluar dari bibirnya diiringi dengan terbukanya kelopak mata yang tadi ia pejamkan. Tatapan membunuh langsung terpancar dari mata tajam itu.


"Kemana kamu Helen? Kamu benar-benar menguji kesabaran ku." Desisnya tajam.


"Kita lihat aja, sampai kapan kamu akan bertahan seperti ini, mendiamkan aku dan tidak menganggap keberadaan ku." Lanjutnya lagi.


Elvan kembali mengusap rambutnya kasar. Setelah itu ia bangkit dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.


Sekitar dua jam kemudian, Elvan baru keluar kamar setelah melakukan beberapa ritualnya. Hari sudah gelap dan Helen masih belum pulang. Elvan menuruni anak tangga lalu memasuki dapur. Dirinya makan malam seorang diri lagi hari ini. Ada dan tidak ada nya Helen di rumah, Elvan akhir-akhir ini selalu menghabiskan makanannya tanpa ditemani siapa pun. Walaupun terasa berat, Elvan sudah mulai terbiasa. Selesai dengan makan malamnya, ia termenung di ruang tamu. Memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan agar Helen kembali seperti dulu. Bersikap manis dan selalu banyak bicara. Elvan benar-benar rindu dengan istrinya yang dulu.


Elvan termenung cukup lama hingga ia mendengar deru mobil dari luar. Ia langsung berdiri dari tempatnya dan melihat apa yang terjadi di depan rumahnya dari jendela yang berada di samping pintu.


Dari tempatnya berdiri, Elvan melihat Helen keluar dari mobil lalu disusul oleh Daniel. Mereka tampak sedang mengobrol. Disana Elvan melihat Helen yang tersenyum manis kepada pria itu. Senyum yang tidak pernah lagi ia lihat selama beberapa hari ini. Melihat interaksi keduanya membuat amarah Elvan yang tadinya sudah terkubur kembali tersulut. Elvan merasa perih di hatinya melihat Helen yang gampang tersenyum kepada orang lain. Terlebih kepada Daniel, Elvan tidak suka itu.


Entah siapa yang harus disalahkan antara Helen dan Elvan. Yang satu mencoba memperbaiki keadaan, sedangkan yang satunya lagi ingin memberi pelajaran agar sang pria sadar betapa berharganya sebuah hubungan. Helen ingin agar Elvan sadar kalau dirinya sudah sangat bergantung padanya, agar Elvan sadar siapa sebenarnya wanita yang pantas untuknya antara dirinya atau Alexa, agar Elvan tau bagaimana rasanya berjuang dan bertahan seorang diri dan supaya Elvan paham bagaimana sakitnya diabaikan dan tidak dianggap. Helen ingin membalas itu semua. Sampai Elvan sadar dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

__ADS_1


Setelah membuat luka yang lebar di hati Helen, Elvan sangat pantas mendapatkan itu semua. Sakit hati Helen belum sebanding dengan apa yang Elvan rasakan kini.


Elvan melihat pintu di sampingnya di dorong bersamaan dengan perginya mobil Daniel dari depan halaman rumah.


"Baru pulang?" Ujarnya sambil melihat Helen yang belum menyadari keberadaannya.


Helen yang baru saja tiga langkah memasuki rumah di buat terkejut dengan suara Elvan yang tiba-tiba. Tidak berselang lama, ia langsung memasang tampang datarnya, tanpa ekspresi lalu berbalik melihat Elvan.


"Kenapa baru pulang?" Walaupun amarah sudah memenuhi hati dan pikirannya, Elvan tetap bertanya dengan lembut kepada Helen.


"Gak papa." Jawab Helen.


Elvan menatap Helen lekat. Selalu seperti ini, jawaban singkat yang tidak menjelaskan apapun.


"Kamu udah makan?" Elvan tetap peduli dengan kesehatan Helen.


Helen melihat jam di tangannya.


"Menurut kamu?" Tanya Helen balik. Sudah pasti dirinya sudah makan malam bersama Daniel.


Elvan mangut-mangut.


"Kamu capek kan? Mau aku pijitin?" Tanyanya lalu mendekati Helen.


"Sini tasnya, biar aku bawain." Tanpa persetujuan dari Helen, Elvan mengambil tas yang terletak di bahu gadis itu lalu menentengnya.


Helen yang melihat perlakuan Elvan hanya diam dan menunggu aksi pria itu selanjutnya.


“Ayo!” ajak Elvan kemudian menuntun Helen hendak ke kamar mereka.


“Aku bisa sendiri.” Helen menolak sentuhan tangan Elvan lalu berjalan cepat menuju kamar mereka.


Elvan menatap punggung Helen dengan teduh. Semuanya telah berubah. Selama ini Helen yang selalu ingin melakukan kontak fisik dengannya, tapi sekarang tidak. Istrinya itu bahkan tidak mau disentuh walaupun hanya di bagian tangan.


“Gue emang pantes dapat perlakuan seperti ini.” Ucap Elvan.


Elvan kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti dan menyusul Helen yang mungkin sudah masuk ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terima kasih


__ADS_2